Page 61 - Majalah Berita Indonesia Edisi 26
P. 61
BERITAINDONESIA, 07 Desember 2006 61BERITA LINGKUNGANSungai Tercemar Ikan MabukMusimBanjirPasti TibaProgram penanggulanganbanjir di Ibukota Jakarta belummaksimal. Pintu air dan wadukdipenuhi lumpur dan sampah.Meski belakangan Jakartatak pernah diguyur hujan,namun musim penghujan pastiakan tiba juga. Seperti tradisitahunan, banjir akan datangberkunjung ke sejumlahtempat di Ibukota.Kenyataannya, PemerintahProvinsi DKI Jakartatampaknya belummempersiapkan antisipasibanjir secara maksimal. Disejumlah pintu air dan waduk,tampak lumpur dan sampahyang menunggu dikeruk.Sinar Harapan, 13November 2006,menggambarkan kondisi KaliMokervart di Jalan DaanMogot, Kali Sekretaris TanjungDuren Jakarta Barat, KaliAngke Pesing, beberapa pintuair sepanjang Jalan GunungSahari dan pintu airManggarai. Bahkan juga KaliCideng dan Kali Ciliwung yangmelintasi Mangga Besar.Sejumlah pompapengendali banjir yang ada dibeberapa pintu air di Jakartajuga rusak. Warga yangtinggal di daerah rawan banjirmeminta Pemprov DKI untuksegera melakukan pengerukansungai dan membersihkansampah-sampahnya.Kekhawatiran merekaberalasan karena akhir tahun2006 dan awal tahun 2007diprediksi sebagai siklus banjirlima tahunan.Penjaga Pintu Air BanjirKanal Barat Manggarai,Kusharyanto, mengatakanpihaknya sudah berusahamengatasi masalah lumpuryang berada di pintu airtersebut sejak tiga-empatbulan terakhir. Namun lumpurdi tempat itu semakin banyak.Saat ini sudah didatangkansejumlah alat berat untukmelakukan pengerukan.Namun belum dapatdipastikan kapan mulaidikerjakan. RHKualitas sungai di beberapa daerah di Indonesia semakinmemburuk. Pencemaran jadi faktor utama.atusan, mungkin ribuan ikan, mengapung di atas permukaan KaliBekasi dan saluran air Tarum Barat.Warga berebut mengambilnya. Adaikan baung, mujair dan jenis ikan lainnya.Kejadian seperti itu bukan pemandangan yanganeh bagi mereka, karena setiap tahun pastiterjadi. Ikan-ikan yang mengapung itu masihhidup, tapi mabuk. Air sungai tempat merekahidup memang telah lama tercemar.Koran Tempo, 14 November 2006, melaporkan, PDAM Bekasi menghentikan pengolahanair bersihnya. Sebab, air saluran Tarum Barat,yang merupakan air baku, tercemar. Pencemaran itu menyebabkan ratusan ikan mati dan mabuk.Tak hanya di Bekasi, menurut harian ini, ikanmati juga ditemukan di sepanjang SungaiKalimalang, seperti di Jalan Inspeksi Kalimalang, Kelurahan Cipinang, Jakarta Timur,warga terlihat mengeruk ikan dengan ember.Badan Pengendalian Lingkungan HidupDaerah (BPLHD) Kota Bekasi dan PerusahaanJasa Tirta II telah mengambil sampel air ituuntuk diteliti. Diduga, pencemaran disebabkanpembuangan limbah dari pabrik-pabrik diwilayah Bogor.Indikasinya, menurut Endar Marjani, KepalaBidang BPLHD Kota Bekasi, secara geografis,dataran kota Bekasi lebih rendah dari Kabupaten Bogor. Sehingga air Sungai Cileungsi danSungai Cikeas masuk ke Kali Bekasi dan saluraninduk Tarum Barat di Bendungan Bekasi.Majalah Tempo, 19 November 2006, jugamengulas masalah pemantauan sungai, yakniSungai Brantas di Jawa Timur. Menurutmajalah ini, kualitas air Sungai Brantas kinidipantau secara elektronik sehingga apapunyang mempengaruhi kualitas airnya bisa segeradiketahui.Piranti elektronik yang dipakai memantausungai dipasang oleh Pusat Penelitian Elektronika Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia(LIPI). Hasil pengukurannya akurat dan sangatbermanfaat. Pada tahun 2003, hasil pemantauan alat ini digunakan Perum Jasa Tirta IMalang untuk menutup pabrik yang membuanglimbah berbahaya ke Sungai Brantas.Piranti tersebut menggunakan teknologisensoris jarak jauh. Dikembangkan penelitielektronika LIPI, Djohar Syamsi, bersama JasaTirta I Malang dan pemerintah Austria. Mulaidibangun 1999 dengan 23 stasiun pemantau.Efektivitas alarm di Sungai Brantas inimembuat para pengelola aliran sungai tertarikuntuk memasang sistem yang sama. MenurutLIPI, alat sejenis sedang disiapkan di SungaiCitarum, Jawa Barat. RHRKualitas Sungai: Perlu dipantau dari pencemaran limbah industri.

