Modernisasi Duniawi dan Sekularisme Batak

Proses Modernisasi Duniawi Gereja Batak

 
0
78
Hita Batak A Cultural Strategy, Pustaha sijahaon ni halak na bisuk jala marhaporseaon (Buku bacaan orang bijak dan beriman)

Ciri yang paling mencolok dari kehidupan religius modern, termasuk Gereja-gereja Batak, adalah hancur-leburnya pemahaman pemisahan antara yang sakral dan sekuler, agama dan sekularisme, Gereja dan dunia. Itulah pergumulan stagnan Gereja Batak, dalam gulungan kitab nabi, Taurat, katekismus, yang ‘diwariskan’ para misionaris dalam berbagai kepentingan dan aktualisasi diri yang bahkan seringkali bernuansa sekuralitas atau kekuasaan hukum duniawi dari organisasi keagamaan (Gereja Batak).

Oleh Ch. Robin Simanullang (The Batak Institute)

Faktanya adalah paten, sangat sulit terbantahkan. Profesor John Wright Buckham (1906) mengemukakan hal yang sama dalam Christ and the Eternal Order (Kristus dan Tatanan Kekal), bab The Kingdom of Christ.[1] Hal yang hari ini juga merupakan fakta paten dalam kehidupan religius jemaat dan Gereja-gereja Kristen Batak. Tricita Batak (Hagabeon, Hamoraon dan Hasangapon) yang semula esensinya lebih bernilai moral luhur dan bersifat religius, menjadi kehilangan keluhuran nilai budaya dan religiusitasnya, berubah murni sekuler dengan berbagai dampak ‘kemegahan’ duniawinya yang menyesatkan; Sarat gulungan doktrin kitab nabi yang terdistorsi, membentang laksana ikatan rantai emas palsu yang berkilau, namun tak berharga, tersesat dari keselamatan yang hanya ada di Jalan, Kebenaran dan Hidup. Satu-satunya Jalan Keselamatan yang terpisah (terbedakan) dari jalan dunia.

John Wright Buckham menguraikan dengan sangat indah:

“Ketika jiwa yang sungguh-sungguh dan jeli melihat ke dunia tentang dirinya dan mencoba mengukur status moral dan spiritualnya, ia menjadi sangat bingung. Dia bertemu dengan kebingungan yang tak terpisahkan, kebenaran dan ketidakbenaran yang saling bercampur, keegoisan dan tidak mementingkan diri sendiri, iman dan ketidakberimanan, yang membuat dia bingung. Terkadang dia optimis dan penuh dengan harapan; kadang-kadang dia tergoda untuk mengulangi keputusan yang keras dan serius dari John Henry Newman: “Jika saya melihat ke cermin dan tidak melihat wajah saya, saya seharusnya memiliki perasaan yang sama yang sebenarnya muncul pada saya, ketika saya melihat ke dalam dunia yang hidup, sibuk dan tidak melihat refleksi dari Penciptanya! Pemandangan dunia tidak lain adalah gulungan kitab nabi, penuh dengan ratapan, dukacita dan kesengsaraan. Ini adalah jeritan yang sungguh-sungguh dari jiwa yang sangat cemburu kepada Tuhan, namun bagaimanapun juga ini adalah penghakiman yang sempit. Ia gagal memperhitungkan kebaikan yang ada di dalam kehidupan dunia, mengalir seperti urat emas yang berkilau melalui lapisannya yang tidak berharga. Emas itu tidak ditambang dan mungkin tidak dapat dipasarkan secara gerejawi, tetapi tetap ada, dan – meskipun stempelnya mungkin belum ada di atasnya – itu adalah milik Tuhan”.[2]

Ds. W. J. J. Velders (1932) dalam Jezus Christus en het Volkerenleven menyebut Budaya Barat telah merambah hampir di mana-mana dan banyak budaya asli telah runtuh, tetapi dengan itu gerakan sekularis telah masuk. Karena agama pagan terhubung dengan budaya, dan ketika budaya berubah, menjadi sekular, agama mengikuti. Saekularisasi tidak hanya terjadi dalam kekristenan, juga dalam paganisme.[3]

