Page 66 - Majalah Berita Indonesia Edisi 26
P. 66


                                    66 BERITAINDONESIA, 07 Desember 2006BERITA BUDAYASastra ErotisBukan Mengumbar NafsuTak lepas dari bayang-bayang sensor danrisiko. Sebuah tema yang kerapdisalahpahami.ewan Kesenian Jakarta Jumat (10/11)lalu menggelarLampion Sastra 3di ruang terbuka Taman IsmailMarzuki, dengan mengangkatjudul “Sastra Erotis”. Pembacaan sastra di ruang terbuka inisengaja dilakukan untuk memberi keleluasaan kepada parapenonton agar rileks tanpaharus mengurangi kekhusyukan dalam pembacaan sastra.Dari judul tersebut sering kalimasyarakat kita menilai erotisitu merupakan hal yang vulgar.Pembacaan sastra-sastra erotisdalam Lampion Sastra 3 ini,bukan dengan maksud meneguhkan watak subversif erotisme, melainkan menempatkan erotisme sebagai tema yangsama pentingnya dengan tematema lain dalam sastra sepertitema ketuhanan.Pembacaan sastra ini ditujukan kepada para penontonkelahiran tahun 70-an, dariberbagai elemen seperti mahasiswa IKJ dan para dosen-dosennya. Dari sekian penontonyang hadir menyaksikan pembacaan sastra erotis itu, terlihat pula beberapa seniman,sedangkan mahasiswa IKJterlihat minim karena pagelaran pembacaan sastra erotistersebut berbenturan denganjam kuliah mereka.Sastra Indonesia sudahmenjadi bagian dari sastradunia yang tidak terlepas darisoal erotisme. Erotisme sebenarnya bukanlah sebuah perlawanan terhadap tirani moral, melainkan harus dipandang secara wajar-wajar saja.Pembacaan sastra ini merupakan rutinitas yang dilakukan pada Jumat sore setiapbulan.Pembacaan sastra erotislampion sastra kali ini mengangkat momen senja. “Tema yang dipilih ini berdasarkan kebutuhan penonton,”kata Nur Zen Hae, Ketua Komite Sastra DKJ yang barudilantik pada bulan Juli laluuntuk periode 2006-2009.Pembacaan sastra erotis inimemang bersifat santai, karena untuk menentukan topiktak ada diskusi pendahuluanuntuk menentukan sastra yanghendak dibuat. Semuanya diserahkan kepada hasil pemikiran atau pengalaman daripara pencipta. Itulah yangmemudahkan para pengarangsastra untuk membuat puisi.Hal itu diutarakan Zen kepadaBerita Indonesia.Pembacaan sastra erotis inimenampilkan karya puisiGoenawan Mohamad (Katakata Seperti Dencing Gobang,Menjelang Pembakaran Sita,Persetubuhan Kunthi danSang Minotaur), puisi AriPahala Hutabarat (Inlander inMotel dan Jarah Dusta), novelerotis Mottinggo Busye danDinar Rahayu.Selain karya sastra moderen,ada juga sastra klasik Jawa seperti Serat Centhini karyaRaden Ngabehi Sutrasna, Raden Ngabehi Yasadipura II danRaden Ngabehi Sastradipura(tembang 50, 51, 53, 54 dan56). „ RONDTak AdaPialadari PusanDua film pendek buatan Indonesia berjudul The Matchmakerdan Maya Raya Daya, ditayangkan perdana secara internasional di Pusan InternationalFilm Festival 2006, Korea Selatan Oktober lalu. The Matchmaker disutradarai oleh CinziaPuspita Rini dan dibintangiMariana Renata. SedangkanMaya Raya Daya yang disutradarai Nan T. Achnas, dibintangiLuna Maya.Majalah Tempo, 12 November 2006, mengulas perhelatanini dengan cukup detail. Sebanyak 245 film dari 63 negaraditayangkan kali ini. Diputar di33 layar yang tersebar di 7lokasi.Tempo juga mengulas sejarah rivalitas antara Jepang danKorea dalam industri perfilman.Para sineas Korea sukses menaklukkan pemirsa Asia. Bahkan ajang PIFF ini ikut memberikan andil membuat wargaKorea melek sinema.Dalam penutupan festivalyang kini disebut-sebut mengungguli Tokyo InternationalFilm Festival itu, pada 20 Oktober lalu, mengumumkan filmLove Conquers All karya sutradara perempuan Malaysia, TanChui Mui, 28, sebagai pemenang utama.Gatra, 15 November 2006,mengulas kelebihan film-filmMalaysia masa kini dibandingkan film-film Indonesia yanglebih berani mencari kisah-kisahbaru ataupun bahasa pengucapan yang baru. Dalam sebuahfilm terkadang mereka memakaisatu bahasa utama, namun jugamenyelipkan berbagai macambahasa lainnya. Ceritanya jugatidak berkiblat pada kota-kotabesar.Bandingkan dengan film Indonesia yang semua fokusnyaadalah Jakarta atau kota besarlainnya, Bandung atau Surabaya, misalnya. Nyaris semua berbahasa Indonesia, meski ada350 bahasa lokal yang masihaktif dipakai di negeri ini. „ RHfoto: berindo wilson
                                
   60   61   62   63   64   65   66   67