Page 58 - Majalah Berita Indonesia Edisi 38
P. 58
58 BERITAINDONESIA, 24 Mei 2007BERITA MANCANEGARAIndonesia Bukan BoliviaLangkah yang diambil Presiden Bolivia EvoMorales memang heroik. Pertanyaannya,apakah nasionalisasi ala Bolivia bisaberlaku di Indonesia?etahun yang lalu, EvoMorales menandai dimulainya sejarah baru di Bolivia. Dalampidatonya menyambut hariBuruh sedunia di ladang minyak San Alberto, negara bagian Tajira di selatan Bolivia,Evo Morales, yang baru menduduki kursi presiden selamalima bulan membuat keputusan yang tidak pernah beranidiambil oleh para presidenpendahulunya. Sebagai catatan, setidaknya dalam enam tahun terakhir sudah ada enampresiden di Bolivia yang datang dan pergi dalam waktuyang cepat. Dua presiden sebelumnya, Gonzalo Sanches deLozada dan Carlos Mesa diusirrakyatnya karena menempatkan diri sebagai pembela kepentingan korporasi asing, bukan kepentingan rakyat Bolivia.Saat itu, Evo Morales mengingatkan perusahaan minyakasing yang beroperasi di Bolivia untuk tunduk pada ketentuan proporsi pemilikan yangakan ditetapkan pemerintahBolivia. Selain itu, semua penjualan produk mereka juga diatur pemerintah Bolivia. “Jikamenolak, mereka kita persilakan keluar dari negeri ini.Saat ini, penjarahan sumberalam kita oleh perusahaanasing telah berakhir,” katanya.Morales berprinsip, “Tak adayang diberikan kapitalismekepada rakyat Bolivia, kecualikemiskinan dan penindasan.”Morales kemudian memberikan tenggat waktu enam bulan kepada perusahaan-perusahaan asing tersebut. Tetapi,sehari setelah pidatonya itu,militer dan petugas dari badanenergi Bolivia menduduki 56ladang gas dan minyak sertainstalasi penyulingan di seluruh negeri. Dekrit PresidenNomor 28701 tentang nasionalisasi industri migas diterbitkan. Isinya antara lain, cadangan minyak dan gas Boliviadinasionalisasi; 51 persen saham pemerintah yang pernahdiprivatisasi di lima perusahaan migas pada tahun 1990diambil kembali; seluruh perusahaan migas asing harus menyetujui kontrak baru yang ditentukan Yaciementos Petroliferos Fiscales Bolivianos(YPFB), perusahaan negaramilik Bolivia dalam tempo 180hari; gabungan pajak dan royalti yang diserahkan perusahaan gas asing yang memproduksi lebih dari 100 jutakaki kubik dinaikkan menjadi82 persen dari sebelumnyayang hanya 50 persen danmula-mula hanya 30 persen;Pemerintah Bolivia melakukanaudit investasi dan keuntungan semua perusahaan migasasing di Bolivia untuk menentukan pajak, jumlah royaltidan ketentuan operasi di masadepan; dan tak kalah penting,migas hanya boleh dieksporsetelah kebutuhan domestikBolivia dipenuhi. Jika tidaksetuju isi dekrit, perusahaanasing itu dipersilakan meninggalkan Bolivia. Dekrit Presidenitu rupanya sanggup membuatsemua korporasi besar yangberoperasi di Bolivia tundukdan meneken kesepakatanakhir Oktober 2006.Setahun setelah dikeluarkannya dekrit presiden itu,Evo Morales mengumumkanbahwa negara sudah mengontrol semua bisnis asing, khususnya migas. Dengan pengumuman Morales itu, perusahaan minyak negara Bolivia,YPFB (mirip Pertamina) mengontrol semua kekayaan alamdan gas. Sebanyak 12 perusahaan minyak asing juga langsung menandatangani kontrakbaru antara lain Repsol YPF SA(Spanyol-Argentina), Petrobras (Brasil), Total-Fina-Elf(Perancis Belgia), dan BritishGas (Inggris).Tidak Cocok UntukIndonesiaSelama ini di Indonesia (sebagian orang, red) sudah terbentuk kepercayaan bahwakontrak karya migas dan nonmigas dengan perusahaanasing tidak bisa diubah. Kepercayaan ini bisa jadi didasarkanpada rasa tidak percaya diriakan kemampuan sendiri. Jikamenuntut negosiasi ulang,apalagi nasionalisasi industrimigas dan pertambangan, Indonesia bisa dikucilkan masyarakat internasional dan investasi asing ogah masuk Indonesia. Selain itu, Indonesia dapat dibawa ke arbitrase internasional dan rugi miliaran dollar AS karena berani mengotak-atik, bahkan menuntutnegosiasi ulang berbagai kontrak karya dan bagi hasil yangtelah ditandatangani.Namun apa yang dipercayaioleh Indonesia ini, tidak berlaku bagi Bolivia. Evo Moralesmalah menyatakan dengan tegas menutup pintu bagi penyeSPresiden Bolivia Evo Morales di hadapan para pendukungnya.