Proses Modernisasi Duniawi Gereja Batak

Gereja Batak telah mencapai modernisasi kemajuan dunia Barat, bahkan sampai ke tingkat perburuan keserakahan, kegermelap­an, kesombongan dan keangkuhan kegemerlapan dunia; dan mengarah menghadirkan egoisme dan kepentingan diri sendiri ke kasta paling gila. Kehilangan kodrati illahi, kehilangan karakter, moral, pasifisme dan spiritualitas kesaksian empiris Jalan, Kebenaran dan Hidup, didistorsi dan dimisinformasi, diselewengkan dan dikaburkan ‘perang suci’, narasi doktrin gereja sekuler, narasi khotbah dan doa aksesoris, bahkan narasi khotbah dan doa sekuralisasi. Sangat syukur jika hal ini terbantahkan, baik dalam diri pribadi personal maupun kelompok tertentu secara empiris.

Hal ini merupakan penyakit bawaan yang semula ditandai mutual simbiosis misi Gereja dengan penguasa kolonial (sekuler), sebagaimana disebut Dr. Solf dalam Reichstag: “Kolonisieren ist Missionieren” umkehren in “Missionieren ist Kolonisieren” (Kolonisasi adalah Misi” sebaliknya “Misi adalah Kolonisasi”.[4]  juga seperti disebut Dr. Christiaan Snouck Hurgronje (1915) dalam Majalah Belanda De Gids, 1915, No.I, berjudul “De Heilige Oorlog Made in Germany” (Perang Suci Buatan Jerman).[5]  Sekularisasi misi Gereja ala Barat.

Sekularisme muncul seiring dengan perkembangan sains. Lalu, menurut Sir Richard Gregory (1940) dalam Religion in Science and Civilization, agama dan sains adalah dua faktor utama yang telah mempengaruhi perkembangan manusia di semua tahap peradaban: agama sebagai reaksi terhadap dorong­an batin tentang apa yang dianggap sakral dan menimbulkan kekaguman atau penghormatan, dan sains sebagai akumulasi pengetahuan dari sifat benda-benda alam — hidup dan mati — dalam kaitannya dengan kebutuhan manusia, dan pemaham­annya tentang mereka melalui penggunaan kecerdasannya. Yang satu mewakili sisi emosional dari kodrat manusia, seperti yang diekspresikan dalam ritual keagamaan, seni dan sastra; yang lain — juga hasil dari dorongan batin — adalah konstruksi gambaran mental yang memberikan bentuk yang dapat diterima untuk apa yang diketahui, pada setiap tahap penyelidikan, tentang sifat dan asal mula segala sesuatu, yang terlihat dan yang tidak terlihat. Dalam studi tentang langit dari dua sudut pandang pengabdian atau penyembahan dan penyelidikan inilah agama dan astronomi bertemu di bidang angkasa.[6]

Advertisement

Ketika agama dipelajari sebagai ekspresi dari sifat manusia, tidak ada konflik antara agama dan sains. Salah satunya adalah ekspresi naluri untuk persekutuan dengan Kekuatan Unggul; yang lainnya adalah semangat untuk menyelidiki semua hal yang terlihat dan tidak terlihat di alam semesta. Keberadaan sisi kodrat manusia sebagaimana tercermin dalam agama tidak dapat dikatakan dijelaskan oleh sains, namun kenyataannya bersifat universal. Proses di mana manusia menjadi makhluk moral dan etis dengan kehidupan spiritual mungkin berbeda dengan proses di mana makhluk hidup lainnya telah maju dalam kesempurnaan atau organisasi (sains). Sementara, sains berkaitan dengan kemajuan pengetahuan dan evolusi manusia tidak hanya di masa lalu tetapi juga di masa kini dan masa depan. Muncul pertentangan dengan agama.[7]

