Page 61 - Majalah Berita Indonesia Edisi 75
P. 61
BERITAINDONESIA, April 2010 61BERITA IPTEKTeknologi di Balik AvatarSinema layar lebar besutan James Cameronberjudul Avatar menjadi buah bibir para penikmatfilm dalam beberapa bulan terakhir. KehandalanJames Cameron sebagai sutradara film memangtidak diragukan lagi. Beberapa film yang ia garapseperti Titanic (1997), The Terminator dan Aliens,sarat dengan special effect yang dibuat dengankomputer.Dalam karyanya yang terbaru, Avatar, keberadaan komputer semakin dominan. Ini bisa dibuktikan dari isi film Avatar yang sekitar 90% diisioleh animasi CGI (Computer-Generated Imagery). Meski dalam film The Terminator dan Aliens,animasi CGI sudah digunakan, namun tidaksecanggih yang diterapkan di Avatar. Belum lagipemanfaatan teknologi 3 dimensi membuat Avatar semakin istimewa.Pemanfaatan teknologi komputer yang intensifmembuat Avatar membutuhkan biaya hinggaUS$300 juta. Meski demikian, hanya satu bulansejak dirilis 17 Desember 2009, film ini sudah mencatat pendapatan kotor lebih dari US$1 miliar, lebihdari tiga kali lipat biaya pembuatannya.Membuat animasi CGI berefek 3D menjaditerlihat realistis memerlukan perangkat lunaktingkat lanjut (advanced) dengan banyak fitur danmampu menangani grafis-grafis rumit seperti3DS Max, Maya dan Blender (open source).Peran perangkat keras berspesifikasi tinggi jelassangat diperlukan untuk menghasilkan animasiCGI yang realistis. Itulah sebabnya, James Cameron memilih rumah produksi Weta Digital – yangpernah menggarap King Kong dan Lord of TheRings – untuk mewujudkan tampilan visual bangsaNa’vi, robot, pesawat tempur, serta pesona lanskaphutan dan pulau-pulau di Pandora. Di markasmereka di wilayah suburban Miramar, kotaWellington, Selandia Baru, terdapat peranti-perantikeras berukuran raksasa, meliputi studio, fasilitasproduksi, server farm, dan data center.Menurut majalah Information Management,Weta Digital memiliki ruangan data center seluassekira 929 m2. Di dalamnya terdapat lebih dari4.000 server blade HP Proliant BL2x220cberkekuatan34 racks, masing-masing memiliki 4chassis dengan 32 mesin. Komputasi inti inimengandung kurang lebih 40.000 prosesor dan104 TB RAM.Untuk media penyimpanan, Weta memanfaatkan network area storage berkecepatan tinggisebesar 3 petabytes dari BlueArc dan NetApp.Untuk penghubung antar perangkat, dipakai jaringan ethernet 10 Gigabit dari Foundry. Tidaklahmengherankan bila Weta Digital mendudukiposisi ke-197 dalam 500 besar superkomputerpaling bertenaga di dunia versi situs Top500.org.Rumah produksi berusia 17 tahun ini mengungkapkan, untuk mengerjakan Avatar, selama24 jam sehari superkomputer miliknya bisamengerjakan data sampai 8 gigabytes memorisetiap detiknya. Ketika versi final film Avatardirilis, jika dihitung mereka telah menyelesaikandata sebesar 17,28 gigabyte memori per menit.yang berada di tempat tersebut. Reviewsingkat pun dapat ditulis pengguna.Satya Witoelar, Chief Creative OfficerKoprol, mengakui inspirasi didapat darikebiasaan berpindah-pindah masyarakatkita terutama di kota-kota besar. Bersamadua rekannya, Fajar A. Budiprasetyo danDaniel Armanto, ia terjun di SkyEight,software house tempat lahirnya Koprol.Sejak diluncurkan ke publik Februari2009, pengguna Koprol telah mencapai 35ribu lebih. Mereka merupakan sasaran parapengiklan di Koprol. Dengan slogan “Targeted Advertising”, pemilik Koprol menjanjikan cara promosi yang lebih tepat sasaranbagi pemilik bisnis sekaligus penawaranyang lebih bermanfaat bagi pengguna.Misalkan, jika seseorang check-in diPondok Indah Mal, ia akan memperolehpesan atau SMS otomatis mengenai promosi atau event yang sedang berlangsungdi sana. Pesan yang dikirimkan pun bisadisesuaikan tergantung jenis kelamin,usia, hobi, atau kebiasaan pengguna tertentu. Hal ini terlaksana berkat user profiling yang sudah dikerjakan sebelumnya.Bagi para pemilik usaha, Koprol menyediakan akun khusus berlabel business account mulai dari yang gratis hinggaberbayar dengan fasilitas yang bervariasitentunya.Di tahun 2010 ini, Koprol berencanamenambah jumlah anggota dan merilisnative apps untuk Blackberry dan J2ME.