Page 63 - Majalah Berita Indonesia Edisi 55
P. 63
BERITAINDONESIA, 20 Maret 2008 63BERITA LINGKUNGANHabitat BaruSi Kepala BundarDahulu pesut pernah ditemukan di banyakmuara-muara sungai di Kalimantan, tetapisekarang pesut menjadi satwa langka.im survey dari BalaiTaman Nasional Kayan Mentarang menemukan habitatpesut (Orcaella brevirostris).Mamalia air tawar terakhir initerancam punah dan telahmasuk dalam Appendiks IIConvention on InternationalTrade in Endangered Speciesof Wild Fauna and Flora(CITES).Menurut Kepala Balai Taman Nasional Kayan Mentarang IGNN Sutedja, habitatpesut Mahakam ditemukan diSungai Sesayap yang mengalirdari wilayah hulu Malinaumelalui Kabupaten Bulungan.Sutedja menjelaskan, selamaini pesut Mahakam hanya diketahui berada di sepanjangperairan Sungai Mahakam,Danau Jempang, Danau Semayang, dan Danau MelintangKalimantan Timur.Tim survey pada 10-12 Januari 2008 telah berhasil merekam melalui kamera videodan kamera digital tujuh ekorpesut. Pertama kali muncul kepermukaan air sungai satuekor pesut muda dengan duakali loncatan kecil. Hanyatampak punggung dan siripbagian atasnya saja yang berlokasi di perairan teluk Sesino,Berikutnya sebanyak 6 ekorpesut ditemukan di perairanLubok Langit, di seberangDesa Sengkong.Menurutnya, survei kali inimerupakan kali yang keduasetelah sebelumnya dilaksanakan pada Agustus 2007. Saatitu tim juga melakukan surveipada lokasi yang sama danmenemukan 11 ekor pesut.Tidak seperti mamalia airlain yakni lumba-lumba danikan paus yang hidup di laut,pesut hidup di sungai-sungaidaerah tropis. Populasi satwalangka yang dilindungi Undang-Undang ini hanya terdapat pada tiga lokasi di duniayakni Sungai Mahakam, Sungai Mekong, dan Sungai Irawady.Dahulu pesut pernah ditemukan di banyak muaramuara sungai di Kalimantan,tetapi sekarang pesut menjadisatwa langka. Kecuali di sungaiMahakam, di tempat ini habitat Pesut Mahakam dapat ditemukan ratusan kilometer darilautan yakni di wilayah kecamatan Kota Bangun, kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Habitat hewanpemangsa ikan dan udang airtawar ini dapat dijumpai diperairan Sungai Mahakam,danau Jempang (15.000 Ha),danau Semayang (13.000 Ha)dan danau Melintang (11.000Ha).Pesut mempunyai kepalaberbentuk bulat (seperti umbi) dengan kedua matanyayang kecil (mungkin merupakan adaptasi terhadap airyang berlumpur). Tubuh pesut berwarna abu-abu sampaiwulung tua, lebih pucat dibagian bawah - tidak ada polakhas. Sirip punggung kecildan membundar di belakangpertengahan punggung. Dahitinggi dan membundar; tidakada paruh. Sirip dada lebarmembundar.Pesut bergerak dalam kawanan kecil. Walaupun pandangannya tidak begitu tajamdan kenyataan bahwa pesuthidup dalam air yang mengandung lumpur, namun pesutmerupakan ‘pakar’ dalammendeteksi dan menghindaririntangan-rintangan. Barangkali mereka menggunakanultrasonik untuk melakukanlokasi gema seperti yang dilakukan oleh kerabatnya di laut.Populasi MenyusutPopulasi hewan ini terusmenyusut akibat habitatnyaterganggu, terutama makinsibuknya lalu-lintas perairansungai Mahakam, serta tingginya tingkat erosi dan pendangkalan sungai akibat pengelolaan hutan di sekitarnya.Kelestarian pesut Mahakamjuga diperkirakan terancamakibat terbatasnya bahan makanan berupa udang dan ikan,karena harus bersaing denganpara nelayan di sepanjangSungai Mahakam.Pada April 2005, seekorpesut ditemukan mengapungsekarat oleh seorang nelayan.Kondisi mamalia air tawar itumengenaskan dengan bagiantubuh yang compang-campingkarena kulitnya sudah mengelupas dan berdarah.Pesut yang dari ciri fisiknyapersis seperti yang ditemukanratusan kilometer di selatanSungai Mahakam, itu lalu diotopsi. Pembedahan mengungkap nasib yang lebih tragislagi, organnya ternyata mengalami perdarahan. Sebelumtertabrak kapal cepat ataupunketinting, kapal kayu yang ditempeli motor, yang ramai melintas dari Tarakan menujuMalinau, atau sebaliknya, pesut itu kemungkinan keracunan.Berdasarkan dialog denganpara nelayan yang bermukimdi sepanjang Sungai Sesayap,keberadaan pesut itu sudahdiketahui sejak dahulu kala.Penduduk setempat menamakannya lamud. Dalam bahasasuku Tidung, lamud artinyalumba-lumba.Satwa ini dikeramatkan masyarakat Tidung yang hidupturun temurun di pinggir sungai Sesayap. Hal inilah yangsecara otomatis membentuksuatu kearifan lokal di kehidupan masyarakat untuk melestarikan pesut dan membiarkannya hidup berdampingan dengan manusia. RHTHabitat baru di sungai Sesayap.