Sir Richard Gregory mengatakan manusia sebagai makhluk fisik hanyalah bagian mikroskopis dari alam semesta, namun pikirannya selalu membawanya ke atas, dan dengan semangat yang berani dan tak terkalahkan ia berusaha mencapai puncak Gunung Olympus. Ruang tak terbatas tersisa untuk merendahkan harga dirinya meskipun dia telah memperoleh pengetahuan tentang langit berbintang; namun dia melanjutkan penyelidikannya ke hal yang tidak diketahui, dan anak-anaknya akan melanjutkan pencarian. Inilah semangat ilmu pengetahuan yang abadi yang dirasakan oleh Sir Isaac Newton ketika berkata: “Saya tidak tahu bagaimana penampilan saya di dunia, tetapi, bagi diri saya sendiri, saya tampaknya hanya seperti anak laki-laki yang bermain di pantai, dan sesekali mengalihkan diri saya untuk menemukan kulit yang lebih halus atau cangkang yang lebih cantik dari biasanya, sementara samudra kebenaran yang luas terhampar di hadapanku”.

Kerendahan hati pemahaman yang sama diungkapkan oleh salah satu ilmuwan terbesar, Sir Joseph Thomson, dalam kata-kata: “Saat kami menaklukkan puncak demi puncak, kami melihat di depan kami kawasan yang penuh dengan minat dan keindahan, tetapi kami tidak melihat tujuan kami, kami tidak melihat cakrawala; di kejauhan menara masih puncak-puncak yang lebih tinggi, yang akan menghasilkan bagi mereka yang mendaki, mereka memiliki prospek yang lebih luas, dan memperdalam perasaan, yang kebenarannya ditekankan oleh setiap kemajuan ilmu pengetahuan, bahwa ‘Hebat adalah Pekerjaan Tuhan.’ Inilah roh tentang kebenaran yang selalu memandang ke depan dan ke atas yang memberi manusia posisi khusus di atas bola dunia yang hanyalah sebuah partikel di antara benda-benda yang tak terhitung banyaknya di hamparan alam semesta material yang tak terukur.[8]

Bryan S. Turner (2011) dalam Religion and Modern Society; Citizenship, Secularisation and the State, dalam pendekatan terhadap sosiologi agama, dan sosiologi secara lebih umum, sangat dipengaruhi oleh kontribusi intelektual Alasdair MacIntyre, yang merupakan sosiolog dan filsuf, dan menggabungkan wawasan sejarah dengan kritik politik. Pendekatannya terhadap definisi agama dan yang sakral, dan proses sekularisasi dan desekularisasi yang luas, dapat dianggap sebagai upaya untuk menggabungkan warisan sosiologis Durkheim dengan kecemerlangan filosofis MacIntyre. Baik bagi Durkheim dan MacIntyre, memandang sekularisasi melibatkan pengenceran karakter kolektif dan emosional dari praktik keagamaan bersamaan dengan erosi komunitas oleh modernisasi. Dalam modernitas, ada erosi yang tak terhindarkan dari otoritas kepercayaan kolektif agama dan ketidakpastian yang lebih besar tentang praktik keagamaan, karena individu menjadi lebih refleksif tentang prinsip-prinsip klasifikasi yang mendasari­nya. Akar sosial dari keyakinan perlahan-lahan dihancurkan oleh pertumbuhan individualisme modern dan oleh teknologi komunikasi yang melewati hubungan sosial yang tertanam.[9]

