Page 58 - Majalah Berita Indonesia Edisi 55
P. 58


                                    58 BERITAINDONESIA, 20 Maret 2008BERITA PEREMPUANmenjabat sebagai kepala Divisisosialisasi Pemilihan Umumpada KPU periode 2000-2004.Wajahnya sering muncul diberbagai media, baik cetakmaupun elektronik. Apalagidia begitu akrab dengan parawartawan. Inilah pengalamanpaling berarti dalam hidupnya.Apalagi inilah untuk pertamakali Indonesia menyelenggarakan pemilihan umumlangsung dengan jumlah pemilih sebanyak 152 juta jiwayang berlangsung sukses, damai dan demokratis. Atas prestasi ini, bangsa Indonesia pernah mendapat penghargaanmedali demokrasi atau Internasional Democracy Awarddari sebuah Asosiasi KonsultanPolitik Internasional pada 12November 2007.Peraih gelar magister ilmupolitik Program Pasca SarjanaUniversitas Indonesia (UI)1996 ini berpendapat bahwarakyat Indonesia mulai ‘melek”politik. Selain itu, konstitusidan demokrasi Indonesia dimata dosen FISIP UI ini memang berjalan dan maju pesat.Sepatutnya, keberhasilan dalam menggelar hajatan besarini tercatat dalam sejarahbangsa ini.Lulusan S1 FISIP UI 1985 inikembali membuka memorinya, saat ia masih aktif memberikan pencerahan menjelangpemilu 1999. Bagaimana perempuan asal Singkawang,Kalimantan Barat dan besar diJakarta ini terlibat langsungdalam memandu acara talkShow ‘Wacana Pemilu’ di stasiun ANTeve. Acara ini adalahsebagai salah-satu programUniversitas Indonesia dalamusaha melakukan pendidikanpolitik bagi masyarakat. Selainitu dia aktif juga dalam sebuahseminar, diskusi, dan rajinmenulis di berbagai mediamassa mengenai politik.Dengan bangga pula MantanPengurus Besar (PB) HMI1981-1982 menyatakan, belumada negara di dunia ini kecualiIndonesia yang paling seringmelakukan pemilihan secaralangsung, termasuk pemilihankepala daerah. Padahal, kondisi Indonesia menurut pandangan wanita bersuamikanDr H Imam Subekti ini masihtermasuk sebagai negara demokrasi prosedural. „ ZAH, RHekelumit detik-detikmengamandemenUUD 1945 dituangkan perempuan yangakrab dipanggil Valina inidalam sebuah buku berjudul“Menyusun Konstitusi Transisi; Pergulatan Kepentingandan Pemikiran dalam ProsesPerubahan UUD 1945.”Buku setebal 435 karya perempuan kelahiran Singkawang, 6 Maret 1961 yang diluncurkan pada pertengahanbulan Januari 2008 itu menggambarkan tentang informasimenyeluruh soal proses yangterjadi di MPR saat terjadinyaamandemen UUD tahun 1999.Buku itu juga berisi mengenai pemikiran politik yangberkembang maupun kepentingan politik yang ada saat itu.Dalam buku itu, Valina jugamemberikan gambaran gamblang dari sebuah pergulatandirinya ketika masih menjabatsebagai anggota MPR RI.Valina berharap, masyarakat Indonesia mengerti danmemperoleh informasi menyeluruh bagaimana proses amandemen itu terjadi. Agar nantinya, masyarakat Indonesiamemiliki rasa dan bertanggung jawab terhadap konstitusi.Keberhasilan sebuah demokrasi di mata Valina, bukan hanya berhubungan dengan luasnya wilayah Indonesia, banyaknya jumlah penduduk,dan faktor kultural Indonesiayang majemuk, tapi juga dilandasi dengan tingkat kesejahteraan masyarakat yang lebihbaik.Valina mengaku banyak peristiwa dan proses yang mengiringi saat menyusun bukuyang merupakan disertasi Valina saat meraih gelar Doktordi UI itu. Diantaranya, tahun2004, Valina sempat cuti setahun untuk mempersiapkanPemilu 2004. Disusul, kemudian soal kasus hukum diinternal KPU yang sempatmembuat disertasinya terbengkalai. Khususnya, saatteman-temannya sesama anggota KPU terlibat dalam kasussuap. Dirinya termasuk yangsempat dimintai keterangan.Pada saat itu, hampir sajaValina putus asa dan engganmenyelesaikan tulisannya itu.Namun Valina bersyukur, ternyata keluarganya memberikan dukungan yang cukupbesar. Begitu juga promotornya, Maswadi Rauf dan Isbodroini Suyanto yang memberinya terus semangat untuk menyelesaikan buku itu. Termasuk dukungan dari koleganyadi KPU, Chusnul Mar’iyah.Pengalaman BerartiPublik mengenal Valina saatSValina Singka SubektiTanggung JawabTerhadap KonstitusiBaginya, Amandemen UUD 1945 itutidaklah mudah, tapi melalui proses politikyang luar biasa.Valina Singka Subekti (berjilbab) bersama koleganya di KPU saat menemui Presiden.foto: presidensby.info
                                
   52   53   54   55   56   57   58   59   60   61   62