Page 62 - Majalah Berita Indonesia Edisi 65
P. 62
62 BERITAINDONESIA, Maret 2009AnjingGeladakyang MengkilapAda yang lebih berhargadari sekadar delapan Oscar.ndia sedang merasakan manisnyasebuah takdir. Semirip itulah yangsedang terjadi pada film SlumdogMillionaire garapan sutradaraDanny Boyle. Takdir telah menobatkanSlumdog jadi yang terbaik di sejumlahfestival film dunia. Selain menggondolempat penghargaan Golden Globes sertatujuh piala BAFTA, dan yang baru sajalewat delapan piala Oscar pun telahdiraihnya. Dunia menyebut film Slumdog,ketika itu orang melupakan arti harafiahnya (anjing geladak), lalu nama India lahyang dikenang.Slumdog mutlak buatan Inggris. Darisutradara, penulis skenario, kru studiosampai pihak Fox Searchlight yang jadipenyokong dana utamanya pun semuaberasal dari Inggris. India mengambilperan di semua pemain filmnya, sebagiankru lapangan dan tempat pengambilanfilmnya di Mumbai, India. India mengambil peranan yang sangat besar. Indiaadalah jiwa di mana cerita film ini berasal…” tulis harian The Telegraph.Slumdog Millionaire sendiri diangkatdari sebuah novel dengan judul yang samagarapan Vikas Swarup. Semula novel itudisambut dingin oleh pembaca India.Swarup yang juga seorang diplomat itutidak patah arang, ia mengirim novelnyake sejumlah publisher dan produsermancanegara. Akhirnya Danny Boyle yangmenangkapnya.Slumdog berkisah tentang perjalanantakdir seorang bujang miskin bernamaJamal Malik (diperankan Dev Patel).Yatim piatu yang tinggal di kawasankumuh (slum) di Mumbai itu mengejarmimpinya lewat acara kuis televisi, WhoWants To Be A Millionaire. Berbedadengan jutaan orang India yang mimpiingin kaya lewat kuis, Jamal hanya punyasatu tujuan: menemukan kembali Lantika(diperankan Freida Pinto), cinta sejatinya.Dari sanalah film itu bertutur. Setiappertanyaan dalam kuis membawanya kemasa lalu, di mana Jamal hidup di kawasan kumuh Mumbai.Setelah filmnya menuai sukses, Slumdog menjadi euforia di negerinya. Yangmemuji setinggi langit memaknai film inisebagai aset promosi India di mata dunia.“Si Anjing Geladak” menduduki peringkatpertama bioskop India selama empatbulan lebih, bahkan di Inggris, Amerikadan Kanada mampu mengungguli filmBenjamin Button, Wrestler dan filmkomedi romantik Vicky Cristina Barcelona. Hingga akhir Januari Slumdogmeraup lebih dari 210 juta dollar. Di pihakyang mencibir, Slumdog dianggap sebagaimedia “penghasut” yang mengeksploitasikemiskinan India sebagai hiburan belaka.Media IntrospeksiDua mata pisau film sebagai media“promosi budaya” selalu mengundang prokontra. Dalam kasus Slumdog tadi misalnya,penggambaran komunitas dalit di kawasankumuh sempat sedikit mengusik ketenangan antar suku di sana. Tapi padaintinya, India telah berhasil melewati keterbatasan dirinya terhadap visi dunia luar.Sisi terang Slumdog justru muncul darisisi gelapnya. Realitas kumuh kota Mumbai adalah dark side yang dianggap telahmenghina India di mata dunia. Tapi di situsisi human interest-nya lahir dalam paparan kerasnya kehidupan kaum kumuhyang ternyata tidak semuanya bejat.“Dunia luar terlalu enggan melihat Bollywood sebagai dunia yang khas dengancitra lokalnya sendiri. Slumdog mencapaiestetika bukan dari dramatisasi kawasankumuh. Kehadiran Jamal (Malik) menghapus keterpurukan mentalitas orang(kumuh) di Mumbai dengan kesucian hatidan cintanya…,” tulis majalah Premier.Hollywood kerap dituding doyan menggambarkan Asia sebagai benua yang bobrok.Indonesia juga pernah dijadikan bulanbulanan Hollywod, misalnya dalam filmJumanji. Sekembalinya Alan Prarrish (RobinWilliams) ke dunia nyata setelah terperangkap dari dunia Jumanji dikira akanmengganggu keamanan kota. Diterangkandalam film tingkah lakunya yang aneh itudisebabkan karena ia baru saja melakukanperjalanan misi perdamaian ke Indonesia.Meski selintas, nama Indonesia jugasempat dicolek-colek dengan image buruknya, misalnya dalam film Kingkong,The Year of Living Dangerously, TheSwetest Thing, Anacondas, LethalWeapon 4. Jika memang betul Indonesiaseburuk itu, dan filmnya sudah sempatmenjadi citra Indonesia di mata dunia,mungkin sudah saatnya mengubah filmmenjadi media instrospeksi diri, bukanlagi sekadar media “promosi budaya”.Kita bisa iri sejadi-jadinya dengan hutanThailand dalam film Mortal Combat.Melihat bagaimana nama Thailand jadiharum ketika Hollywood mengulas kelestarian hutan Muangthai itu bisa jadi celahuntuk melihat kembali bagaimana hutanyang kita punya sekarang. Atau dalam filmEntrapment, Malaysia ikut terekspos lewatsetting menara Petronas. “Proses pengambilan gambar sangat menyenangkan. Semuaberjalan lancar dan ternyata Malaysia begituindah dengan birokrasi yang profesional,”kesan Sir Sean Connery yang menjadi peranutama dalam Entrapment.Belajar dari Slumdog, seharusnya kitatak perlu merasa kuatir kalau cetak birusebuah negara hanya bisa digambarkandari sisi gelap sebuah film. Jika memangbelum sempat membuat gebrakan lewatkarya balasan untuk mengharumkannama Indonesia, marilah berkaca danmawas diri lewat kisah “Si Anjing Geladak”. Sebab di sana ada gambaran Asiayang kumuh, tapi juga hidup dengan cintadan welas asih. CHUSIBERITA FILMMERAJUT MIMPI: Seorang bujang miskinberjuang menemukan kembali cinta sejatinyafoto: ist

