The Journalistic Biography

✧ Orbit      

Kembali ke KBDS
Kamus, sebagai cara membaca diri. Baca 'Tentang KBDS'.
Updated: 2026-04-26 11:54:16
pride

Pride

Pride adalah rasa bangga atau harga diri yang dapat sehat bila proporsional, tetapi menjadi tidak sehat ketika berubah menjadi kebutuhan untuk terlihat unggul, benar, kuat, tidak bisa salah, atau tidak perlu dikoreksi.

Dalam pembacaan Sistem Sunyi, Pride adalah keadaan ketika rasa diri membesar secara defensif karena martabat, makna, iman, dan kerendahan hati tidak lagi cukup menata kebanggaan, sehingga seseorang sulit dikoreksi, sulit mengakui rapuh, dan mudah menjadikan keunggulan sebagai pelindung diri.

Pada mode eksplorasi, kamu bisa melihat peta lengkap dan bagaimana istilah ini beresonansi dengan istilah lain.
Pride — KBDS

Analogy

Pride seperti baju zirah yang dipakai terlalu lama; ia memang melindungi dari rasa kecil, tetapi juga membuat seseorang sulit disentuh, sulit bergerak, dan sulit dipeluk oleh kebenaran.

KBDS sebagai Cara Membaca Diri

Kamus Besar Dialektika Sunyi tidak disusun untuk memberi jawaban cepat, melainkan untuk membantu pembaca melihat ulang cara ia membaca dirinya sendiri.

  • Sebagian besar istilah di KBDS adalah istilah yang dikenal secara umum, tetapi dibaca ulang melalui lensa Sistem Sunyi.
  • Makna di sini bukan definisi kamus, melainkan peta pengalaman batin yang bekerja di balik istilah tersebut.
  • Beberapa istilah berada dalam kategori Extreme Distortion, ditandai secara khusus - diberi label (Sistem Sunyi) - karena menunjukkan pola pembenaran yang berulang dan berisiko menutup kejujuran batin.
  • Sangat banyak istilah konseptual yang lahir dari orbit khas Sistem Sunyi dan tidak ditemukan di luar ekosistem ini. Istilah konseptual hanya dapat dibaca dari kerangka kesadaran Sistem Sunyi.
  • Istilah bukan label kepribadian, melainkan penanda dinamika, kecenderungan, atau proses batin.

Jika sebuah istilah terasa “kena”, itu bukan karena istilahnya benar, melainkan karena ada bagian pengalaman yang sedang terbaca. Gunakan KBDS sebagai peta orientasi batin, bukan sebagai alat penilaian diri.

Istilah Umum
Dibaca ulang melalui lensa Sistem Sunyi
Extreme Distortion
Menandai pola pembenaran berulang
Istilah Konseptual
Lahir dari orbit khas Sistem Sunyi

Sistem Sunyi Core

Dalam pembacaan Sistem Sunyi, Pride adalah keadaan ketika rasa diri membesar secara defensif karena martabat, makna, iman, dan kerendahan hati tidak lagi cukup menata kebanggaan, sehingga seseorang sulit dikoreksi, sulit mengakui rapuh, dan mudah menjadikan keunggulan sebagai pelindung diri.

Sistem Sunyi Extended

Pride berbicara tentang rasa diri yang ingin berdiri terlalu tinggi. Seseorang merasa perlu terlihat benar, kuat, mampu, rohani, pintar, matang, atau lebih baik daripada orang lain. Dari luar, Pride sering tampak sebagai percaya diri. Namun di dalamnya sering ada rasa tidak aman yang tidak mau terlihat, luka yang tidak mau disentuh, atau kebutuhan untuk menjaga citra agar diri tidak merasa kecil.

Kebanggaan sendiri tidak selalu salah. Manusia perlu dapat menghargai usaha, perkembangan, martabat, dan pencapaiannya. Orang yang tidak pernah boleh merasa bangga bisa jatuh ke rasa rendah diri yang tidak sehat. Yang perlu dibaca adalah arah kebanggaan itu. Kebanggaan yang sehat membuat seseorang bersyukur, lebih bertanggung jawab, dan lebih mampu menghargai orang lain. Pride yang tidak sehat membuat seseorang membandingkan, meninggikan diri, dan menolak koreksi karena koreksi terasa seperti penghinaan.

