Page 28 - Majalah Berita Indonesia Edisi 95
P. 28


                                    28 BERITAINDONESIA, Mei-Juni 2016BERITA TOKOH28Jenderal TNI (Purn) Prof. Dr. AM HendropriyonoGuru Besar Ilmu Intelijen PertamaMantan Kepala BIN Jenderal TNI (Purn) AM Hendropriyono dikukuhkan sebagai Guru Besar bidang ilmuintelijen oleh Sekolah Tinggi Intelijen Negara (STIN).Menurut MURI, dia menjadi guru besar bidangintelijen pertama di Indonesia, bahkan di dunia.Abdullah Mahmud Hendropriyono, SE, STdengan jumlah kredit 850 kum dalamjabatan akademi atau fungsional sebagaiprofesor atau guru besar tidak tetap dalambidang ilmu intelijen.Dalam acara pengukuhan (penganugerahan) gelar profesor yang dilaksanakan diBalai Sudirman, Jalan Saharjo, Tebet,Jakarta Selatan, Rabu, 7 Mei 2014 itu, ProfDr Priyatna Abdurasyid.menyematkanselempang guru besar kepada Hendropriyono. Acara itu dihadiri sejumlah tokohIndonesia, antara lain Megawati Soekarnoputri, Try Sutrisno, Akbar Tandjung, Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro,KSAD Jenderal Budiman, Ketua Umum DPPHanura Wiranto, dan Khofifah Indarparawansa.Pada kesempatan itu, Hendropriyonomenyampaikan orasi berjudul “FilsafatIntelijen Negara Republik Indonesia.”Menurut Hendro, Pancasila merupakanlandasan filsafat intelijen negara RepublikIndonesia, dengan Veloc et Exactus (cepatdan tepat) sebagai ontologi keberadaannya.Dia mengatakan materialisasi terhadapberbagai konsep intelijen berada padarealitas lingkungan yang goncang, yaituketika hukum sedang kehilangan dayarekatnya, fungsi intelijen yang mencegahpotensi ancaman menjadi kekuatan nyatayang membahayakan rakyat, membawasegala bentuk dan sifat siasatnya (kebijakan,strategi dan pola operasional) lebih terikatpada nilai-nilai moraldan etika, daripadanilai-nilai hukum positif.Hendro mengatakan hakikat intelijenadalah tindakan yang cepat dan tepat demikeselamatan negara. “Intelijen tidak beroperasi pasca kejadian selayaknya penegakanhukum. Intelijen mengumpulkan informasisecara cepat dan akurat untuk mencegahterjadinya kejadian yang membahayakankeselamatan negara,” jelasnya.Menurutnya, dari segi epistemologi,intelijen tidak bergumul dengan pengetahuan ilmiah melainkan informasi. Intelijentidak memiliki banyak waktu untuk memeriksa sebuah informasi melalui metodeilmiah. Sebab itu, jelasnya, intelijen memeriksa informasi berdasarkan kesahihansumber dan logika. “Informasi yang diperoleh dari eks anggota kelompok radikal tentulebih akurat dibanding informasi pengamat.PV Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama, terlalu percaya diriengukuhan profesor itu sesuaidengan Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 2576f/A4.3/KP/2014. Sekretaris DewanAkademik Kemendikbud, Mohammad Isroyang membacakan keputusan tersebut yangantara lain berbunyi: “Memutuskan terhitung tanggal 1 April 2014 mengangkat Dr
                                
   22   23   24   25   26   27   28   29   30   31   32