The Journalistic Biography

✧ Orbit      

BerandaSistem SunyiYang Pergi Hanya Keretanya
jejak-musik

Yang Pergi Hanya Keretanya

Jejak Sunyi dalam Musik. Fragmen Sistem Sunyi #11

Tulisan ini bagian dari sistem kesadaran reflektif RielNiro 📷Sistem Sunyi

✧ Orbit      

Litani Sunyi
Lama Membaca: 2 menit

Kadang tubuh sudah bergerak lebih dulu. Sudah duduk di kursi kereta, sudah menatap keluar jendela, sudah ikut dalam perjalanan.

Tapi batin tidak selalu ikut berangkat. Ada hal-hal yang masih tertinggal di tempat yang tidak bisa dibawa oleh jadwal, tiket, atau tujuan. Bukan karena belum selesai. Kadang hanya karena sebagian rasa memang butuh waktu untuk menyusul.

Fragmen ini lahir dari momen itu. Momen ketika dunia melaju cepat, sementara di dalam diri masih ada sesuatu yang diam. Dan kita belajar menerima, tanpa perlu menjelaskan.

Yang Pergi Hanya Keretanya

@rielniro

Verse 1
Kaca jendela memantulkan wajah
yang diam tanpa banyak kata
Sawah, rumah, dan pepohonan
lari pelan di belakang mata

Orang-orang duduk seperti biasa
menyimpan dunia di pangkuan
Aku ikut dalam gerak ini
tapi tidak sepenuhnya berangkat

Chorus
Yang pergi hanya keretanya
bukan semua yang ada di dalamku
Ada bagian yang masih tertahan
di tempat yang tidak ikut melaju

Yang pergi hanya keretanya
dan aku tetap duduk di sini
membiarkan waktu berjalan duluan
sementara batin masih menepi

Verse 2
Kadang namamu muncul sebentar
di sela suara roda dan rel
bukan untuk mengajak kembali
hanya lewat, lalu tenggelam

Aku tidak mengejar apa pun
tidak juga mencoba melupakan
Aku hanya melihat ke luar
dan membiarkan hidup bergantian

Chorus
Yang pergi hanya keretanya
bukan semua yang ada di dalamku
Ada bagian yang masih tertahan
di tempat yang tidak ikut melaju

Yang pergi hanya keretanya
dan aku tetap duduk di sini
membiarkan jarak menjadi jarak
tanpa harus dijelaskan lagi

Bridge
Mungkin memang begini caranya
sebagian diri ikut berjalan
sebagian lagi tinggal dulu
sampai siap menyusul pelan

Outro
Kereta terus membawa tubuhku
melewati kota yang mengecil di kaca
Dan aku belajar menerima
bahwa yang pergi
kadang hanya keretanya

 


 

Kadang perjalanan tidak menyembuhkan apa pun. Ia hanya memindahkan tubuh ke tempat lain, sementara batin masih memegang sesuatu yang belum ikut pindah.

Dan itu tidak salah.

Tidak semua yang tertinggal harus dipaksa selesai. Ada yang cukup disadari, cukup dikenali, lalu dibiarkan menyusul dengan caranya sendiri.

Fragmen ini tidak menawarkan jawaban. Ia hanya menyimpan satu pengakuan kecil: bahwa bergerak tidak selalu berarti pulang.

Part of Sistem Sunyi.

Tulisan ini termasuk dalam Jejak Sunyi dalam Musik: ruang di mana karya musik diperlakukan sebagai fragmen kesadaran dalam ekosistem Sistem Sunyi.

Lagu dalam seri ini tidak berfungsi sebagai ilustrasi konsep atau media ekspresi emosional, melainkan sebagai artefak yang menyimpan jejak pengalaman batin yang telah ditata dan disadari.

Fragmen ini merupakan bagian dari arsip Sistem Sunyi dan ditempatkan sebagai penanda perjalanan kesadaran lintas medium.

Pengutipan sebagian atau keseluruhan isi diperkenankan dengan mencantumkan sumber: RielNiro – TokohIndonesia.com

Lorong Kata adalah ruang refleksi di TokohIndonesia.com tempat gagasan dan kesadaran saling menyeberang. Dari isu publik hingga perjalanan batin, dari hiruk opini hingga keheningan Sistem Sunyi — di sini kata mencari keseimbangannya sendiri.

Berpijak pada semangat merdeka roh, merdeka pikir, dan merdeka ilmu, setiap tulisan di Lorong Kata mengajak pembaca menatap lebih dalam, berjalan lebih pelan, dan mendengar yang tak lagi terdengar.

Atur Lorielcide berjalan di antara kata dan keheningan.

Ia menulis untuk menjaga gerak batin tetap terhubung dengan pusatnya.

Melalui Sistem Sunyi, ia mencoba memetakan cara pulang tanpa tergesa.

Lorong Kata adalah tempat ia belajar mendengar yang tak terlihat.

 

Kuis Kepribadian Presiden RI
🔥 Teratas: Habibie (23.8%), Jokowi (17.5%), Gusdur (17.1%), Megawati (12.1%), Soeharto (10%)

Ramai Dibaca

Terbaru