Dalam keseharian, Pride tampak ketika seseorang sulit berkata maaf karena itu terasa menurunkan posisi dirinya. Ia membela diri terlalu cepat saat dikritik. Ia merasa gelisah ketika orang lain lebih berhasil. Ia ingin terlihat sudah paham, padahal masih belajar. Ia menyembunyikan kelemahan agar tidak dianggap biasa. Ia tidak selalu sombong secara terbuka, tetapi batinnya terus menjaga agar citra dirinya tidak runtuh.

Dalam lensa Sistem Sunyi, Pride menunjukkan kebanggaan yang terlepas dari martabat yang jernih. Rasa diri tidak lagi tenang berada pada ukuran yang manusiawi. Makna diri terlalu banyak ditempatkan pada keunggulan, pengakuan, posisi, atau kemampuan terlihat benar. Iman atau orientasi terdalam belum cukup menjadi gravitasi yang membuat seseorang berani rendah hati. Sistem Sunyi membaca Pride bukan hanya sebagai kesombongan, tetapi sebagai bentuk perlindungan diri yang kehilangan kejujuran.

Dalam relasi, Pride membuat percakapan menjadi sulit. Seseorang lebih sibuk mempertahankan posisi daripada memahami dampak. Ia ingin menang dalam argumen, bukan bertumbuh dalam hubungan. Ia merasa direndahkan ketika orang lain menyebut luka atau kesalahan. Ia dapat meminta orang lain berubah, tetapi sulit melihat bagiannya sendiri. Relasi menjadi berat karena kejujuran selalu harus melewati tembok harga diri yang defensif.

Dalam pekerjaan dan karya, Pride dapat membuat seseorang sulit belajar. Ia ingin diakui sebagai kompeten, sehingga kritik terasa mengancam. Ia memilih proyek yang memperkuat citra, bukan selalu yang menumbuhkan. Ia sulit bertanya karena takut terlihat tidak tahu. Ia bisa menolak masukan yang sebenarnya membantu karena masukan itu menyentuh rasa bahwa dirinya belum selesai. Karya dan kerja lalu menjadi panggung pembuktian, bukan ruang pembentukan.

Dalam spiritualitas, Pride sering lebih halus. Seseorang merasa lebih rohani, lebih sadar, lebih benar, lebih tulus, atau lebih dalam daripada orang lain. Ia memakai bahasa iman, pelayanan, pengetahuan, atau pengalaman batin sebagai cara meninggikan diri. Ia mungkin tampak rendah hati, tetapi diam-diam ingin diakui sebagai lebih matang. Pride rohani berbahaya karena memakai hal yang seharusnya menundukkan ego untuk justru memperkuat ego.

Secara psikologis, Pride sering berdekatan dengan shame yang tidak ingin terlihat. Orang yang sangat takut merasa kecil dapat membangun pertahanan berupa keunggulan. Ia tidak tahan salah karena salah terasa seperti bukti bahwa dirinya tidak bernilai. Ia tidak tahan tidak tahu karena tidak tahu terasa seperti kehilangan posisi. Ia tidak tahan lemah karena lemah terasa seperti tidak layak dihormati. Maka Pride menjadi baju keras untuk melindungi bagian diri yang sebenarnya rapuh.

Secara etis, Pride perlu dibaca karena ia dapat merusak tanggung jawab. Orang yang dikuasai Pride sulit memperbaiki diri karena kesalahan harus disangkal, dikecilkan, atau dialihkan. Ia dapat menyakiti orang lain lalu lebih fokus pada rasa tersinggung karena dikoreksi. Ia dapat menyebut kejujuran orang lain sebagai serangan agar tidak perlu menanggung dampak. Pride yang tidak ditata membuat martabat diri dipertahankan dengan mengorbankan kebenaran.

Secara eksistensial, Pride menyentuh pertanyaan tentang di mana seseorang meletakkan nilai dirinya. Bila nilai diri hanya aman saat unggul, benar, dikagumi, atau tidak pernah tampak lemah, maka hidup menjadi sangat sempit. Manusia harus terus menjaga posisi. Padahal hidup yang lebih utuh membutuhkan kemampuan berada dalam ukuran yang benar: cukup bernilai untuk tidak merendahkan diri, cukup rendah hati untuk tidak meninggikan diri.