Mengapa ada kebangkitan agama di ruang publik? Mengapa bentuk nasionalisme religius menjadi begitu lazim? Menurut Turner, satu jawaban adalah bahwa kosmologi dan simbolisasi agama memiliki kekuatan kolektif yang tidak sepenuhnya tersedia bagi sistem ideologis humanisme, komunisme, dan nasionalisme. Sebaliknya, agama memungkinkan suatu komunitas nasional untuk mengungkapkan sejarahnya dalam mitos yang mengakar atau masa sakral seolah-olah sejarah nasional itu memiliki makna universal, yaitu mengungkapkan sejarah mitis suatu bangsa dalam bentuk kisah penderitaan dan kelangsungan hidup tentang kemanusiaan secara keseluruhan. Implikasinya adalah bahwa kehidupan sosial tidak pernah bisa menjadi pengaturan yang sepenuhnya sekuler.[10]

Paul Verghese (1967) dalam Dialogue with Secularism me­nyebut Sekularisme, seperti Manusia Salju yang Keji, tampak­nya sulit ditemukan baik dalam contoh aktual atau dalam klasifikasi teoretis. Salah satu upaya untuk mendefinisikannya terdapat dalam artikel Charles West, yang menyebut sekularisme adalah struktur kepercayaan, diartikulasikan atau tersirat, tentang alam, manusia, sejarah dan budaya, peduli dengan “dunia ini dan bukan yang lain”, optimis tentang manusia dan kemungkinan tak terbatas, tidak harus anti-agama, sering kali bersedia menggunakan agama sebagai alat untuk menciptakan budaya atau mempromosikan identitas kelompok.[11]

Sekularisme atau sekularisasi yang merupakan fenomena khas dalam dunia Kristen, antara lain dengan kepentingan politik suatu negara (kekuasaan, kolonial) dengan gereja. Sesungguhnya, seperti disebut Bernard Lewis (What Went Wrong), pemikir politik paling berpengaruh di Amerika Serikat sesudah berakhirnya Perang Dingin, bahwa “Sejak awal mula, kaum Kristen diajarkan, baik dalam persepsi maupun praktis, untuk memisahkan antara Tuhan dan Kaisar dan dipahamkan tentang adanya kewajiban yang berbeda antara keduanya.[12]

Namun, menurut Paul Verghese, ketika pemisahan (pen: ekstrim) berkembang, dua penyimpangan dalam pemikiran Kristen menjadi kokoh. Pertama, keselamatan sekarang harus dibatasi hanya untuk manusia, dan bukan pada ciptaan lainnya. Kedua, wahyu menjadi bidang yang sama sekali tidak bergantung pada semua pengetahuan manusia lainnya, seperti yang kita temukan dalam bentuknya yang agak ekstrem dalam pemikiran Karl Barth. Jeda ganda ini — antara manusia dan alam semesta di satu sisi, dan antara alam dan alam super di sisi lain — adalah penyebab utama sekularisme modern. Sekularisme atau sekularisasi dengan demikian bukanlah akibat langsung dari Injil, tetapi lebih merupakan konsekuensi dari mengaburkan Injil Inkarnasi dalam budaya Barat.[13]

Atau dengan kata lain distorsi Injil. Sejarah Gereja (Eropa) mencatat penyimpangan ekstrim (distorsi Injil), terutama dengan merestui ‘perang yang adil’ atau perang suci dan berpuncak dengan Perang Salib, serta ekspansi kolonisasi Eropa (Kristen) ke berbagai penjuru dunia. Leo Tolstoi (1902) dalam What is Religion? menarasikan hal ini dengan kalimat berikut: “Bangsa-bangsa Kristen telah menaklukkan dan menundukkan Indian Amerika, Hindu, Afrika, sekarang menaklukkan dan menundukkan Cina (Asia), dan mereka bangga akan hal ini. Tetapi penaklukan dan penguasaan ini terjadi bukan karena negara-negara Kristen lebih unggul secara spiritual daripada yang ditaklukkan, tetapi sebaliknya karena secara spiritual mereka jauh lebih rendah”.[14]

