Page 64 - Majalah Berita Indonesia Edisi 55
P. 64
64 BERITAINDONESIA, 20 Maret 2008LINTAS MEDIAListrik, Lumpur Lapindo,dan Natunaementara itu, setelah sekian lamatidak ada kesepakatan antarapemerintah dengan ExxonMobilmengenai pengelolaan Blok Natuna, akhirnya pemerintah memutuskanmenyerahkan pengelolaan pengeboran diKepulauan Riau itu kepada Pertamina.Topik-topik ini diangkat beberapa majalah nasional sebagai laporan utama awalMaret ini.Majalah Gatra (28/2-5/3) yang mengangkat laporan utama tentang krisis listrikmenyebutkan, krisis listrik akibat keterlambatan pasokan bahan bakar batu barake pembangkit listrik di Pulau Jawamemaksa diadakannya pemadaman bergilir di Pulau Jawa dan Bali. Pemadamanitu telah menimbulkan kemacetan sektorindustri, khususnya industri kecil danmenengah yang tidak siap dengan sumberlistrik cadangan. Keterlambatan pasokanbatu bara itu sendiri disebabkan “mengamuknya” Laut Jawa dan SamudraHindia beberapa pekan terakhir yangmembuat kapal pengangkut batu barabahan bakar pembangkit listrik tenagauap (PLTU) di Pulau Jawa terlambat.Beberapa tongkang pengangkut batu baraitu ada yang terpaksa bersandar beberapahari di pelabuhan terdekat, bahkan adayang terpaksa buang sauh di tengah lautselama sepekan sebelum berhasil membongkar muatannya di dermaga tujuan.Untuk mengantisipasi krisis listrik akibat kurangnya pasokan batu bara, salahsatu upaya yang diminta dilakukan pemerintah adalah membatasi ekspor batu baradan mengutamakan kebutuhan dalamnegeri. Sementara kepada masyarakatpelanggan sendiri diminta agar melakukan penghematan pemakaian listrik.Untuk merangsang pelanggan melakukanpenghematan, PLN pun memberikandiskon 20% bagi pemakai listrik kurangdari 80% rata-rata konsumsi nasional perpelanggan. Sebaliknya, jika pemakaianlebih dari rata-rata konsumsi nasional,pelanggan malah dikenakan 1,6 kali dariharga normal.Sementara laporan utama majalahTempo (25/2-2/3), kembali mengangkatkasus lumpur panas Sidoarjo. Kali ini,Tempo mengangkat topik ini terkaitperbedaan pendapat di DPR dalam menyimpulkan penyebab terjadinya semburan lumpur. Sebagian anggota Dewanmengusulkan untuk menanyakan kepadapresiden (interpelasi), tapi sebagian lagimengusulkan untuk memperpanjang masa kerja Tim Pengawas PenanggulanganLumpur Lapindo saja. Perbedaan pendapat itu sendiri berawal dari kesimpulantim pengawas yang dibentuk pada 9 September 2007. Kesimpulan tim yang beranggotakan 29 orang dari perwakilan semua fraksi di DPR dan diketuai SoetardjoSoerjogoeritno itu menyebutkan, bahwapendapat paraahli geologi masih terpecah mengenai penyebab semburan.Sebagian ahliberpendapatbahwa semburan lumpurtak terkait dengan pengeboran Lapindo, sedangkansebagian lagiberpendapatsebaliknya.Terakhir,sesuai laporanTempo, rapat Paripurna DPR memutuskan akan meminta penjelasanPresiden sebelummengambil kataakhir soal penyebabsemburan lumpuryang pertama kaliterjadi 29 Mei 2006tersebut. Sedangkan menurut Tempo, dari data, dokumen, dan informasi yang dihimpun, semakin jelastergambar bahwa bencana itu bukandipicu oleh gempa bumi di Yogyakarta.Indikasi kesalahan prosedur pengeboranoleh Lapindo Brantas Inc, kian kentara.Berbeda dengan dua majalah di atas,majalah Trust (25/2-2/3) menyorotipengalihan pengelolaan Blok Natuna.Menurut laporan Trust, setelah perundingan kontrak pengelolaan Natunaantara pemerintah dan ExxonMobilmengalami kebuntuan, Presiden SusiloBambang Yudhoyono akhirnya menyerahkan pengelolaan Blok Natuna D-Alphakepada Pertamina. Diisukan, posisi ExxonMobil nantinya akan diganti oleh perusahaan asal Jepang. ExxonMobil sendirimasuk ke kawasan Kepulauan Riau sudahsejak tahun 1980-an yang bergandengandengan Pertamina. Seiring dengan perjalanan waktu, perusahaan asal Amerikayang mulai dari nol itu akhirnya mengangkangi 76% saham pengelolaan diNatuna sementara sisanya dipegang olehPertamina. Sebelum kontrak habis padatahun 2005, ExxonMobil mengajukanperpanjangan selama dua tahun. Tapi,hingga awal tahun 2008, negoisasi keduapihak tidak menemui kata sepakat. Akhirnya, pemerintah memutuskan menyerahkan pengelolaan kepada Pertamina.Menurut sumber Trust, ExxonMobilmemang disuruh Jusuf Kalla untuk keluardari Natuna dengan ikhlas. Sebagai kompensasi, ExxonMobil akan diberi uangganti rugi sebesar US$ 200 juta atausekitar Rp 1,8 triliun. Skenario selanjutnya, karena Pertaminatak akan mampu mengerjakan Blok Natuna sendirian,Pertamina akan mencarimitra kerja yang dapat mendukung pendanaan dan teknologi Pertamina. Di sinilah diisukan masuknya perusahaanJepang yang digandeng olehHalim Kalla – adik Jusuf Kallayang selama ini mengendalikan Grup Bukaka. Namun, sumber Trustlain mengatakan, pendamping Pertaminanantinya bisa juga datang dari Cina.Sesuai dengan kabar yang dilansir Trust,kunjungan kenegaraan Jusuf Kalla ke Cinabeberapa waktu silam, juga sempat membicarakan masalah itu. MSPersoalan krisis listrik di negeri ini belum bisa diatasiwalau sudah menjadi “penyakit tahunan”. Sama halnyadengan masalah lumpur Sidoarjo, penyelesaiannya masihberputar-putar sekitar mencari apa penyebabnya.S