Istilah ini perlu dibedakan dari Healthy Pride, Self-Respect, Self-Confidence, dan Arrogance. Healthy Pride adalah kebanggaan yang proporsional atas usaha atau martabat tanpa merendahkan orang lain. Self-Respect adalah penghormatan terhadap diri. Self-Confidence adalah rasa mampu yang sehat. Arrogance adalah kesombongan yang lebih terbuka dan merendahkan. Pride lebih luas: kebanggaan yang dapat sehat, tetapi dalam bentuk tidak sehat menjadi defensif, menutup koreksi, dan mengangkat diri secara berlebihan.

Merawat Pride bukan berarti menghancurkan harga diri. Yang perlu dilakukan adalah mengembalikan kebanggaan ke ukuran yang benar. Seseorang belajar mengakui kemampuan tanpa merasa lebih tinggi, menerima koreksi tanpa merasa hancur, meminta maaf tanpa kehilangan martabat, dan mengakui rapuh tanpa membenci diri. Dalam arah Sistem Sunyi, Pride mulai ditata ketika seseorang dapat berkata: aku tetap bernilai meski tidak selalu unggul, dan aku tetap manusia meski perlu dikoreksi.

Dinamika Makna

Medan tarik-menarik makna tempat istilah ini bekerja secara internal.

Core Axes

Poros ketegangan utama yang membentuk arah dan batas kerja makna.

kebanggaan ↔ sehat ↔ vs ↔ kebanggaan ↔ defensif martabat ↔ vs ↔ keunggulan percaya ↔ diri ↔ vs ↔ menolak ↔ koreksi harga ↔ diri ↔ vs ↔ citra ↔ diri kerendahan ↔ hati ↔ vs ↔ pembesaran ↔ diri

Positive Pull

Arah tarik yang membantu pematangan, penjernihan, dan stabilitas makna.

term ini membantu membedakan kebanggaan yang sehat dari kebanggaan yang menutup koreksi dan meninggikan diri kejernihan tumbuh ketika seseorang dapat melihat bahwa mempertahankan martabat tidak sama dengan mempertahankan citra tanpa cela Pride memberi bahasa bagi harga diri yang tampak kuat tetapi sebenarnya sering rapuh dan defensif pembacaan ini menolong agar seseorang dapat menerima koreksi tanpa merasa seluruh nilai dirinya runtuh term ini mengingatkan bahwa manusia dapat menghargai diri tanpa harus merasa lebih tinggi daripada orang lain

Negative Pull

Arah tarik yang melemahkan, mengaburkan, atau merusak kejernihan makna.

term ini mudah disalahgunakan untuk membuat orang takut memiliki kebanggaan sehat atas usaha dan pertumbuhan diri arahnya menjadi keruh bila semua bentuk percaya diri dianggap Pride yang buruk pola ini dapat makin kuat bila seseorang tidak mampu menanggung malu, salah, tidak tahu, atau terlihat biasa Pride kehilangan ketepatan jika tidak dibedakan dari Healthy Pride, Self-Respect, Self-Confidence, dan Arrogance semakin Pride melindungi rasa kecil yang tidak dibaca, semakin sulit seseorang bertumbuh melalui koreksi, relasi, dan tanggung jawab

Lensa Sistem Sunyi

Cara Sistem Sunyi membaca istilah ini dari dalam pengalaman batin.

  • Pride tidak selalu berarti kebanggaan itu salah, tetapi menjadi keruh ketika kebanggaan membuat seseorang sulit dikoreksi dan merasa harus selalu unggul.
  • Harga diri yang sehat tidak perlu terus membuktikan diri lebih benar, lebih kuat, atau lebih tinggi daripada orang lain.
  • Dalam Sistem Sunyi, Pride perlu dibaca bersama rasa, makna, iman, martabat, shame, dan tanggung jawab agar tidak hanya dilihat sebagai sombong di permukaan.
  • Koreksi terasa mengancam ketika nilai diri terlalu melekat pada citra tidak pernah salah.
  • Pride rohani sering lebih halus karena memakai bahasa iman, pelayanan, atau kedalaman untuk menjaga posisi diri.
  • Kerendahan hati bukan merendahkan diri, melainkan berani berada dalam ukuran yang benar: bernilai, tetapi tetap bisa belajar.
  • Pride mulai tertata ketika seseorang dapat berkata: aku tetap berharga meski salah, dan aku tetap perlu belajar meski sudah banyak mengerti.

Relasi & Pola Kesadaran

Pola keterhubungan, gaya tarik, dan mekanisme batin yang sering menyertai term ini dalam pengalaman sadar.

