The Journalistic Biography

✧ Orbit      

BerandaSistem SunyiMerasa Tidak Layak Bahkan Saat Tidak Ada yang Menolak
pembacaan

Merasa Tidak Layak Bahkan Saat Tidak Ada yang Menolak

Tentang batin yang sulit percaya pada penerimaan

Tulisan ini bagian dari sistem kesadaran reflektif RielNiro 📷Sistem Sunyi

✧ Orbit      

Litani Sunyi
Lama Membaca: 2 menit
Cara Membaca

Pembacaan Sunyi adalah cara membaca pengalaman hidup ketika makna belum hadir, belum jelas, atau belum sanggup dipikul.

Ia tidak bertujuan menjelaskan hidup, apalagi menutup pertanyaan. Pembacaan Sunyi hadir untuk memberi ruang pada pengalaman yang tidak rapi, tidak selesai, dan tidak segera bisa dimaknai, tanpa memaksanya menjadi pelajaran.

Di sini, teks tidak berdiri sebagai penuntun, dan pembaca tidak diposisikan sebagai murid. Yang dijaga adalah kejujuran membaca: melihat apa yang terjadi di dalam diri tanpa tergesa menamai, menyimpulkan, atau membenarkannya.

Pembacaan Sunyi bukan metode, bukan ajaran, dan bukan jalan pemulihan. Ia adalah ruang singgah membaca, ketika kata-kata dipakai bukan untuk mengarahkan hidup, melainkan untuk tidak berbohong pada pengalaman yang sedang berlangsung.

Tulisan dalam Pembacaan Sunyi tidak ditulis untuk dicari solusinya, disimpulkan pesannya, atau ditarik hikmahnya.

Jika kamu membaca sambil bertanya “apa maknanya?”, “apa yang harus saya lakukan?”, atau “ke arah mana ini membawa saya?”, teks ini bisa terasa kosong atau mengganggu. Itu bukan kesalahan pembaca, dan bukan kegagalan tulisan.

Pembacaan Sunyi bekerja dengan cara lain. Ia dibaca perlahan, tanpa target pemahaman. Tidak semua bagian perlu terasa relevan. Tidak semua kalimat perlu disetujui. Sebagian pengalaman memang hanya bisa dikenali, bukan diproses saat itu juga.

Di sini, tidak ada tuntutan untuk merasa tercerahkan, lebih kuat, atau lebih baik setelah membaca. Jika yang muncul justru rasa tidak nyaman, kebingungan, atau keheningan yang aneh, itu bukan sesuatu yang perlu segera dibereskan.

Pembacaan Sunyi tidak meminta pembaca untuk sampai ke mana pun. Ia hanya menjaga agar pengalaman yang belum bermakna tidak dipaksa menjadi bermakna sebelum waktunya.

Pembacaan Sunyi bukan tulisan motivasional. Ia tidak dimaksudkan untuk menguatkan, menyemangati, atau memberi harapan cepat.

Pembacaan Sunyi bukan panduan penyembuhan. Ia tidak menjanjikan pemulihan, tidak mengarahkan proses batin, dan tidak menawarkan langkah-langkah perbaikan diri.

Pembacaan Sunyi bukan ajakan untuk pasrah atau berhenti mencari makna. Ia hanya menolak pemaksaan makna ketika pengalaman belum siap memikulnya.

Pembacaan Sunyi juga bukan pengganti iman, keyakinan, atau nilai hidup apa pun. Ia tidak berdiri untuk menggantikan, melainkan memberi ruang hening ketika bahasa-bahasa itu belum bisa bekerja.

Jika kamu mencari kepastian, peneguhan, atau jawaban akhir, tulisan-tulisan ini mungkin bukan tempat yang tepat. Dan itu tidak apa-apa.

Apakah Pembacaan Sunyi menolak makna hidup?
Tidak. Ia hanya menolak pemaksaan makna ketika pengalaman belum siap dimaknai.

Apakah ini mengajak pembaca untuk pasrah atau berhenti berusaha?
Tidak. Pembacaan Sunyi tidak mengarahkan tindakan apa pun. Ia hanya menjaga agar kejujuran batin tidak dikorbankan demi tuntutan untuk segera “baik-baik saja”.

Apakah Pembacaan Sunyi cocok untuk semua orang?
Tidak selalu. Ia ditulis untuk dibaca pelan, dan bisa terasa tidak menolong bagi mereka yang sedang membutuhkan kepastian atau arahan langsung.

Apakah Pembacaan Sunyi menggantikan iman, keyakinan, atau nilai hidup tertentu?
Tidak. Ia tidak dimaksudkan sebagai pengganti apa pun. Ia hanya menyediakan ruang hening ketika bahasa keyakinan belum bisa dipakai tanpa melukai diri sendiri.

Ada rasa tidak layak yang tidak muncul karena ada orang yang menghina. Ia muncul bahkan ketika tidak ada yang berkata apa-apa. Tidak ada yang menolak. Tidak ada yang merendahkan. Namun batin tetap merasa kecil.

