Ketika Keakuan Berada di Pusat
Yang bermasalah bukan keberadaan keakuan, melainkan posisinya.
Keakuan sering dipahami sebagai sesuatu yang harus disingkirkan. Ia dianggap
sumber gangguan, biang kekacauan batin, dan penghalang kejernihan. Dari sini
lahir berbagai upaya untuk meniadakannya: mengosongkan diri, melebur
identitas, menyerahkan kehendak sepenuhnya.
Masalahnya, penghapusan jarang melahirkan keteraturan. Yang sering terjadi
justru kebingungan baru. Seseorang terlihat tenang, tetapi kehilangan arah.
Terlihat pasrah, tetapi berhenti bertanggung jawab. Terlihat sunyi, tetapi
menjauh dari hidup.
Sistem Sunyi tidak melihat keakuan sebagai musuh yang harus dimusnahkan, dan tidak pula sebagai pusat yang harus dilayani.
Musuh Palsu
Keakuan tidak harus dimusnahkan
Ia perlu dibaca sebagai bagian dari sistem, bukan sebagai sesuatu yang
otomatis buruk.
Pusat Palsu
Keakuan juga tidak boleh mengendalikan semuanya
Ketika ia menjadi poros, seluruh rasa, makna, dan iman mudah dipelintir
untuk melayani diri.
Posisi Baru
Simpul, bukan poros
Keakuan tetap ada sebagai bagian yang ikut bekerja, bukan sebagai pengatur
seluruh sistem batin.