Bagian ini bersifat deskriptif dan membantu pembacaan makna, bukan aturan normatif.

Common Pairs

Istilah yang kerap muncul bersama dan saling menguatkan dalam pengalaman kesadaran.

Egoism
Egoism adalah orientasi hidup yang menempatkan kepentingan dan pusat diri sebagai ukuran utama dalam menilai, menafsir, dan menjalani hidup.

Self-Righteousness
Self-Righteousness adalah kecenderungan merasa diri lebih benar atau lebih bermoral secara berlebihan sampai sulit melihat celah dan keterbatasan diri sendiri.

Quiet Arrogance
Quiet Arrogance adalah kesombongan halus yang bersembunyi di balik ketenangan, kerapian, atau kedewasaan, sehingga rasa lebih tetap bekerja tanpa perlu tampil kasar.

Spiritual Pride
Spiritual Pride adalah kesombongan halus yang membuat pengalaman atau kedalaman spiritual dipakai sebagai dasar untuk merasa lebih tinggi, lebih sadar, atau lebih murni daripada orang lain.

Shame-Avoidance
Shame-Avoidance adalah pola menghindari situasi atau keterbukaan tertentu karena takut merasa malu, dipermalukan, atau terlihat tidak layak.

Fragile Self-Esteem
Fragile Self-Esteem adalah harga diri yang nyata tetapi mudah goyah karena belum cukup ditopang oleh fondasi batin yang kokoh dan rasa berharga yang matang.

Performative Humility
Performative Humility adalah kerendahan hati yang lebih banyak berfungsi sebagai citra atau penampilan sosial daripada sebagai buah dari pusat yang sungguh ringan dan tidak lagi haus pengakuan.

  • Defensive Pride


Near

Alasan epistemik mengapa istilah-istilah ini sering berdekatan dalam pembacaan makna.

Defensive Pride
Defensive Pride dekat karena Pride sering bekerja sebagai perlindungan terhadap rasa kecil, malu, atau takut dikoreksi.

Egoism
Egoism dekat karena diri dapat menjadi pusat pembacaan dan ukuran nilai yang berlebihan.

Self-Righteousness
Self-Righteousness dekat karena Pride sering membuat seseorang merasa posisinya lebih benar dan lebih layak daripada orang lain.

Quiet Arrogance
Quiet Arrogance dekat karena Pride dapat hadir secara halus, tidak selalu keras, tetapi tetap merasa lebih tinggi di dalam.


Often Confused With
Istilah yang kerap disamakan secara keliru, padahal memiliki arah makna yang berbeda.

Healthy Pride
Healthy Pride adalah kebanggaan yang proporsional, sedangkan Pride yang tidak sehat menutup koreksi dan membuat diri merasa harus unggul.

Self-Respect
Self-Respect menjaga martabat diri, sedangkan Pride sering mempertahankan citra diri dengan cara defensif.

Self-Confidence
Self-Confidence adalah rasa mampu yang sehat, sedangkan Pride bisa rapuh karena sangat bergantung pada posisi unggul atau tidak terlihat salah.

Arrogance
Arrogance lebih terbuka dalam merendahkan orang lain, sedangkan Pride dapat lebih luas dan halus, termasuk dalam bentuk defensif yang tidak selalu tampak sombong.

Opposing Forces

Gaya tarik yang mendorong makna ke arah berlawanan dan berpotensi mengaburkan kejernihan.

Humility
Humility adalah kemampuan melihat diri dengan jernih tanpa mengagungkan atau merendahkan.

Grounded Self-Worth
Grounded Self-Worth adalah rasa berharga yang stabil dan membumi, yang tidak sepenuhnya bergantung pada validasi, performa, atau penilaian dari luar.

Self-Respect
Self-Respect adalah tindakan menjaga martabat diri melalui batas dan pilihan yang jernih.

Integrated Accountability
Integrated Accountability adalah pertanggungjawaban yang telah menyatu dengan kesadaran, perubahan batin, dan perilaku nyata, bukan berhenti pada pengakuan atau penyesalan verbal.

Shame-Resilience
Shame-Resilience adalah kemampuan untuk tetap utuh dan pulih saat tersentuh rasa malu, tanpa langsung runtuh atau kehilangan rasa nilai diri.