Tolstoi mengatakan Gereja yang bersatu dengan kekuasaan, selalu menggunakan kekerasan, kekerasan tersembunyi. Gereja harus bebas dari semua pengaruh kekuasaan dan moneter. Pemerintah dan kelompok penguasa tidak dapat hidup tanpa penyimpangan agama Kristen, yang disebut Iman Gereja. Gereja dengan tipu muslihatnya tidak bisa hidup tanpa bantuan paksaan langsung atau tidak langsung dari pihak pemerintah dan penguasa.[15] Menurut Tolstoi, hanya kekristenan yang benar dan bebas, yang tidak terhalang oleh institusi duniawi mana pun, dan karena itu tidak takut pada apa pun dan kepada siapa pun, dan karena tujuannya hanya pengetahuan yang lebih besar dan lebih hakiki tentang kebenaran Ilahi dan perwujudannya yang semakin besar dan lebih bermakna dalam hidup.[16]

John Wright Buckham mengatakan, sekarang kita melihat bahwa dia dapat memenangkan yang ideal hanya di dunia, karena dia menemukan Tuhan dalam tugas dan pengalamannya yang paling umum dan memenuhi seluruh bidang kehidupan dengan usaha untuk menemukan kehadirannya dan mewujudkan kehendaknya. Namun seberapa jauh kita dari Kerajaan Allah! Pengaduan dunia kuno dan pahit bahkan sekarang berbicara sebagian kebenaran. Betapa basahnya bisnis, bisnis yang seharusnya menjadi sarana dan alat pergaulan dan persekutuan manusia; betapa egoisnya perdagangan, betapa politiknya terkenal, betapa sastra yang mementingkan diri sendiri dan tidak mengasyikkan, betapa masyarakat yang dibuat-buat, betapa Gereja tidak sempurna dan duniawi! Seberapa dekat Kerajaan Allah, namun seberapa jauh?[17]

Manusia, sejak Adam, gagal mewujudkannya. Sifat manusia terlalu impoten dan terlalu lemah untuk berhasil dengan sendiri­nya. Tidak ada kekuatan dan keabadian yang bisa datang dalam penebusan sosial selama kita terus menjadikan Tuhan sebagai Tambahan, Asisten, Pendukung kemanusiaan dalam perjuangan untuk kemajuan, dan dari Kristus hanya sebagai Guru, Tipe, Penolong, untuk kita, titik. Ini adalah peninggian diri manusia, penghinaan terhadap Yang Ilahi, penyimpang­an dari tatanan kekal, yang hanya dapat mengakibatkan kesia-siaan dan bencana. Hanya sikap iman, kerendahan hati, dan pelayanan yang pantas bagi manusia, yang dapat mempersiapkan dirinya untuk bagiannya, sebagai hamba Tuhan, dalam mendatangkan Kerajaan yang ditahan Tuhan hanya karena manusia tidak siap menerimanya.[18]

Dalam konteks ini, sudah berada di mana posisi Gereja Batak dan jemaatnya? Apakah sudah berada dalam lajur proses linear, melangkah demi langkah, dari satu titik ke titik baru, menapaki Jalah, Kebenaran dan Hidup, menuju Orde Hidup Baru, atau masih asyik dan hiruk-pikuk dalam perjalanan gempita jubileum siklus ritual-spiritual sekular yang takkan kunjung tiba di Kerajaan Allah? Tuhan, bukan manusia, adalah Pencipta Kerajaan (Author of the Kingdom). Jika manusia telah memimpikannya, menggambarkannya, memperjuangkannya, itu hanya karena Tuhan telah memberinya penglihatan, memberinya motif, memberinya kekuatan. Dan jika Tuhan adalah Pencipta dan Akhir Kerajaan, Tuhan di dalam Kristus adalah Jiwanya.[19] Amanat pasifis Kristus, satu-satunya jalan. Kembalilah menempuh jalan, kebenaran dan hidup itu.

