Page 60 - Majalah Berita Indonesia Edisi 26
P. 60
60 BERITAINDONESIA, 07 Desember 2006BERITA LINGKUNGANKitakyushu,Lain DuluLain SekarangIbu-ibu rumah tangga di Kitakyushu, Jepangberani membuat perbedaan. Berkatkesabaran dan kerja keras Akiko Mori,seorang guru yang mendapat pengakuandari PBB sebagai pejuang lingkunganhidup, bersama rekan-rekannya, Kitakyushuyang dulunya adalah kota yang palingberpolusi di dunia menjadi kota di Jepangyang pertama kali mendapat penghargaanUnited Nations Evironmental Programme’s(UNEP) Global 500 Award.etika ia memulaiaktivitasnya sehari-hari, YoichiKaminaga melihatkota dimana ia tinggal yangberada di lereng gunung. Iamelihat bagaimana angkasa disekitar kota itu dipenuhi olehsuatu lapisan berwarna merah,hitam, dan coklat. Akibatnya,kegelapan menyelimuti kotayang bernama Kitakyushu itu.Itu terjadi pada tahun 1960dan lapisan berwarna itu merupakan asap yang berasal dariratusan pabrik yang terdapatdi kota yang berada di bagianbarat Jepang itu. “Aku harusberjalan menembus kumpulanasap ketika pergi bekerja, danbaunya sungguh buruk,” ujarKaminaga, yang bekerja dipabrik batu bata. “Tetapi kamitidak mengetahui kalau hal ituberbahaya, bagi kami itu berarti kami sedang menghasilkan sesuatu bagi negeri ini.Sekarang aku sadar bahwakami sedang menghancurkanlingkungan.”Pada tahun 1960, Kitakyushu sebagai salah satu pusatkegiatan industri adalah kotayang paling berpolusi di Jepang. Namun Kitakyushu jugamerupakan salah satu kotautama di Jepang yang pertamakali melakukan pembersihanlingkungan. Adalah ibu-iburumah tangga yang tinggal dikota itu yang memulai perlawanan dan memprotes parapejabat dan eksekutif perusahaan agar mengendalikanpolusi pabrik-pabrik mereka.Pada sekitar tahun 1950 dan1960, para ibu rumah tanggadi Kitakyushu terdorong membentuk asosiasi-asosiasi wanita karena merasa pabrikpabrik yang tidak terkendaliitu telah membawa kerugianbagi keluarga mereka. “Merekatidak pernah mendapatkanpakaian yang mereka cucimenjadi putih,” ujar YoshikoMisuni, ketua dari KitakyushuForum on Asian Women, sebuah lembaga swadaya masyarakat yang menghimpun sejarah pergerakan wanita. “Anakanak mereka menjadi sakit.Itulah yang mendorong merekauntuk bertindak,” ujar Yoshiko.Karena banyak yang menikah dengan para pekerja ataueksekutif pabrik, wanita-wanita itu berada dalam posisiyang canggung untuk melakukan perlawanan terhadappabrik-pabrik yang memberikan penghasilan kepada keluarga mereka. Jadi daripadaturun langsung ke jalan-jalan,mereka mulai mengumpulkanbukti secara hati-hati. Bekerjasama dengan para profesordari universitas yang merasasimpati, mereka menghabiskan beberapa bulan untukmenghitung seberapa besarpolusi yang ada dengan melakukan eksperimen sederhanaseperti mengukur seberapa banyak debu yang menempel pada pakaian yang dijemur, mencatat berapa kali anak-anaktidak masuk sekolah karenagangguan pernafasan, bahkanmereka juga memasukkanikan ke dalam wadah yang diisidengan air yang diambil dariTeluk Dokai di sekitar IndustriKitakyushu, yang juga dikenalsebagai “Laut mati” (Ikan-ikanmati seketika). Dengan dipimpin oleh wanita yang banyakakal, Akiko Mori, seorang guruyang beberapa tahun berikutnya mendapat pengakuan dariPBB sebagai pejuang lingkungan hidup, mereka membawa laporan mereka ke pejabat kota dan eksekutif industri dan menuntut agar segera diambil tindakan. “Mereka juga mengatakan agarsemua orang melakukan sesuatu, karena polusi telahmempengaruhi semua orang,”ujar Beverly Yamamoto, seorang profesor di UniversitasOsaka yang telah mempelajaripergerakan itu.Tidak lama sesudah pemerintah Jepang untuk pertamakalinya menetapkan hukumyang mengatur polusi udara,Kitakyushu mulai menetapkanperaturan yang lebih keras.Pada awal tahun 1970, pabrikpabrik mengganti pembersihudara yang mereka miliki danmenggunakan bahan bakaryang tingkat polusinya rendah,yang secara drastis mengurangi keluaran asap karbondioksida. Pada tahun 1972,pihak kota mengeruk 350.000cu m merkuri dari tanah yangterkontaminasi di dasar telukDokai, yang 71% biayanyaditanggung oleh pihak industri. Pemerintah lokal jugamembuat regulasi yang mengharuskan pabrik-pabrik mengurangi asap karbondioksidasebesar 20-40% sehari. Tingkat debu di Kitakyushu berkurang hingga 75% dari tahun1970 – 1975 karena berkurangnya penggunaan batu bara.Ibu-ibu rumah tangga diKitakyushu telah membuatperbedaan. “Jika tidak adapergerakan wanita, saya percaya perubahan akan tertunda,” ujar Reiji Hitsumoto,seorang pejabat lingkungan dipemerintahan kota. Pada tahun 1990, Kitakyushu menjadikota di Jepang yang pertamakali mendapat penghargaanUnited Nations EvironmentalProgramme’s (UNEP) Global500 Award, berkat keberhasilan penduduknya dalam menyelamatkan kota yang palingberpolusi di dunia. Kini apabila kita menginjakkan kaki dikota Kitakyushu maka kitaakan melihat langit biru danair yang bersih di sekitarpabrik-pabrik yang mengeluarkan asap dengan lembutnya. DAP, MLPK