Healthy Pride Modesty Teachable Confidence


Contrast

Posisi konseptual yang berlawanan secara epistemik, digunakan sebagai titik banding untuk memperjelas arah makna.

Humility
Humility berlawanan karena seseorang dapat melihat diri secara benar tanpa merendahkan diri atau meninggikan diri.

Grounded Self-Worth
Grounded Self-Worth berlawanan karena nilai diri cukup berakar sehingga tidak harus terus dibuktikan melalui keunggulan.

Self-Respect
Self-Respect menjadi penyeimbang karena martabat diri dijaga tanpa perlu menolak koreksi atau merasa lebih tinggi.

Integrated Accountability
Integrated Accountability berlawanan karena seseorang mampu mengakui dampak dan memperbaiki diri tanpa terseret pertahanan ego.

Cognitive Patterns

Pola respons batin dan penyesuaian berpikir yang sering muncul ketika term ini bekerja relatif sehat.

  • Seseorang Langsung Membela Diri Ketika Dikoreksi Karena Koreksi Terasa Seperti Serangan Terhadap Nilai Dirinya.
  • Ia Sulit Berkata Maaf Karena Permintaan Maaf Terasa Seperti Kehilangan Posisi.
  • Ia Merasa Gelisah Ketika Orang Lain Lebih Berhasil, Lebih Dipuji, Atau Lebih Terlihat Mampu.
  • Ia Ingin Tampak Sudah Paham Sehingga Sulit Bertanya Saat Sebenarnya Belum Mengerti.
  • Ia Memakai Pengetahuan, Pengalaman, Iman, Atau Kedewasaan Sebagai Cara Halus Untuk Merasa Lebih Tinggi.
  • Ia Lebih Fokus Pada Rasa Tersinggung Karena Dikritik Daripada Pada Dampak Yang Mungkin Ia Buat.
  • Ia Menyembunyikan Kelemahan Karena Takut Terlihat Biasa, Kecil, Atau Tidak Layak Dihormati.
  • Ia Mulai Memahami Bahwa Martabat Tidak Runtuh Ketika Ia Salah, Dan Pertumbuhan Sering Dimulai Ketika Ia Berhenti Mempertahankan Citra Tanpa Cela.


Supporting Axes

Poros penopang yang membantu menjaga kejernihan makna. Ia bukan solusi langsung, melainkan penyangga agar proses batin tidak runtuh ke distorsi.

Humility
Humility membantu Pride kembali ke ukuran yang benar: tidak merendahkan diri, tetapi juga tidak meninggikan diri.

Grounded Self-Worth
Grounded Self-Worth membantu seseorang merasa bernilai tanpa harus selalu unggul, benar, atau dikagumi.

Shame-Resilience
Shame Resilience membantu seseorang menerima kesalahan atau kelemahan tanpa runtuh menjadi malu yang menghancurkan.

Integrated Accountability
Integrated Accountability membantu koreksi dan tanggung jawab tidak dibaca sebagai penghinaan, tetapi sebagai jalan perbaikan.

Keluarga Pola Batin

Istilah ini berada dalam keluarga pola batin berikut.

Jejak Makna

psikologirelasionalspiritualitasreligiusitaseksistensialkeseharianetikaself_helppridekebanggaan-yang-mengangkat-diriharga-diri-yang-kehilangan-kerendahan-hatiidentitas-yang-terlalu-terikat-pada-keunggulanprideunhealthy pridedefensive prideego prideorbit-i-psikospiritualkebanggaan-yang-menutup-koreksi

Posisi Makna dalam Sistem Sunyi

Berada dalam rumpun makna:

kebanggaan-yang-mengangkat-diri harga-diri-yang-kehilangan-kerendahan-hati identitas-yang-terlalu-terikat-pada-keunggulan

Bergerak melalui proses:

rasa-diri-yang-membesar kebutuhan-terlihat-unggul harga-diri-yang-defensif kebanggaan-yang-menutup-koreksi

Beroperasi pada wilayah:

orbit-i-psikospiritual orbit-ii-relasional orbit-iv-metafisik-naratif relasi-diri stabilitas-kesadaran integrasi-diri etika-rasa orientasi-makna resonansi-iman praksis-hidup

Pembacaan Lintas Disiplin

Beberapa bidang mencoba memahami istilah ini dari sudut yang berbeda, tanpa selalu menyentuh pusat pengalaman batin.