Seseorang bisa diberi kesempatan baik. Bisa diberi tempat. Bisa dipuji. Bisa diterima. Tetapi tetap ada suara halus di dalam diri yang berkata: ini bukan untukmu, sebentar lagi mereka tahu siapa dirimu sebenarnya, sebentar lagi semuanya akan berubah.

Dalam pembacaan Sistem Sunyi, rasa tidak layak seperti ini tidak dibaca sebagai kurang percaya diri biasa. Ia juga tidak selalu lahir dari pikiran negatif. Ia sering lahir dari luka lama yang membentuk cara seseorang melihat dirinya sendiri.

Seseorang mungkin tumbuh dengan pengalaman bahwa dirinya hanya diterima kalau ia berguna. Kalau ia bisa menyenangkan orang lain. Kalau ia bisa menjadi anak baik. Kalau ia bisa menjadi orang yang tidak merepotkan.

Dan ketika cinta, perhatian, atau pengakuan selalu terasa bersyarat, batin mulai belajar bahwa dirinya tidak cukup hanya dengan menjadi dirinya sendiri. Maka saat hidup memberi sesuatu yang baik, ia tidak tahu bagaimana menerimanya.

Ia tidak percaya itu bisa benar-benar miliknya. Ia mulai mencari celah. Mulai menebak alasan. Mulai mencurigai bahwa semua ini hanya sementara. Dan kadang ia tidak sadar bahwa ia sedang menolak kebahagiaan bukan karena tidak ingin bahagia, melainkan karena batin tidak merasa layak untuk tenang.

Sistem Sunyi membaca rasa tidak layak ini sebagai luka yang bekerja pelan-pelan. Ia tidak menghancurkan seseorang secara langsung. Ia hanya membuat seseorang selalu merasa kurang.

Kurang baik. Kurang pantas. Kurang siap. Kurang berharga. Dan akibatnya, orang itu bisa terus berusaha, terus bekerja, terus memperbaiki diri, namun tetap tidak pernah merasa cukup.

Dalam pembacaan Sistem Sunyi, rasa tidak layak adalah salah satu bentuk luka yang paling mudah disembunyikan. Karena seseorang bisa tetap tersenyum. Tetap terlihat kuat. Tetap terlihat berfungsi.

Namun di dalam, ia terus memikul satu keyakinan halus: bahwa ia harus membuktikan dirinya agar pantas dicintai. Padahal yang membuatnya lelah bukan hidup itu sendiri, melainkan perjuangan tanpa akhir untuk merasa layak menjadi manusia biasa.

Posisi Batin
Rasa tidak layak kadang tidak muncul karena penolakan. Ia muncul karena luka lama membuat batin percaya bahwa diri sendiri harus selalu membuktikan sesuatu.

Tulisan ini merupakan bagian dari Pembacaan Sunyi — sebuah ruang baca reflektif dalam ekosistem Sistem Sunyi.

Pembacaan Sunyi tidak ditulis untuk memberi jawaban cepat, menenangkan secara instan, atau memaksa makna lahir dari setiap peristiwa. Ia hadir sebagai cara membaca pengalaman hidup apa adanya, termasuk bagian-bagian yang belum dapat dimengerti, belum dapat dimaknai, atau belum sanggup dipikul sebagai pelajaran.

Dalam Pembacaan Sunyi, ketiadaan makna bukanlah kegagalan, dan penundaan pemahaman bukanlah sikap menyerah. Yang dijaga di sini adalah kejujuran batin, agar luka tidak dipaksa menjadi slogan, dan manusia tidak merasa wajib menjadi kuat sebelum waktunya.

Pengutipan sebagian atau keseluruhan isi diperkenankan dengan mencantumkan sumber: RielNiro – TokohIndonesia.com (Sistem Sunyi)

Lorong Kata adalah ruang refleksi di TokohIndonesia.com tempat gagasan dan kesadaran saling menyeberang. Dari isu publik hingga perjalanan batin, dari hiruk opini hingga keheningan Sistem Sunyi — di sini kata mencari keseimbangannya sendiri.

Berpijak pada semangat merdeka roh, merdeka pikir, dan merdeka ilmu, setiap tulisan di Lorong Kata mengajak pembaca menatap lebih dalam, berjalan lebih pelan, dan mendengar yang tak lagi terdengar.

Atur Lorielcide berjalan di antara kata dan keheningan.

Ia menulis untuk menjaga gerak batin tetap terhubung dengan pusatnya.

Melalui Sistem Sunyi, ia mencoba memetakan cara pulang tanpa tergesa.

Lorong Kata adalah tempat ia belajar mendengar yang tak terlihat.

 

Kuis Kepribadian Presiden RI
🔥 Teratas: Habibie (23.8%), Jokowi (17.5%), Gusdur (17.1%), Megawati (12.1%), Soeharto (10%)

Ramai Dibaca

Terbaru