Ada waktu ketika seseorang berhenti bukan untuk memikirkan sesuatu, melainkan karena tidak ada lagi yang perlu dicari.
Sore sering datang dengan cara seperti itu. Ia tidak membawa pesan, tidak meminta dimaknai, dan tidak menunggu tanggapan. Cahaya menurun perlahan, langit berganti warna, dan tubuh berdiri di hadapannya tanpa dorongan untuk menafsirkan apa pun.
Fragmen ini tidak lahir dari kegelisahan, juga bukan dari kebutuhan untuk memahami hidup lebih jauh. Ia berangkat dari kehadiran yang sederhana: berada di satu tempat, di satu waktu, tanpa keinginan untuk membawa pulang makna.
Di sini, diam bukan jarak dari dunia. Ia justru cara berada sepenuhnya di dalamnya, tanpa tergesa menyusun kesimpulan.
Sore yang Tidak Bertanya
Verse 1
Aku berdiri di tepi hari
Angin lewat tanpa pesan
Langit pelan mengganti warna
Dan laut tidak meminta jawaban
Langkahku berhenti sebentar
Bukan karena ragu atau lelah
Aku hanya ada di sini
Tanpa harus pergi ke mana-mana
Chorus
Ini sore yang tidak bertanya
Tidak ingin dimengerti
Aku diam menghadap luas
Dan itu sudah cukup hari ini
Ini sore yang tidak bertanya
Tidak menunggu apa pun
Aku berdiri, membiarkan waktu
Berjalan tanpa perlu dituntun
Verse 2
Bayangan memanjang di pasir
Suara ombak datang dan pulang
Tak ada yang perlu disimpan
Tak ada yang harus aku pegang
Dulu aku mencari arti
Di setiap cahaya yang jatuh
Sekarang aku belajar melihat
Tanpa harus membawa pulang apa pun
Chorus
Ini sore yang tidak bertanya
Tidak ingin dimaknai
Aku bernapas di antara warna
Dan membiarkannya berlalu sendiri
Ini sore yang tidak bertanya
Tidak meminta lebih
Aku ada, laut ada
Dan dunia cukup seperti ini
Outro
Jika esok datang lagi
Aku akan melangkah seperti biasa
Sore ini aku berhenti sebentar
Tanpa alasan
Tanpa rencana
Lagu ini memilih tinggal di momen itu. Sebagai penanda sunyi bahwa tidak setiap perjumpaan dengan luas harus dijawab dengan pengertian.
Kadang, cukup berdiri. Menghadap sore yang sedang selesai. Dan membiarkannya pergi
tanpa perlu disimpan.
Part of Sistem Sunyi.
Tulisan ini termasuk dalam Jejak Sunyi dalam Musik: ruang di mana karya musik diperlakukan sebagai fragmen kesadaran dalam ekosistem Sistem Sunyi.
Lagu dalam seri ini tidak berfungsi sebagai ilustrasi konsep atau media ekspresi emosional, melainkan sebagai artefak yang menyimpan jejak pengalaman batin yang telah ditata dan disadari.
Fragmen ini merupakan bagian dari arsip Sistem Sunyi dan ditempatkan sebagai penanda perjalanan kesadaran lintas medium.
Pengutipan sebagian atau keseluruhan isi diperkenankan dengan mencantumkan sumber: RielNiro – TokohIndonesia.com
Lorong Kata adalah ruang refleksi di TokohIndonesia.com tempat gagasan dan kesadaran saling menyeberang. Dari isu publik hingga perjalanan batin, dari hiruk opini hingga keheningan Sistem Sunyi — di sini kata mencari keseimbangannya sendiri.
Berpijak pada semangat merdeka roh, merdeka pikir, dan merdeka ilmu, setiap tulisan di Lorong Kata mengajak pembaca menatap lebih dalam, berjalan lebih pelan, dan mendengar yang tak lagi terdengar.
Atur Lorielcide berjalan di antara kata dan keheningan.
Ia menulis untuk menjaga gerak batin tetap terhubung dengan pusatnya.
Melalui Sistem Sunyi, ia mencoba memetakan cara pulang tanpa tergesa.
Lorong Kata adalah tempat ia belajar mendengar yang tak terlihat.


