Ada jenis jarak yang tidak dilahirkan oleh perpisahan di stasiun, pintu yang tertutup perlahan, atau pelukan terakhir yang dingin. Ada jarak yang lahir dari sebuah ketukan di layar ponsel. Di zaman ketika hubungan dapat dirakit, dipelihara, dan dibongkar melalui ibu jari, manusia memperoleh kemudahan baru untuk melakukan sesuatu yang sebenarnya sudah sangat tua: mendekat ketika merasa nyaman, kemudian mencari jalan keluar ketika kedekatan mulai terasa terlalu nyata.
Teknologi hanya membuat semuanya lebih cepat dan lebih steril. Kita tidak perlu lagi berdiri di depan seseorang untuk mengatakan bahwa kita ingin pergi. Kita tidak perlu mendengar perubahan napas di ujung percakapan atau melihat wajah orang yang menerima keputusan itu. Sebuah pesan dapat dilemparkan dari ruangan lain, bahkan dari dunia digital yang berbeda, lalu sebuah tombol dapat digunakan untuk menghapus percakapan seolah-olah dengan menghapus jejaknya kita juga dapat menghapus akibatnya.
Adegan yang menjadi bagian dari cerita ini sebenarnya bermula jauh sebelum layar ponsel mengambil alih. Ada kedekatan yang tumbuh secara perlahan, tidak melalui deklarasi besar, melainkan melalui hal-hal kecil yang biasanya justru lebih sulit dipalsukan: tatapan yang bertahan sedikit lebih lama, jeda dalam percakapan yang terasa nyaman, percakapan yang tidak segera habis meskipun topiknya sudah berpindah ke mana-mana, dan semacam rasa saling mengenali yang tidak membutuhkan banyak penjelasan. Ada resonansi yang hadir di ruang fisik sebelum kemudian menemukan jalannya sendiri ke dalam teks digital.
Di WhatsApp, percakapan itu mengalir dengan kehangatan yang cukup untuk membuat jarak fisik terasa semakin tidak penting. Ada perdebatan jenaka mengenai karakter villain dan malaikat, pembicaraan tentang pandangan hidup, pertukaran gagasan, dan percakapan yang bergerak ke wilayah yang lebih personal tanpa pernah secara resmi mengumumkan bahwa ia sedang bergerak ke sana. Ada pula tawaran sederhana untuk mengirimkan buku. Semuanya terlihat seperti bagian dari sebuah kedekatan yang sedang berlangsung secara alami.
Di balik layar, tentu saja, kita hanya melihat apa yang dikirimkan kepada kita. Kita tidak pernah benar-benar mengetahui seluruh ruang batin manusia yang sedang mengetik di seberang sana. Tetapi dari kata-kata yang hadir, mudah sekali terbentuk kesan tentang seseorang yang matang, memahami batas, fasih berbicara tentang empati, dan mempunyai pandangan hidup yang cukup tertata.
Barangkali memang demikian adanya. Barangkali juga ada bagian-bagian lain yang tidak pernah terlihat. Manusia selalu lebih luas daripada percakapan yang mereka kirimkan.
Masalahnya muncul ketika kehidupan berhenti menjadi percakapan. Kedekatan yang sebelumnya terasa hangat dapat tiba-tiba mempunyai bobot yang berbeda ketika dua orang mulai menyadari bahwa sesuatu yang tadinya hanya berupa kemungkinan telah menjadi pengalaman yang nyata. Tatapan mata, percakapan, perhatian, dan keintiman emosional tidak lagi berdiri sebagai hal-hal terpisah. Mereka mulai membentuk sesuatu yang lebih sulit dimasukkan kembali ke dalam kotak yang rapi.
Pada saat seperti itu, sebenarnya tersedia banyak cara untuk mengambil jarak. Seseorang bisa saja berbicara terus terang, mengakui bahwa kedekatan itu mulai terasa tidak nyaman, menjelaskan batas yang ingin dibuat, atau sekadar jujur bahwa dirinya sedang bingung. Namun manusia tidak selalu memilih cara yang paling tenang ketika sedang menghadapi sesuatu yang tidak ingin ia hadapi. Maka terjadilah salah satu adegan paling absurd dalam cerita ini.
