Page 5 - Majalah Tokoh Indonesia Edisi 02

Basic HTML Version

5
Tokoh
Indonesia, Volume 02
Dr. Nurcholish Madjid, disapa Cak
Nur, merupakan ikon pembaruan pemi-
kiran dan gerakan Islam di Indonesia. Ia
cendekiawan muslim milik bangsa.
Gagasan tentang pluralisme telah
menempatkannya sebagai intelektual
muslim terdepan. Terlebih di saat
Indonesia sedang terjerumus di dalam
berbagai kemerosotan dan ancaman
disintegrasi bangsa. Namanya kini
semakin mencuat sebagai salah seorang
kandidat calon presiden Pemilu 2004.
Saking banyaknya permintaan dan
pertanyaan tentang kesediaannya
dicalonkan jadi presiden atau wakil
presiden, akhirnya Senin 28 April 2003,
sehari sebelum Rapim Partai Golkar, ia
telah menyatakan secara terbuka kese-
diaannya untuk menjadi calon presiden.
Dalam jumpa pers di Kampus
Universitas Paramadina, Jakarta, yang
diselenggarakan secara khusus untuk
itu juga sekaligus dijelaskan platformnya
terdiri dari 10 hal, yaitu mewujudkan
good governance
, supremasi hukum,
rekonsiliasi nasional, reformasi
ekonomi, pemerkuatan pranata
demokrasi, peningkatan ketahan-
an dan keamanan nasional,
pemeliharaan keutuhan wilayah
negara, peningkatan mutu
pendidikan, keadilan sosial, dan
penciptaan perdamaian dunia.
"Saya, insya Allah bersedia.
Kalau saya bilang iya, itu
soft
yes
. Saya tidak mau memupus
harapan," ujar Rektor Universitas
Paramadina itu. Ia menegaskan
bahwa pendekatan yang
dilakukan adalah platform, bukan
dirinya pribadi. Jadi ia mendahu-
lukan platform, bukan orang.
Dalam kesempatan berikut-
nya, perihal pernyataan kesedia-
annya untuk dicalonkan, ia
mengatakan tidak harus semata-
mata dikaitkan dengan urusan
pemilihan presiden 2004. Yang
lebih penting dari itu adalah agar
makin banyak orang yang terlibat
dalam memikirkan format bangsa
yang dikehendaki. Menurutnya,
untuk menyuarakan hal itu, kadang kala
perlu
loudspeaker
. Baginya, mencalon-
kan diri adalah upaya menjadi pengeras
suara. "Soal kalah menang, saya tidak
urusan," ujarnya tanpa beban.
Ia juga mengatakan tidak akan
mendekati kelompok-kelompok tertentu.
Namun, ia akan menunjukkan
platformnya kepada kelompok yang
mendekatinya. Ia akan tanya, "Setujukah
dengan platform ini? Kalau tidak,
no
way.
Kalau tidak, saya lebih suka di sini
mengajar mahasiswa-mahasiswa,"
ucapnya. "Maaf saja, memang angkuh
betul. Tapi hanya dengan keangkuhan
ini Indonesia bisa beres nanti."
Ia mengatakan, berbagai hal
berkaitan dengan pencalonannya masih
dalam proses yang sangat lunak dan
masih
unpredictable
(tak bisa diprediksi-
kan). Hal yang penting, menurutnya,
semua pihak harus mengambil peranan
aktif dalam meneruskan atau memba-
ngun kembali Indonesia, di luar atau di
dalam pemerintahan.
"Kalau di dalam, harus berani meng-
ambil inisiatif tingkat tinggi. Jadi, me-
mang bukan
strong man
, tetapi
strong
governance
. Sebab, kalau
strong man
,
nanti mudah sekali tergelincir kepada
kediktatoran. Tetapi, kalau di luar,
harus berani mengambil kedudukan
sebagai oposisi tingkat tinggi," katanya.
Karena itu, ia tetap akan maju, bukan
semata-mata untuk menang menjadi
presiden, melainkan untuk memasarkan
dengan kuat platformnya. Dalam jumpa
pers itu, ia tidak mengungkapkan partai
mana saja yang sudah melakukan
pendekatan kepada dirinya. Namun,
yang jelas beberapa elit partai sudah
mendekatinya, di antaranya Partai
Golkar. Diperkirakan, ia akan menjadi
salah seorang calon presiden terkuat.
