Page 66 - Majalah Berita Indonesia Edisi 75
P. 66


                                    66 BERITAINDONESIA, April 2010BERITA BUKUfoto: reproPotret BahasaGenerasi “Ilfil”Dari kata “jomblo” sampai ‘retrospektif”, berbahasamengalami perubahan sesuai zaman, yang …”Gw banget!”akil rakyat @ senayan lebay smua. Brantem di depan kamera gak taw malu.Alaaaaaaaaaayy!” begitulah salah satu pernyataan/status sebuahakun di jejaring sosial, Facebook beberapapekan silam saat Sidang Paripurna terkaitkasus Bank Century berakhir ricuh.Jangan terburu-buru menyalahkanperkembangan teknologi, jika kebiasaanmenulis pesan singkat (SMS) serta gayamenulis dalam blog dan situs jejaringpertemanan mengalami perubahan dalamberbahasa. Jauh, bahkan sangat jauh dariperkembangan teknologi, medio 70-ankita mengenal ‘bahasa okem’ yang cukupmeresahkan orang tua dan kalanganpendidik kala itu.‘Bahasa okem’ sendiri punya gejala yangmirip dengan ‘bahasa gaul’ yang munculdi akhir era 90-an. Jika ‘bahasa okem’mulanya dipakai oleh preman yang identik dengan kriminalitas di lingkungan terminal dan perkampungan kumuh, maka‘bahasa gaul’ di awal 2009-an semulanyabanyak dipakai oleh kaum waria di salonserta di pusat pertokoan.Dengan cara berbahasa demikian,mereka bisa merahasiakan perbincanganberkaitan dengan hal-hal negatif tanpaperlu takut dimengerti orang lain. Merekamenciptakan sandi, mereka berkreasi,terus menciptakan kata baru, berinovasikata, atau mengganti arti kata yang lamamenjadi istilah baru dan seterusnya.Hanya karena kebiasaan itu terbawa keluar komunitasnya dan ketertarikanmanusia yang selalu memberi responspositif terhadap kedinamikaan, maka‘bahasa okem’ dan ‘bahasa gaul’ lebihmudah menyebar, dan menjadi sebuahperayaan kebahasaan sesuai zamannya.Buku Geliat Bahasa Selaras Zaman inisebenarnya hasil kompilasi dari lokakarya“Perubahan Konfigurasi Kebahasaan di Indonesia Pasca-Orde Baru” di kampus Universitas Indonesia, Depok pada tanggal 9-11 Juni 2008. Salah satu wacana besar yangdihasilkan, bahwa bahasa-bahasa di Indonesia telah dan sedang berubah setelahSoeharto lengser pada tahun 1998.Terdapat 14 makalah yang kesemuanyamenyoroti perkembangan bahasa di Indonesia dari berbagai aspek seperti politik,ekonomi dan budaya. Baik bahasa daerah,bahasa asing, perkembangan bahasakeseharian dan terutama bahasa Indonesia itu sendiri yang selalu bergeliat,‘berjuang’ mencari arah.Menurut Mikihiro Moriyama dalam kata pengantarnya (hal. xi-xii) terdapat duapenyebab perubahan tersebut. Penyebabpertama adalah berkurangnya kekuasaanpemerintahan pusat beserta kekuasaanpresiden dan bertambahnya otonomidaerah dengan diberlakukannya UndangUndang Republik Indonesia Nomor 25Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Provinsi sebagaiDaerah Otonomi. Perubahan politik initernyata mengurangi tekanan bahasa Indonesia sebagai alat pengikat “kebhinekaan” yang menjadi simbol bahasa nasional.Dengan kondisi seperti ini, bahasa daerahdan bahasa asing mempunyai keleluasaansemisal bahasa daerah akan muncul disiaran televisi lokal, bahkan bahasa Inggrisdan Mandarin mulai mempunyai jatah disejumlah program televisi.Penyebab kedua adalah arus globalisasi.Perkembangan teknologi seperti penggunaan telepon genggam dan internetyang telah menyebar di masyarakat luas.Seluruh masyarakat Indonesia sampai dipelosok pun bisa merayakan ‘kebebasan’berbahasa secara global, yang menyebabkan rembesan bahasa daerah dan asingmuncul dalam kehidupan sehari-hari.Pasca reformasi, ternyata bahasa Indonesia telah menunjukkan fenomena bagaimana bahasa Indonesia memamerkanglobalitas dengan menyerap berbagaiekspresi dan kosakata bahasa mancanegara,terutama bahasa Inggris. Tim Hassall dalammakalahnya “Fungsi dan Status KataPinjaman Barat” menelisik penggunaan kataasing yang sering digunakan, misalnya,seringnya penggunaan kata ‘retrospektif’sebagai kata ganti dari kata ‘surut’ yangsemulanya lazim digunakan. SedangkanManeke Budiman memaparkan lewatsejumlah fenomena dalam novel sastra Indonesia mutakhir, misalnya dalam novel Supernova karya Dee dan novel Geni Jorakarya Abidah El Khalieqy.Untung Yuwono dalam makalahnyaberjudul “Ilfil Gue Sama Elu – Sebuah Tinjauan atas Ungkapan Serapah dalambahasa gaul Mutakhir” (hal. 60-87)menangkap perkembangan ‘bahasa gaul’sebagai bahasa sehari-hari. Yuwono memperlihatkan bahwa diksi (pilihan kata) dangaya bahasa generasi kiwari berkembangsangat mencolok, bahkan berbeda darigenerasi Lupus (80-an), dan generasi Motinggo Busye (70-an) yang mempopulerkan bahasa ‘okem/prokem’ lewat novelnya. Kata-kata seperti lebay (berlebihan),alay (kampungan), jomblo (tidak mempunyai pasangan), ilfil (mati rasa), bete(bad mood), bajigur (bajingan), atau kata(seru) serapah lain seperti anjrit-sompret-kampret dan sebagainya sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalampercakapan sehari-hari yang kemudianmenjadi bahasa ungkapan tertulis yangmenyebar melalui SMS, blog, dan e-mail.Menikmati buku ini seperti menikmatipotret kebahasaan kita saat ini. Apakahmunculnya bahasa asing, kesadaranberbahasa daerah, juga perkembangan‘bahasa gaul’ di ruang publik akan mempengaruhi konfigurasi bahasa Indonesia?Dan, yang perlu diingat, jangan terburumenyalahkan arus (global) komunikasilewat perkembangan teknologi dulu.Buku ini menyimpan kunci jawabannya. Ia jadi lebih menarik lagi untuk disimak semua kalangan, terutama para siswa, mahasiswa dan para orangtua, yangdalam kehidupan lingkup terkecil merekadi sekolah, di lingkungan pergaulannya,dan terutama di rumah sehari-hari dimana mereka bisa menjadi agen perubahan. Apalagi dari sanalah mulanya kebahasaan bermula, lalu berkembang, berubah dan terus menggeliat. „ CHUS“WJudul Buku:Geliat Bahasa Selaras ZamanPenyunting:Mikihiro Moriyama dan Maneke BudimanTebal:423 halamanPenerbit:KPG, 2010
                                
   60   61   62   63   64   65   66   67   68