Ada fase yang tidak bisa disebut kehilangan. Karena tidak ada yang benar-benar dimulai.
Tidak ada yang bisa ditunjuk sebagai awal, dan karena itu, tidak ada yang bisa ditutup sebagai akhir. Tapi sejak itu, ada sesuatu yang bergeser. Pelan. Tanpa suara. Dan tidak pernah kembali ke tempat semula.
Fragmen ini bukan tentang seseorang. Bukan tentang relasi yang gagal atau tidak jadi.
Ini tentang satu fase yang lebih sunyi: ketika sesuatu terasa begitu dekat, tapi tidak pernah diberi bentuk.
Dan justru karena itu, ia tidak bisa diselesaikan seperti yang lain.
Di fase itu, tidak ada yang bisa dilawan. Tidak ada yang bisa dipertahankan.
Yang ada hanya satu hal: tinggal⦠cukup lama⦠di dalam sesuatu yang tidak punya nama.
Dan dari situlah, tanpa disadari, cara melihat mulai berubah.
Sebelum Semuanya Punya Nama
Verse
Tidak ada yang benar-benar dimulai
tapi ada yang terasa berbeda
bukan sesuatu yang bisa dijelaskan
hanya seperti⦠ada yang bergeser
Aku masih menjalani hari seperti biasa
tidak ada yang berubah di luar
tapi entah kenapa
ada yang tidak lagi sama di dalam
Pre-Chorus
Bukan kehilangan
belum juga punya nama
tapi cukup
untuk membuat diam terasa lebih lama
Chorus
Mungkin memang
ada yang hadir
tanpa perlu menjadi apa-apa
tapi sejak itu
ada yang berubah⦠di dalamku
Verse 2
Tidak ada yang bisa dipegang
tidak ada yang bisa disimpulkan
hanya momen-momen kecil
yang terasa⦠lebih tinggal
Kadang muncul tanpa sebab
kadang hilang tanpa alasan
tapi selalu menyisakan
sesuatu yang tidak bisa kembali seperti dulu
Bridge (jembatan ke Sistem Sunyi)
Aku tidak mencoba memahami
juga tidak mencoba menahan
hanya berjalan
dan membiarkan semuanya lewat
sampai perlahan
aku belajar tinggal
Outro
Dan entah kenapaβ¦
aku tidak lagi mencari penjelasan
Ada titik ketika kita berhenti mencoba memberi nama. Bukan karena sudah mengerti, tapi karena akhirnya sadar⦠tidak semua hal datang untuk dijelaskan.
Sebagian hanya perlu dialami, cukup lama, sampai sesuatu di dalam mulai menemukan bentuknya sendiri.
Dan di titik itu, yang berubah bukan peristiwanya. Tapi cara kita tinggal di dalamnya.
Dari situlah, tanpa dirancang, lahir satu cara membaca yang tidak memaksa kesimpulan, tapi juga tidak membiarkan diri tenggelam.
Yang kemudian, belakangan, diberi nama: Sistem Sunyi.
Part of Sistem Sunyi
Tulisan ini termasuk dalam Jejak Sunyi dalam Musik: ruang di mana karya musik diperlakukan sebagai fragmen kesadaran dalam ekosistem Sistem Sunyi.
Lagu dalam seri ini tidak berfungsi sebagai ilustrasi konsep atau media ekspresi emosional, melainkan sebagai artefak yang menyimpan jejak pengalaman batin yang telah ditata dan disadari.
Fragmen ini merupakan bagian dari arsip Sistem Sunyi dan ditempatkan sebagai penanda perjalanan kesadaran lintas medium.
Pengutipan sebagian atau keseluruhan isi diperkenankan dengan mencantumkan sumber: RielNiro β TokohIndonesia.com
Lorong Kata adalah ruang refleksi di TokohIndonesia.com tempat gagasan dan kesadaran saling menyeberang. Dari isu publik hingga perjalanan batin, dari hiruk opini hingga keheningan Sistem Sunyi β di sini kata mencari keseimbangannya sendiri.
Berpijak pada semangat merdeka roh, merdeka pikir, dan merdeka ilmu, setiap tulisan di Lorong Kata mengajak pembaca menatap lebih dalam, berjalan lebih pelan, dan mendengar yang tak lagi terdengar.
Atur Lorielcide berjalan di antara kata dan keheningan.
Ia menulis untuk menjaga gerak batin tetap terhubung dengan pusatnya.
Melalui Sistem Sunyi, ia mencoba memetakan cara pulang tanpa tergesa.
Lorong Kata adalah tempat ia belajar mendengar yang tak terlihat.