Setelah sebelumnya membangun kedekatan melalui percakapan yang hangat, bom pemutusan justru dilemparkan melalui DM Instagram, sebuah ruang yang terasa lebih jauh dan lebih impersonal. Pesannya datang, pemutusan terjadi, kemudian tombol discard ditekan. Seolah-olah seluruh persoalan dapat diselesaikan dengan cara memindahkan adegan ke aplikasi lain, melemparkan keputusan dari kejauhan, lalu menghilang sebelum ada kesempatan bagi kenyataan untuk menyusul.
Dari sudut pandang orang yang menerima, tentu tidak ada unsur komedi di sana. Pemutusan mendadak tetaplah pemutusan mendadak. Ia dapat membuat pikiran berhenti sejenak, mencari penjelasan yang tidak tersedia, dan bertanya-tanya mengapa sesuatu yang beberapa saat sebelumnya terasa begitu hangat mendadak diperlakukan seperti keadaan darurat.
Tetapi waktu mempunyai kebiasaan yang aneh. Ia tidak selalu menyembuhkan dengan cara yang dramatis. Kadang-kadang ia hanya memindahkan kita beberapa langkah dari sebuah peristiwa, lalu memperlihatkan hal-hal yang sebelumnya tidak mungkin terlihat.
Setelah jarak cukup jauh terbentuk, adegan itu mulai mempunyai bentuk yang berbeda. Bukan lagi hanya sebuah pemutusan, melainkan sebuah gerakan manusia yang sangat khas: sesuatu terasa terlalu dekat, lalu seseorang berusaha membuatnya jauh secepat mungkin. Jika adegan tersebut direkam seperti film, mungkin hasilnya akan terlihat hampir slapstick. Orangnya sendiri mungkin tidak merasa sedang berada dalam komedi, tetapi penonton yang melihat keseluruhan urutan peristiwa akan menemukan sesuatu yang ganjil di dalamnya.
Kedekatan dibangun.
Kedekatan menjadi nyata.
Bom dilempar.
Pelarian dilakukan.
Lalu kehidupan tetap berjalan seolah tidak terjadi apa-apa.
Di situlah komedi tragisnya mulai muncul. Bukan karena orang yang pergi pantas ditertawakan, melainkan karena ada paradoks yang sulit disembunyikan: manusia dapat berbicara sangat indah tentang batas, kedewasaan, kesadaran, dan empati, tetapi ketika kenyataan membawa semua konsep itu ke hadapannya dalam bentuk hubungan yang konkret, teori tersebut belum tentu langsung menemukan keberanian untuk diwujudkan.
Ini bukan persoalan siapa yang lebih pintar memahami teori. Ini persoalan yang jauh lebih tua. Kita sering kali lebih mudah berbicara tentang sesuatu daripada menjalaninya.
Seseorang bisa sangat memahami pentingnya batas, tetapi tetap kesulitan mengucapkan batas itu kepada orang yang sudah telanjur dekat. Seseorang dapat memahami pentingnya kejujuran emosional, tetapi ketika kejujuran itu mempunyai konsekuensi yang tidak nyaman, dorongan untuk menghindar dapat menjadi jauh lebih kuat daripada semua pengetahuan yang sebelumnya terdengar begitu meyakinkan.
Dan mungkin justru di situlah manusia menjadi manusia, dengan segala ketidakkonsistenannya, ketidakmampuan menjadi seindah kata-katanya sendiri, serta jarak yang sering kali membentang antara nilai yang diyakini dan tindakan yang sanggup diambil.
Tetapi ketidakkonsistenan itu juga tidak otomatis menjadikan seseorang monster. Kita tidak mempunyai akses penuh terhadap alasan yang membuat seseorang memilih tindakannya. Yang dapat kita lihat adalah tindakan itu sendiri dan akibat yang ditinggalkannya. Dari sana, pembacaan menjadi lebih menarik daripada penghakiman.