PSIKOLOGI

Secara psikologis, Pride berkaitan dengan self-esteem, defensiveness, shame protection, social comparison, ego defense, dan kebutuhan mempertahankan citra diri. Pride yang tidak sehat sering melindungi bagian diri yang takut terlihat salah, lemah, atau biasa.

RELASIONAL

Dalam relasi, Pride membuat seseorang sulit meminta maaf, menerima koreksi, atau mengakui dampak. Percakapan mudah berubah menjadi pembelaan posisi, bukan ruang saling memahami.

SPIRITUALITAS

Dalam spiritualitas, Pride dapat muncul sebagai rasa lebih benar, lebih rohani, lebih sadar, atau lebih dalam. Ia memakai bahasa yang tampak baik untuk memperkuat posisi ego.

RELIGIUSITAS

Dalam kehidupan religius, Pride tampak ketika kesalehan, pelayanan, pengetahuan, atau kedisiplinan dipakai sebagai dasar untuk merasa lebih layak atau lebih tinggi daripada orang lain.

EKSISTENSIAL

Secara eksistensial, Pride menyentuh tempat manusia meletakkan nilai dirinya. Bila nilai diri hanya aman saat unggul atau dikagumi, hidup menjadi mudah defensif dan sempit.

KESEHARIAN

Dalam kehidupan sehari-hari, Pride tampak dalam sikap sulit mengakui salah, tidak mau terlihat tidak tahu, membela diri terlalu cepat, atau membandingkan diri secara diam-diam.

ETIKA

Secara etis, Pride perlu ditata karena dapat membuat seseorang menghindari tanggung jawab, menolak koreksi, dan lebih sibuk menjaga citra daripada memperbaiki dampak.

SELF HELP

Dalam bahasa pengembangan diri, pola ini dekat dengan defensive pride, ego pride, dan fragile self-esteem. Pembacaan yang lebih utuh melihat perlunya humility, self-respect, dan grounded self-worth.

Lapisan Pembacaan yang Sering Meleset

Beberapa pembacaan yang sering meleset ketika istilah ini dipahami tanpa konteks pengalaman batin.

Secara umum

  • Dianggap selalu buruk dalam semua bentuk.
  • Disangka sama dengan percaya diri.
  • Dipahami seolah seseorang tidak boleh merasa bangga atas usaha atau pencapaiannya.
  • Dianggap hanya kesombongan yang terang-terangan, padahal Pride sering bekerja secara halus dan defensif.

Psikologi

  • Dikacaukan dengan self-confidence, padahal percaya diri yang sehat tidak harus menolak koreksi.
  • Disamakan dengan self-respect, meski penghormatan diri tidak perlu meninggikan diri di atas orang lain.
  • Direduksi menjadi sombong, tanpa membaca rasa malu, takut kecil, atau insecurity yang mungkin dilindungi oleh Pride.
  • Mengabaikan bahwa Pride yang defensif sering muncul dari kebutuhan menjaga citra agar diri tidak merasa runtuh.

Relasional

  • Mengira meminta maaf berarti kalah.
  • Membaca koreksi sebagai serangan terhadap martabat.
  • Lebih ingin menang dalam percakapan daripada memahami dampak.
  • Menolak mengakui luka orang lain karena itu akan membuat citra diri terasa tercemar.

Dalam spiritualitas

  • Merasa lebih rohani karena lebih banyak tahu, lebih banyak melayani, atau lebih terlihat disiplin.
  • Menggunakan bahasa rendah hati untuk tetap ingin diakui sebagai rendah hati.
  • Membaca kelemahan orang lain sebagai bukti bahwa diri lebih matang.
  • Menolak koreksi rohani karena merasa sudah berada di posisi yang lebih benar.

Etika

  • Menyangkal kesalahan demi menjaga wajah.
  • Mengalihkan pembicaraan dari dampak yang dibuat kepada rasa tersinggung karena dikritik.
  • Membenarkan diri karena sulit menanggung rasa salah.
  • Mengorbankan kebenaran agar citra diri tetap tampak kuat.

Makna jarang salah. Yang sering meleset adalah cara kita mendekatinya.

Catatan bahasa sehari-hari
Padanan istilah yang lazim dipakai dalam percakapan umum, tanpa muatan definisi sistemik.

Sinonim umum:

unhealthy pride defensive pride ego pride inflated self-regard false superiority fragile pride self-exalting pride

Antonim umum:

Jejak Eksplorasi

Favorit