Page 61 - Majalah Berita Indonesia Edisi 38
P. 61


                                    BERITAINDONESIA, 24 Mei 2007 61Tangis Ki Hajar DewantaraCita-cita pendidikan masih jauh dari kenyataan, bahkan didalam praktiknya semakin banyak anomali. Prinsip asih,asuh, dan asah yang dikembangkan Ki Hajar Dewantarajadi aktual kembali untuk merengkuh tujuan hakikipendidikan, yaitu meningkatkan mutu manusia Indonesiaagar cerdas dan berakhlak mulia.ari Pendidikan Nasional yangjatuh tanggal 2 Mei, diulas didalam hampir semua tajukrencana harian ibu kota, Jakarta. Pada hari yang sama (2/5), harianKompas menyoroti makin banyaknyaanomali—penyimpangan atau tidak normalnya—praktik pendidikan di Indonesia.Tidak hanya menyangkut soal ujiannasional, tetapi juga pemberlakuan disiplin dengan kekerasan fisik.Menurut koran sangat berpengaruh ini,anomali pendidikan perlu dikembalikankepada semangat dasar pendidikan yangberorientasi pada anak didik. Prinsip asih,asuh, dan asah yang dikembangkan KiHajar Dewantara niscaya aktual kembalidi tengah tantangan global. Tiga acuankebijakan yang perlu diterapkan, yaitumengembangkan peserta didik belajaruntuk tahu, belajar untuk berbuat, danbelajar untuk hidup bersama.Tajuk Media Indonesia menyorotipendidikan dari sudut anggaran. Koranini mengulas gugatan PGRI kepadaMahkamah Konstitusi agar gelar uji material terhadap UU APBN 2007 yangmenetapkan anggaran pendidikan11,8%, MK sendiri sudah dua kali mengingatkan pemerintah agar bersungguhsungguh memenuhi porsi 20% anggaranpendidikan sebagaimana yang diamanatkan oleh UUD 1945. Karenanya, MKtanpa ragu memutuskan bahwa alokasianggaran yang tidak genap 20% menyalahi UUD.Namun menurut MI, Mahkamah tidaktegas menyatakan bahwa pemerintah telah melanggar UUD. Hanya memberi peringatan agar pemerintah bersunguhsungguh melaksanakan perintah konstitusi. MI berpendapat, seharusnya perintah konstitusi, apalagi yang sangat eksplisit, tidak bisa multitafsir. Ketidakmampuan memenuhi perintah UUDadalah pelanggaran berat, bahkan sangatberat.MI memaklumi persoalan yang dihadapi pemerintah, seperti memakan buahsimalakama. Memenuhi anggaran pendidikan 20%, berarti melabrak rasionalitaspotensi riil keuangan negara, sedangkanmengabaikannya sama artinya menghianati konstitusi. Namun menurut MI,persoalan besar dalam pendidikan negeriini tidak semata-mata menyangkut persentase anggaran. Persoalan sesungguhnya, bahkan yang terutama, justru padaorientasi penggunaan uang demi tujuanhakiki pendidikan itu sendiri, yaitu meningkatkan mutu manusia Indonesia agarmampu bersaing dalam percaturan global.Saran MI, kalau pemerintah sungguhsungguh berjuang tulus meningkatkanmutu pendidikan nasional, dari padamembangun kantor sebuah direktoratyang menyaingi kemewahan supermall,mengapa tidak membangun sistem jaringan komputer ke sekolah-sekolah supayaanak didik mulai memiliki akses global.Sedangkan Bisnis Indonesia dalamtajuknya mengulas masalah pendidikandari sudut pemerataan. Hari kelahirantokoh pendidikan nasional Ki HajarDewantara, 2 Mei (1889) diperingatisebagai Hari Pendidikan Nasional. Artinya perguruan Taman Siswa yang didirikan tokoh pendidikan yang bernama asliRaden Mas Soewardi Soerjaningrat itu,telah melahirkan banyak calon pemimpinnegeri.BI hanya mengingatkan bahwa kerjakeras Ki Hajar di dalam dunia pendidikanbelum mampu mengangkat bangsa agarsepenuhnya mandiri di bidang pendidikan. Saat ini, betapa banyak anak yangbelum atau bahkan tidak mengenyampendidikan sama sekali. Indikatornyajelas. Di kota besar, banyak anak yangberkeliaran pada jam sekolah. Sebagiandari mereka tampak lusuh dan mengemis.Di tempat lain, masih banyak anak yangbelajar di alam terbuka lantaran bangunan sekolah yang sudah reot atau ambruk.Di pendidikan tinggi pun cukup banyakterjadi ketimpangan, terlebih setelah status sejumlah perguruan tinggi negeri(PTN) terbaik di negeri ini diubah menjadibadan hukum milik negara (BHMN). Kini,dengan kecerdasan di atas rata-rata pun,tamatan SLTA yang berasal dari keluargakelas menengah ke bawah akan sangatkesulitan untuk kuliah di PTN tersebut.PTN favorit terkesan hanya menerimaanak dari keluarga mampu. Dari alamsana, Ki Hajar Dewantara mungkin menangisi betapa upaya yang dirintisnya kininyaris tidak berlanjut. Tulis BI, pendidikan bagi rakyat jelata yang diimpikannya belum juga menjadi kenyataan.Harian sore Sinar Harapan menyorotipendidikan yang dikaitkan dengan undangan UNESCO kepada Presiden SusiloBambang Yudhoyono untuk menyampaikan pidato kunci pada pembukaansidang umum badan tersebut. UNESCOmengundang Presiden Susilo lantaran Indonesia dinilai sukses melaksanakankomitmen pendidikan untuk semua,sebagaimana tercantum dalam MilleniumDevelopment Goals.Tulis SH, pengakuan UNESCO tersebutsangat menggembirakan. Namun itubukan akhir, melainkan awal dari perjuangan di bidang pendidikan. Masihbanyak yang harus dibenahi supayabangsa Indonesia mampu membangun,memajukan, memelihara dan menjagakewibawaan negara. Dalam beberapatahun terakhir bangsa ini dilecehkan dandipaksa mengikuti kehendak negara lain,seperti dalam kasus Timor-Timur danSipadan-Ligitan.Negara lain bisa memaksakan kehendak karena bangsa ini dianggap lemah; didalam kekuatan militer, perekonomian,kesiagaan, dan kelekatan sosial. Salah satusebab dari kelemahan itu, berpangkalpada bidang pendidikan yang tidak bisamenghasilkan manusia Indonesia yangcerdas sekaligus berakhlak mulia.SH menganggap kecerdasan dan akhlak harus berkaitan sebab para koruptordan mitranya dalam pemerintahan punterdiri dari orang-orang yang pandainamun tak berakhlak. Pendidikan jugamesti mampu menyadarkan bahwa kebahagiaan tidak identik dengan kepemilikan harta yang melimpah dengancara-cara tidak benar. „ MS, SHHLINTAS TAJUK
                                
   55   56   57   58   59   60   61   62   63   64   65