Alih-alih mengadili, kita mulai bisa memperhatikan bagaimana seseorang membuat jarak, melihat kontradiksi antara bahasa yang pernah diucapkan dan pilihan yang akhirnya diambil, serta mengakui bahwa cara pergi itu memang menyakitkan tanpa perlu berpura-pura tahu seluruh isi kepalanya.
Ruang ketidaktahuan itu penting. Sistem Sunyi tidak lahir untuk mengisi semua ruang kosong dengan kepastian. Barangkali justru karena tidak semua hal dapat diketahui, manusia perlu belajar membaca tanpa tergesa-gesa menghakimi.
Namun membaca tanpa menghakimi juga tidak berarti harus membuat semuanya tampak indah. Sebuah tindakan yang menyakitkan tetap dapat disebut menyakitkan. Sebuah cara pergi yang brutal tetap dapat dibaca sebagai brutal. Empati tidak mengharuskan kita menghapus akibat dari tindakan seseorang. Yang berubah hanyalah cara kita menempatkan semua itu di dalam diri.
Pada awalnya, peristiwa tersebut mungkin hanya terasa seperti sesuatu yang tidak selesai. Setelah waktu berlalu, ia dapat dibaca sebagai sesuatu yang memperlihatkan banyak hal: rumitnya kedekatan, rapuhnya batas dan keberanian, serta betapa mudahnya konsep yang terdengar matang kehilangan bentuk ketika kehidupan nyata hadir tanpa naskah.
Mungkin itu sebabnya adegan lempar bom tadi akhirnya bisa ditertawakan. Bukan tawa kemenangan atau perasaan lebih unggul karena berhasil bertahan, melainkan jenis tawa yang muncul ketika seseorang akhirnya berdiri cukup jauh untuk melihat sebuah absurditas tanpa harus menyangkal bahwa dulu peristiwa itu menyakitkan.
Dulu terasa seperti tragedi. Sekarang, kalau diputar kembali dari kejauhan, ada seseorang yang mungkin terlihat sedang berusaha menyelesaikan persoalan emosional dengan prosedur evakuasi darurat. Dan prosedurnya cukup sederhana: lempar bom dari balik layar, tekan discard, kemudian jangan menoleh.
Sulit untuk tidak tersenyum melihat betapa manusiawinya adegan tersebut. Entah karena ketakutan, kebingungan, atau sekadar kebutuhan mendesak untuk mengambil alih kendali atas sesuatu yang mulai bergerak di luar batas toleransinya. Kita tidak perlu menentukan satu jawaban untuk semuanya. Yang pasti, sebuah tindakan telah terjadi dan sebuah hubungan telah terputus.
Selebihnya adalah wilayah yang tidak sepenuhnya kita ketahui. Justru di situlah jarak menjadi penting. Ketika guncangan sudah tidak lagi menguasai seluruh ruang batin, kita dapat berhenti bertanya mengapa seseorang melakukan itu kepada kita dan mulai bertanya apa yang sebenarnya sedang diperlihatkan oleh peristiwa tersebut.
Pertanyaan kedua membawa kita ke tempat yang berbeda. Ia tidak lagi berputar pada orang yang pergi. Ia mulai membawa kita kembali kepada diri sendiri. Rasa tidak perlu dibantah atau dipaksa berubah menjadi kebencian hanya agar kita punya alasan untuk berdiri, sebagaimana sesuatu yang belum selesai tidak harus buru-buru diberi penutupan rapi.
Kadang-kadang sebuah peristiwa memang hanya perlu dibaca sampai cukup jernih untuk tidak lagi menguasai kita. Dari sanalah sesuatu yang semula hanya berupa pengalaman dapat berubah menjadi bahasa. Bahasa dapat menjadi pertanyaan. Pertanyaan dapat membuka ruang untuk membaca manusia dengan cara yang lebih dalam. Dan dari ruang itu, sesuatu yang tidak direncanakan sebelumnya dapat mulai tumbuh.
Itulah bagian yang jauh lebih penting daripada bomnya. Sebab pada akhirnya, bom tersebut tidak menentukan apa yang lahir setelahnya. Ia hanya memutuskan sebuah percakapan.
