Page 6 - Majalah Tokoh Indonesia Edisi 02

Basic HTML Version

6
Tokoh
Indonesia, Volume 02
Bank central harus inde-
penden. Kendati untuk mem-
pertahankan amanah itu, ia
harus menghadapi tantangan
hebat. Ia dipaksa memilih:
Mundur atau ditahan! Ia pilih
tak rela BI diintervensi: Ia
tak mau mundur! Akibatnya,
ia dituduh korupsi, diadili
dan mendekam dalam tahan-
an. Sempat divonis tiga ta-
hun penjara. Tapi, akhirnya
keadilan tetap singgah meng-
hampiri, ia divonis bebas.
Pengagum Nelson Mandela
ini, berjuang demi keadilan
dan independensi Bank
Indonesia, yang dipimpinnya.
Salah satu hal yang sangat
merisaukan, mantan Senior
Financial Economist Bank
Dunia (1993-1997), ini dalam
melihat perjalanan bangsa
dan negara ini adalah korup-
si. Serta sikap penguasa
yang baru terhadap pengu-
asa yang lama.
“Kita ingin bebas dari ko-
rupsi,” katanya dalam perca-
kapan dengan Wartawan
Tokoh Indonesia, padahal
saat ini sangat sulit untuk
mencari di mana yang tidak
ada korupsinya. Juga di BI.
“Syukur di BI hal itu sangat
kecil,” katanya.
Korupsi terjadi di mana-
mana, dari yang kecil sampai
yang besar, dari puluhan
sampai triliunan rupiah.
Perihal sikap penguasa yang
baru terhadap penguasa
yang lama. Ia sangat ka-gum
S
YAHRIL
S
ABIRIN
, P
H
.D
Demi Independensi BI
dengan Nelson Mandela.
Walaupun mungkin masa-
lahnya tidak serumit
Indonesia. Namun pada
intinya adalah sama, yaitu
melupakan masa lalu,
pengampunan dosa dan
melangkah ke depan dengan
lembaran yang bersih. Prin-
sip ini, menurutnya,
merupakan satu-satunya
cara agar negeri ini dapat
maju. Tapi harus dilandasi
de-ngan tekat yang kuat,
juga jangan sampai
diulang-ulang lagi.
Pria lulusan Ekono-
mi Perusahaan Fakul-
tas Ekonomi, UGM
ini, orang pertama
me-mimpin Bank
Indone-sia (BI) setelah
diber-lakukannya UU
No 23 tahun 1999
yang menjamin
independen-si BI. Ia
memang orang karir
di BI. Setamat kuliah
(sem-pat menganggur
seta-hun karena pada
waktu itu sulit sekali
mendapatkan pekerja-
an), ia diterima di BI
melalui proses tes
(1969). Ia mengawali
karirnya di BI sebagai
staf umum di Urusan
Ekonomi dan Statistik
sampai menjadi
direktur dan
gubernur.
Ia menjabat
direktur (Dewan
G
ESANG
M
ARTOHARTONO
Maestro
Keroncong
Tak banyak musisi Indone-
sia yang menjadi legenda di
masyarakat. Satu dari yang
sedikit itu, ialah maestro ke-
roncong asal Solo, Gesang
Martohartono, pencipta lagu
Bengawan Solo. Sebuah lagu
keroncong yang menyebe-
rangi lautan, hingga sangat
digemari di Jepang. Lagu
merupakan bahasa umum
yang melintasi dunia. Lagu
yang telah menjembatani
pertukaran kebudayaan pada
akar rumput antara Jepang
dan Indonesia.
Dan, tak banyak pula pe-
nyanyi atau pemusik Indone-
sia yang bisa bertahan hing-
ga usia 85 tahun. Gesang
bahkan membuktikan bahwa
dalam usia 85 tahun, masih
mampu merekam suaranya.
Rekaman bertajuk Keron-
cong Asli Gesang itu dipro-
duksi PT Gema Nada Pertiwi
(GMP) Jakarta, September
2002.
U
e-ti
D
AAN
D
IMARA
, MA
Sosok Pekerja
Keras
Anggota Komisi Pemilihan
Umum (KPU), ini dikenal
sebagai figur pekerja keras,
tekun dan ulet. Walaupun
mantan Purek II Uncen,
Jayapura, ini tidak menda-
lami secara spesifik studi
politik, ia memiliki peng-
Gubernur) selama 5 tahun
(1988-1993). Kemudi-an ia
ke Bank Dunia di
Washington DC, USA sebagai
Senior Finacial Economics
untuk masa dinas 3 tahun.
Setelah itu, diminta kem-
bali ke Bank Indonesia seba-
gai direktur kemudian diang-
kat menjadi gubernur meng-
gantikan J. Soedradjad
Djiwandono. Lalu 17 Mei
2003 ini, masa tugasnya
berakhir.
U
e-ti
Syahril Sabirin saat wawancara dengan Tokoh Indonesia DotCom
Said Agil Husin Al Munawar
Canangkan Tri
Program Inti
Ia tak pernah membayang-
kan akan menjadi menteri.
Tapi takdir perjalanan hidup-
nya — sebagai seorang ilmu-
wan yang hafal Al Quran 30
Juz, mubaliq dan uztad serta
tokoh musl im moderat —
telah mengantarkannya men-
jabat Menteri Agama. Sebagai
seorang akademisi dengan
kedalaman pemahaman aga-ma, ia pun siap mengemban amanah
menjadi ‘bapa peng-anut agama’ di negeri berpenduduk lebih 200
juta jiwa dari berbagai agama dan tengah menghadapi berbagai
konflik.
Menurutnya, dari aspek agama, penyebab terjadinya perpecahan
dan konflik di negeri ini adalah karena kedangkalan pemahaman
tentang agama. Keagamaan dipahami sebagai upacara ritual
semata, sehingga orangnya tidak memiliki sikap toleransi. Tapi
orang yang mengenal agamanya secara mendalam, akan memiliki
sikap toleransi dan tidak merasa benar sendiri. Sehubungan
dengan itu, dalam percakapan dengan Wartawan Tokoh Indonesia,
ia memaparkan Tri Program Inti Departemen Agama, sebagai tindak
lanjut enam program pokok Kabinet GR.
U
e-ti
T O K O H N E W S