Page 65 - Majalah Berita Indonesia Edisi 76
P. 65
BERITAINDONESIA, Mei 2010 65BERITA HIBURANfoto: reproIndia yang Lain…Atas nama luka dunia, beginilah cara lain India memaknaisebuah tragedi.nilah jawaban yang dinanti banyakorang setelah film Slumdog Millionaire merona di jagat perfilmandunia sejak dua tahun silam. Sebagai film, Slumdog masih dianggap bukanfilm India, kendati cerita dan kru film sangat India. Lalu kini khalayak dunia digetarkan oleh kehadiran film My NameIs Khan (selanjutnya disingkat MNIK)yang kemudian India dikalungi rangkaianbunga selamat datang di kancah industrifilm dunia.Film berdurasi dua jam lebih ini lalutidak lantas meninggalkan patron yangsangat khas dalam pasar Bollywood. Kitabisa mencium kehadiran duet mautShahrukh Khan dan Kajol adalah trik jituuntuk menyiasati popularitas film khasBollywood yang dikemas sangat neo-realisini. Sehingga film ini begitu dekat denganpenonton lokal sekaligus dunia.Tak seperti film India lain, yang dibumbuhingga belasan lagu, MNIK hanya dihiasienam nomor lagu. Tak ada juga adeganromantis di padang rumput penuh bunga,nyanyian gembira di pegunungan Alpen, takada lagi lagu mengalun di titian hujan.Kendati jelas, MNIK sejak semuladikemas ingin keluar dari kutukan filmIndia yang penuh selendang dan tarianpinggulnya, film ini masih menyimpanaroma Hindustan. Keistimewaan lainnya,justru muncul ketika semangat penceritaannya yang membuat kita berdecak:inilah India yang lain.Rizwan Khan (diperankan oleh TanayChheda saat kecil, dan Shahrukh saatdewasa) adalah seorang muslim yatimyang mengidap sindrom Asperger. Ceritajadi mencorong ketika diperlihatkan,sebagai anak yang berbeda, Rizwan punyakeistimewaan lain. Di balik penampakkannya yang lugu dan terkesan tidak biasaitu, dia memiliki kecerdasan motorik.Selanjutnya diceritakan bagaimana hidupRizwan banyak sekali membantu orangbanyak berkat otaknya.Nasib membawanya ke Amerika, menyusul adik dan iparnya di San Fransisco.Dan, mudah ditebak, di sinilah ia berjumpa dengan pasangan jiwanya, Mandira(diperankan sangat indah oleh Kajol).Sejak detik pertama, film ini sudah memperlihatkan banyak sekali niatan untukmembentur-benturkan pandangan TimurBarat. Bagaimana stigma para bule memandang Asia (dalam hal ini India) sebelumbahkan setelah tragedi hitam 9/11. Namun,Karan Johar sang sutradara paham betulapa yang sebenarnya terjadi. Karan tidakingin bermelodrama dengan stigma Barat.Ia memunculkan banyak scene yang tidakcengeng, “Saya bukan teroris, hanya manusia biasa yang kebetulan bisa membetulkan banyak alat-alat yang rusak…” kataRizwan yang mengenakan sepatu Pumaketika petugas bandara menciduknya.Film ini sangat menjauhi penonton dengan unsur ketegangan dan tragedi. NovelisIndia mutakhir, Shibani Bathija menulisceritanya dengan kaca mata pembesarsehingga kita bisa membaca film tersebutsebagai pemandangan atas problematikastigmatik Barat yang kadang mencelakakan. Celoteh seseorang pada Rizwan,“Amerika tidak semuanya Bush…”Itulah yang bisa sedikit menjelaskanbagaimana salah satu obsesi Rizwan yangjauh-jauh datang ke negara Paman Samitu untuk menjumpai presiden George W.Bush dan kemudian sangat mengidolakanObama jauh sebelum proses kampanyedimulai. (Ingat kredibilitas Bush yangsangat buruk di mata Asia bisa digambarkan berbeda dalam film ini). Banyaksekali pembeda-pembeda yang kita barusadar setelah menyaksikan film ini. Kalaulebih tepat lagi, film ini tidak menyasarpada konsep “keluar dari kotak” tapimemang keampuhannya mencitrakanproblematika Barat-Timur dari dekat.“Saya hanya ingin berjumpa orang nomorsatu Amerika, sebab dia pasti orang nomor satu di dunia,” jelas Rizwan ketikaditanyai petugas.Sebagai sebuah film, apalagi dalamtataran industri Bollywood, MNIK mampu membawa gagasan Asia dalam kotakdunia. Meski banyak sekali ceramah,penjelasan-penjelasan yang kontraproduktif, niatan membingkai dialog sarat filsafat yang sungsang, dan bising dengansejumlah peristiwa besar dunia. Misalnya:Tragedi badai Katrina di Gerogia, tragedihitam 9/11, karut marut presiden AS,semuanya dipepatkan dalam sekali tepuk.Warna India yang masih kentara diwariskan film ini jelas akan menjadi penghangat kisah panjang seorang Rizwan darikecil hingga dewasa. Ketika badai datang,ia kebetulan sedang bertandang ke Wilhemina, Georgia. Amerika yang babakbelur dihantam badai itu juga diperlihatkan sangat lamban dalam mengatasibencana. Lalu, ada efek “from zero tohero” dalam diri Rizwan yang menjadisalah satu pahlawan yang menyelamatkansejumlah korban. Setting kali ini banyakdi seputar gereja kulit hitam.Ada keinginan besar dari film MNIKuntuk menjelaskan bagaimana kehidupansebagai muslim, seperti Rizwan juga sangatmenjunjung perdamaian meski beda agamadan keyakinan. Meski terkesan berlebihan,kehadiran Rizwan dalam potongan film inisangat ampuh untuk membuka mata Amerika yang sering salah kaprah melihat Asia.Film yang menjadi favorit di FestivalFilm Berlin ke 60 ini juga mampu mengangkat kembali nama Shahrukh Khan,sebagai bintang yang kadung terkenalsebagai spesialis film drama romantisuntuk lebih memperlihatkan usahanyamenggali daya akting. “Khan (maksudnyaShahrukh Khan) menghilangkan jejakdinasti Khan dalam Bollywood,” komentarThe Premier.Sedangkan komentar The WashingtonPost bisa dibaca sebagai komplemen bagifilm ini: “Shahrukh Khan terlahir kembalisebagai bintang dunia. Dia Hindu yangmemerankan seorang Muslim dengan natural, dan terutama daya pesona seorangsindrom Asperger dengan akurat.” CHUSI