Cak Nur lahir dan dibesarkan di
lingkungan keluarga kiai terpandang di
Mojoanyar, Jombang, Jawa Timur, pada
1939. Ayahnya, KH Abdul Madjid,
dikenal sebagai pendukung Masyumi.
Setelah melewati pendidikan di berbagai
pesantren, termasuk Gontor, Ponorogo,
dan menempuh studi kesarjanaan IAIN
Jakarta (1961-1968), tokoh HMI ini
menjalani studi doktoralnya di Universi-
tas Chicago, Amerika Serikat (1978-
1984), dengan disertasi tentang filsafat
dan khalam Ibnu Taimiya.
U
e-ti
Nurcholis Madjid
Capres ‘Pengeras Suara’
B E R I T A
Rapim VI Partai Golkar
Capres Definitif
Rapat Pimpinan IV Partai Golkar
menyepakati penetapan satu calon
presiden dalam Konvensi Pemilihan
Presiden akan dilaksanakan pada 5
Februari 2004. Jadi, Partai Golkar akan
memiliki calon presiden definitif dua
bulan sebelum Pemilu 5 April 2004.
Rapim yang berlangsung di Hotel Hilton,
Jakarta, Kamis (1/5), berlangsung alot.
Materi konvensi tersebut dirumuskan
dalam dua opsi, yaitu sebelum Pemilu
DPR dan setelah Pemilu DPR. Dalam
pemandangan umum Dewan Pimpinan
Daerah (DPD) Rabu petang, 14 dari 30
DPD provinsi menghendaki agar
penetapan satu calon dilaksanakan
sebelum Pemilu DPR. Sementara itu,
delapan DPD netral, dan delapan DPD
lainnya mendukung diadakan setelah
Pemilu DPR.
Keputusan penting lain adalah soal hak
suara dalam konvensi. Rapim
menyepakati, hak suara DPP sebanyak
18 suara, 30 DPD provinsi masing-
masing tiga suara, 416 DPD kabupaten/
kota masing-masing satu suara. Untuk
organisasi sayap, seperti Angkatan Muda
Partai Golkar (AMPG) dan Kesatuan
Perempuan Partai Golkar (KPPG)
ditetapkan masing-masing satu hak
suara. Begitu pula organisasi pendiri
Partai Golkar (Soksi, Kosgoro, dan
MKGR) masing-masing satu suara.
Demikian juga lima organisasi yang
didirikan Partai Golkar, yaitu MDI,
Satkar Ulama, Alhidayah, AMPI dan
HWK, masing-masing satu suara. *e-ti
Panwaslu Pusat
Komaruddin Hidayat dan Saut Sirait
terpilih sebagai Ketua dan Wakil Ketua
Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) Pusat.
Pemilihan berlangsung dalam rapat
pertama setelah sembilan anggota
Panwaslu dilantik Ketua Komisi Pemilihan
Umum (KPU) Nazaruddin Sjamsuddin di
Kantor KPU, Jakarta Pusat, 6/5/03.
Menurut Saut Sirait, pencalonan Ketua dan
Wakil Ketua Panwaslu dilakukan secara
terbuka dengan pemilihan tertutup. Untuk
jabatan ketua, Komaruddin mendapat enam
suara dan Rozy Munir tiga suara.
Sedangkan untuk jabatan wakil ketua, Saut
Sirait lima suara, Didik Supriyanto tiga
suara, dan Rozy Munir satu suara.
Kesembilan anggota Panwaslu itu adalah
Didik Supriyanto (pers), Topo Santoso
(perguruan tinggi), Komaruddin Hidayat
(perguruan tinggi), Rozy Munir (tokoh
masyarakat), Saut Sirait (tokoh
masyarakat), Nurdjanah MM (tokoh
masyarakat), Brigjen Bambang Aris
Sampoerno Djati (kepolisian), Kombes
Johny Tangkudung (kepolisian), dan
Masyhudi Ridwan (kej ksaan).
U
e-ti