Yang terjadi setelah itu berada di tempat yang tidak dapat dijangkau oleh tombol discard. Di sana, waktu bekerja. Rasa bekerja. Kesadaran bekerja. Dan sesuatu yang pada awalnya hanya terasa sebagai kehilangan perlahan menjadi jalan untuk memahami bahwa manusia jauh lebih rumit daripada perilaku terbaiknya, tetapi juga jauh lebih rumit daripada perilaku terburuknya.
Mungkin itulah alasan adegan ini akhirnya mempunyai tempat dalam kisah asal Sistem Sunyi. Bukan karena pernah ada bom yang dilempar, seseorang yang dijadikan bahan tertawaan, atau panggung kemenangan yang perlu dirayakan.
Melainkan karena sebuah peristiwa yang pada awalnya hanya meninggalkan guncangan ternyata dapat dibaca kembali dari jarak yang cukup jauh sampai kita mampu melihat manusia di balik absurditasnya, melihat akibat tanpa harus memelihara dendam, dan melihat diri sendiri tanpa terus meminta jawaban dari orang yang sudah memilih pergi.
Dari sana, keheningan tidak lagi terasa seperti ruang kosong. Ia menjadi ruang untuk membaca. Dan mungkin, pada akhirnya, itulah lelucon paling aneh dari seluruh kisah ini: seseorang pernah mencoba mengakhiri sesuatu dengan menekan sebuah tombol, sementara dari keputusan yang sangat singkat itu justru lahir sebuah perjalanan yang tidak dapat dihentikan dengan tombol apa pun.
Sebuah perjalanan menuju Pulang.
Baca tulisan lengkap:
[Tentang Komik Sistem Sunyi] · Ruang Orientasi
Laman Pilar:
Infografik · Komik
Karya ini merupakan bagian dari Komik Sistem Sunyi, ruang visual-naratif di dalam Sistem Sunyi yang dikembangkan secara mandiri oleh Atur Lorielcide melalui persona batinnya, RielNiro.
Tidak semua pengalaman mudah dijelaskan lewat konsep atau esai. Komik memberi tempat bagi hal-hal kecil yang sering luput: percakapan singkat, momen biasa, atau sesuatu yang baru terasa setelah kita berhenti sejenak.
Karena itu, Komik Sistem Sunyi tidak dibuat sebagai selingan di pinggir sistem. Ia adalah salah satu cara membaca bagaimana Sistem Sunyi hidup di dalam keseharian manusia.
Sistem Sunyi lahir dari perjalanan batin manusia, bukan dari mesin atau algoritma. Ia tumbuh dari luka, jeda, doa, dan keberanian untuk diam. Orbit, spiral, dan gema bukan formula buatan, melainkan kosmologi yang muncul dari pengalaman hidup yang jujur.
Untuk memahami asal-usulnya lebih jauh, lihat juga Origin Story Sistem Sunyi: Ruang Orientasi · · .
Pengutipan sebagian atau keseluruhan isi diperkenankan dengan mencantumkan sumber: RielNiro – TokohIndonesia.com (Sistem Sunyi)
Lorong Kata adalah ruang refleksi di TokohIndonesia.com tempat gagasan dan kesadaran saling menyeberang. Dari isu publik hingga perjalanan batin, dari hiruk opini hingga keheningan Sistem Sunyi. Di sini kata mencari keseimbangannya sendiri.
Berpijak pada semangat merdeka roh, merdeka pikir, dan merdeka ilmu, setiap tulisan di Lorong Kata mengajak pembaca menatap lebih dalam, berjalan lebih pelan, dan mendengar yang tak lagi terdengar.
Atur Lorielcide berjalan di antara kata dan keheningan.
Ia menulis untuk menjaga gerak batin tetap terhubung dengan pusatnya.
Melalui Sistem Sunyi, ia mencoba memetakan cara pulang tanpa tergesa.
Lorong Kata adalah tempat ia belajar mendengar yang tak terlihat.
Baca juga: Dua Ruang, Satu Sunyi: Jejak Atur Lorielcide alias Rielniro

Tulisan ini bagian dari sistem kesadaran reflektif