John Wright Buckham menguraikan bahwa kehidupan dan pemikiran Kristen mula-mula adalah Kristosentris. Bagi para murid, Yesus adalah segalanya. Paulus menemukan di dalam Kristus tidak hanya gairah yang menyerap dalam hidupnya, tetapi kekuatan Tuhan, dan hikmat Tuhan, untuk keselamatan. Tetapi dengan bangkitnya Kekristenan Barat, doktrin sentralitas Kristus tenggelam. Otoritas Gereja dalam Katolik, dan Alkitab dalam Protestantisme, pasti mengaburkan supremasi Kristus. Baru setelah, melalui agen gabungan filsafat, sains, dan kritik Alkitab, kekristenan dibebaskan dari belenggu otoritas, suatu hari fajar untuk rekonstruksi kristologi gratis, dan penegasan kembali iman kristosentris.[20]

W. Hastie, penerjemah dan editor buku Frédéric Lichtenberger (1889) History of German Theology in the Nineteenth Century (Sejarah Teologi Jerman di Abad Kesembilan Belas) mengatakan pada abad ke-19, seperti pada abad ke-16, Jerman telah menjadi jantung dan kepala yang hidup dari teologi Protestan progresif. Di negara-negara lain tradisi Kristen telah dipelihara dengan teguh dan agak dimurnikan dan spiritual, tetapi di tanah Luther dan Melanchthon, dan bahkan lebih dari di zaman Reformasi, semangat religius sejak awal abad menyadari kebebasan Kristennya dan menunjukkan kekuatan esensialnya. Akibatnya, perkembangan teologi dan evolusi pemikiran keagamaan di Jerman sebagian besar telah menjawab kebutuhan zaman, dan telah menghadirkan tontonan kemajuan yang, jika dilihat secara keseluruhan, tidak memiliki saingan atau pendekatan di tempat lain. Secara keseluruhan, perkembangan teologi Jerman seperti yang diperlihatkan dalam hasil-hasilnya yang mendalam, tajam, dan subur, harus dianggap sebagai salah satu elemen yang paling menonjol, berpengaruh, dan khas dalam karya spiritual abad ini.[21]

Mereka dengan hormat mengakui Pribadi Kristus sebagai pusat yang menarik dan mempersatukan dari semua pemikiran dan pengabdian mereka, dan telah membuat kehidupan kreatif asli Zaman Kerasulan hidup baru sebagai panduan dan inspirasi dari upaya terbaik mereka sendiri. Mereka bahkan telah menciptakan ilmu-ilmu teologi baru yang dengan cepat tumbuh menjadi anggota yang paling kuat dalam organisme teologi, dan telah mengembangkan formula ilmiah baru untuk semua kemungkinan empiris dari kehidupan Gereja yang berkembang. Dan, akhirnya, dengan sumber daya universal filsafat mereka telah menjelajahi hubungan semua elemen pemikiran dan kehidupan Kristen dengan semua potensi intelektual dan spiritual lainnya dari pikiran dan ras manusia, dan dengan demikian telah merangkul seluruh sejarah perkembangan agama dan kemanusiaan dalam sains mereka.[22]

Diketahui bahwa jika teologi Jerman menyajikan banyak hal yang rasionalistik dan destruktif, pada saat yang sama ia melengkapi senjata terkuat dan paling tajam yang dapat digunakan untuk memerangi ketidakpercayaan fundamental, dan penyimpanan yang hampir tak habis-habisnya dari semua bahan dan peralatan terpelajar yang dapat digunakan kepada para ahli Kitab Suci dan para pembela iman.[23]

Mereka menunjukkan penerapan energi tertinggi dari pikiran modern, dalam semangat bebas Protestan, untuk penyelidikan dan pemahaman tentang apa yang paling penting dalam agama Kristen dan paling penting dalam agama. Teologi Jerman tidak pernah lebih hidup untuk keilahian fakta, untuk nilai dunia umum, dan untuk hukum praktis tugas daripada saat ini; itu tidak pernah lebih dimaksudkan untuk membawa kehidupan dan keabadian menjadi terang, dan menegaskan kekuatan dan kenyamanan jiwa manusia; juga tidak pernah terletak lebih dekat ke inti Kitab Suci, atau menunggu dengan lebih setia pada bimbingan roh Kristus, dalam perwakilannya yang paling bersungguh-sungguh dan progresif.[24]