“Pengembangan ke depan akan terfokuspada versi mobile karena itulah tujuannya, 40% akses Koprol saat ini dilakukandari ponsel,” jelas Satya.Tantangan klasik yang dihadapi tim kecilini adalah kekurangan sumber dayamanusia dan finansial. Selain tiga oranginti, ada 3 orang sifatnya membantu. Olehsebab itu, Koprol membuka pintu kerjasama bagi web developer lokal untuk samasama belajar dari sisi model bisnis, teknis,dan cara memahami keinginan pengguna.Bila LewatMana.com menyediakaninformasi jalan dan Koprol.com menyediakan informasi tentang si penggunanyasendiri, Urbanesia.com sedikit berbedadengan mengutamakan fungsi direktoribisnis dan memudahkan orang dalammencari toko atau jenis usaha lainnya.Meski demikian, Urbanesia tak hanyamenyediakan daftar nama toko dan jenisusahanya tapi juga menyandingkannyadengan teknologi berbasis lokasi. Artinya,kita dapat mengetahui toko terdekat yangberada dalam jangkauan kita. DaftarSPBU, ATM, restoran, sekolah, haltebusway, rumah sakit, dan tempat publiklainnya juga tersedia layaknya kita membuka Yellow Pages.Selina Limman, co-founder Urbanesia.com,mendapat ide situs ini dari pengalamanpribadinya ketika berbelanja. Ada toko yangmemiliki produk yang bagus tapi sulit diaksessehingga terkesan tidak laku. Sebaliknya,banyak orang yang bingung membeli barangdi lokasi sekitar karena tidak tahu.Berbekal pengalamannya memanfaatkan situs Yelp! dan Citysearch saat menjalani studi di AS, Selina berniat membangun situs direktori bisnis di Indonesia.Kebetulan, rekannya Natali Ardianto, memiliki pemikiran yang sama. Dan lahirlahUrbanesia.com pada bulan Mei 2009.Sedikitnya ada seribuan anggota diUrbanesia.com. Sebagian besar anggotamasih berstatus sebagai pengguna biasa,tapi ada pula yang sudah mulai membuatprofil bisnis miliknya.Mengusung konsep web berkekuatanuser-generated content, profil usaha dalamsitus ini diungguh sendiri oleh pemiliknya.Dilengkapi dengan fasilitas testimonial tokodimana pemilik bisnis dapat berinteraksilangsung dengan pelanggan. Inilah salahsatu kelebihan Urbanesia dibanding direktori online lokal lainnya.Daya tarik Urbanesia lainnya adalahrubrik Urban’s Notes yang berisi artikelseputar gaya hidup dan review tempatkiriman para anggota. Anggota yang aktifmenulis artikel, membuat profil bisnis,mengisi testimonial, sampai berbagi infopromo berhak mendapat poin. Poin yangterkumpul, nantinya dapat ditukar dengan merchandise atau voucher belanjadi toko-toko anggota Urbanesia.Kini Urbanesia mulai dilirik para stafonline marketing perusahaan kelas korporat. Perusahaan yang ingin bermitradiwajibkan membayar dan sebagai timbalbaliknya, Urbanesia memberikan layanankustomisasi tampilan dan pengelolaanprofil. Mereka juga diberi URL khusus,http://urbanesia.com/. Bagi para web developer,Urbanesia.com menyediakan API (Application Programming Interface).Jadi, tunggu apa lagi? Buruan bukaketiga situs ini dan rasakan kedahsyatannya! Buktikan kalau situs buatan dalamnegeri tidak kalah bermutunya dengan situs luar seperti Facebook, Twitter, atauFoursquare. CIDfoto: repro

