Page 56 - Majalah Tokoh Indonesia Edisi 42
P. 56


                                    S NEWS REVIEW56 S TokohINDONESIA.COM S Megawati Soekarnoputrinya Kasus 27 Juli 2006 (Kudatuli),Megawati juga tidak membalaskebencian dan dendam. Bahkan,sangat mengejutkan tatkala dia (PDIPerjuangan) mencalonkan kembaliSutiyoso (Pangdam Jaya ketikaKudatuli terjadi) untuk menjabatGubernur DKI Jakarta periodekedua (2002-2007).Saat itu, pemilihan gubernur masihdilakukan DPRD. Dan, PDI-P memiliki 35% kursi di DPRD I Jakarta.Dengan hanya berkoalisi denganPPP (dipimpin Hamzah Haz, Wapres)maka calon PDI-P (kader PDI-P)sudah pasti (di atas 50%, 43 dari 85kursi) memenangkan pemilihangubernur. DPD PDI-P Jakarta punsudah menggadang-gadang calonnya.Tetapi dengan amat mengejutkan,Megawati memilih Sutiyoso. Jangankan publik, Sutiyoso sendirimengaku amat kaget ketika diadipanggil Presiden Megawati danmenyatakan PDI-P akan mencalonkannya untuk periode kedua. “Sayakaget seperti orang kesetrum.Ibarat bakso Senayan yang panasdan enak, tinggal di santap saja, tapikoq rela dikasihkan orang lain,”pengakuan Sutiyoso.8 Sebab, Sutiyoso sebelumnya sama sekali tidakmenduga bakal dicalonkan PDI-P.Di tengah kekagetan, keharuandan kebanggaan Sutiyoso, PresidenMegawati menjelaskan bahwa diatelah berembug dengan WapresHamzah Haz untuk mencalonkanSutiyoso. “Saya tidak mau mengambil risiko demi kepentingan ibukotanegara,” kata Megawati.Sutiyoso bertanya untuk meredakan kekagetannya: “Apa Ibu sudahyakin atas keputusan mencalonkansaya kembali?” Sebab sepengetahuannya, PDI-P dan PPP sudah menggadang-gadang calonnya. Apa jawaban Megawati? “Itu urusan saya.Ini bukan masalah kepentinganpartai, tapi kepentingan yang lebihbesar, kepentingan bangsa,” kataMegawati, yang saat itu antara lainingin menjamin keberlangsunganPemilu dan Pilpres pertama langsung oleh rakyat 2004, tidak untukkepentingan politiknya sendiri.Keputusan ini sangat sulit dipahami oleh politisi biasa, apalagipolitisi pragmatis dan transaksional.Bahkan, Megawati dianggap ‘mengkhianati’ para pendukungnya yangmenjadi korban Kudatuli. Bahkandia dicaci tidak mau turun tanganuntuk menyelesaikan (mengusuttuntas) masalah tersebut. BagiMegawati, masalah Kudatuli sudahmenjadi ranah hukum. Tidak baikkalau ditarik-tarik menjadi urusanpolitik balas dendam.Ketiga, Megawati ketika menjabatPresiden RI sama sekali tidak membawa gerbong PDI-P ke Istana. Dialebih memilih birokrat berpengalaman menjabat Menteri SekretarisNegara. Sama sekali tidak adajabatan penting yang dipegang PDIP di lingkungan Istana. Kendatisesungguhnya, membawa kaderkader terbaik partainya ke istanaadalah hal yang sepantasnya. Tapidia memiliki pertimbangan di atasnilai kepantasan itu.Keempat, pemberian mandat(penugasan partai) kepada Jokowiuntuk mengemban amanat rakyatmenjadi Presiden Ketujuh. PDI-Psebagai pemenang Pemilu 2014tidak mencalonkan ketua umumnya8 Drs. Ch. Robin Simanullang, Biografi KepemimpinanSutiyoso, Sang Pemimpin, Gubernur DKI Jakarta di MasaSulit, Era Lima Presiden, Pustaka Tokoh Indonesia, 2014,hlm.143-154
                                
   50   51   52   53   54   55   56   57   58   59   60