Apa yang dinarasikan W. Hastie, mengapresiasi Frédéric Lichtenberger tentang Sejarah Teologi Jerman di Abad Kesembilan Belas itu, teraplikasikan di Tanah Batak: “tidak pernah terletak lebih dekat ke inti Kitab Suci, atau menunggu dengan lebih setia pada bimbingan roh Kristus;” walaupun tidak hitam-putih, Injil ‘terdistorsi’ di Tanah Batak! Justru yang lebih menonjol di Tanah Batak adalah seperti digambarkan Christiaan Snouck Hurgronje (1915) dalam “De Heilige Oorlog Made in Germany” (Perang Suci Buatan Jerman) tentang kebijakan perang suci Kristen Jerman menghadapi perang suci Islam Turki.[25] Perang suci buatan Jerman itu tampaknya sangat merasuki semangat juang Nommensen dan para misionaris Jerman lainnya, dalam mempermudah (jalan pintas) proses mengkristenkan orang Batak. (Dari Buku Hita Batak A Cultural Strategy Jilid 3). Informasi selengkapnya: Hita Batak a Cultural Strategy.

Footnote:

[1] Buckham, John Wright, 1906: Christ and the Eternal Order; Boston: The Pilgrim Press, p.166.

[2] Buckham, John Wright, 1906: p.166-167.

[3] Velders, W. J. J., Ds., 1932: Jezus Christus en het Volkerenleven; bl.202.

[4] Paczensky, Gert von, 1991 (2000): s.224.

[5] Hurgronje, C. Snouck, Dr., 1915: The Holy War Made in Germany.

[6] Gregory, Sir Richard, 1940: Religion in Science and Civilization; London: Macmillan & Co. Ltd., p.1.

[7] Gregory, Sir Richard, 1940: p.2-4.

[8] Gregory, Sir Richard, 1940: p.7.

[9] Turner, Bryan S., 2011: Religion and Modern Society; Citizenship, Secularisation and the State; Cambridge, New York, Melbourne, Madrid, Cape Town, Singapore, Sao Paulo, Delhi, Dubai, Tokyo, Mexico City: Cambridge University Press, p.xxvii.

[10] Turner, Bryan S., 2011: p.xxvii.

[11] Verghese, Paul, 1967: Dialogue with Secularism; in Inter-Religious Dialogue (Singh, Herbert Jai, Ed.); Bangalore: The Christian Institute for The Study of Religion and Society (CISRS), p.225.

[12] Lewis, Bernard, 2002: What Went Wrong? The Clash Between Islam and Modernity in the Middle East; Oxford & New York: Oxford University Press, p.113.

[13] Verghese, Paul, 1967: p.228.

[14] Tolstoi, Leo N., 1902: What is Religion? p.22.

[15] Tolstoi, Leo N., 1902: p.56-58.

[16] Tolstoi, Leo N., 1902: p.58.

[17] Buckham, John Wright, 1906: p.169.

[18] Buckham, John Wright, 1906: p.171.

[19] Buckham, John Wright, 1906: p.171-172.

[20] Buckham, John Wright, 1906: p.177-178.

[21] Lichtenberger, Frédéric, 1889: History of German Theology in the Nineteenth Century (Translated and Edited W. Hastie); Edinburgh: T.&T. Clark, p.v.

[22] Lichtenberger, Frédéric, 1889: p.vi-vii..

[23] Lichtenberger, Frédéric, 1889: p.xi.

[24] Lichtenberger, Frédéric, 1889: p.xxiv-xxv.

[25] Hurgronje, C. Snouck, Dr., 1915: The Holy War Made in Germany.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here