Page 27 - Majalah Berita Indonesia Edisi 95
P. 27
BERITAINDONESIA, Mei-Juni 2016 27BERITA POLITIKalam konteks Pilgub DKI 2017, Ir. BasukiTjahaja Purnama alias Ahok, sebagaipetahana, diperhadapkan pada dua arusdukungan potensial yakni relawan TemanAhok dan PDI-Perjuangan yang sebenarnya samasama ingin mengusung Ahok kembali memimpinJakarta.eman Ahok telah mengumpulkan tujuh ratusan ribuKTP dan menyatakan sanggup mengumpulkan sejutaKTP untuk mengusung Ahok dan pasangannya darijalur independen. Sementara PDI-P merupakan satusatunya partai di DPRD DKI yang bisa secara mandirimengusung pasangan calon karena memiliki 28 kursi,enam kursi lebih banyak dari syarat 22 kursi,menyatakan siap mendukung Ahok dan pasangannyadari jalur partai.Teman Ahok mendesak supaya Ahok segeramenentukan pilihan. Sementara PDI-P mengisyaratkan bersabar mengikuti mekanisme partai. Ahokdiperhadapkan dua pilihan pelik yang menuntutkemampuan seni berpolitik (the art of possibilities).Apakah Ahok mampu mengelola dua kutub potensipendukungnya dengan seni kemungkinan (senipolitik), kemungkinan ketiga, win-win solution?Pemimpin politik (dalam konteks the art of possibilities) itu memiliki kemampuan seni untuk memenangkan semua pihak, kendati dalam kontestasisenyatanya ada yang menang dan kalah, tetapi denganseni berpolitik itu semua pihak merasakannya sebagaiwin-win solution. Masing-masing merasa ditempatkan pada posisi yang sepantasnya.Dalam konteks ini politik tidak sekadar kompetisidan pertarungan (political game). Apalagi, antarateman Ahok dan PDI Perjuangan sesungguhnya adakesamaan tujuan yakni mengusung Ahok untukterpilih kembali menjadi Gubernur DKI 2017-2022.Hanya proses teknisnya saja yang berbeda, yakni jalurindependen atau jalur partai.Tapi sayang, sejauh ini, Ahok belum menunjukkankemahiran berpolitik sebagai the art of possibilitiesitu. Karena hanya dalam proses sekali pertemuandengan Teman Ahok, Minggu (6/3/2016) malam,Ahok telah menentukan pilihan memenuhi desakanTeman Ahok dengan memilih pasangan Heru BudiHartono, Kepala Badan Pengelola Keuangan danAset Daerah (BPKAD) DKI, sebagai calon wakilgubernur. Pilihan itu dia jatuhkan setelah DjarotSaiful Hidayat, yang saat ini menjabat WakilGubernur, menyatakan tidak mau keluar dari partai(PDI Perjuangan) yang disyaratkan Teman Ahokuntuk diusung dari jalur independen.Pilihan Ahok ini sangat mempersempit kemungkinan PDI Perjuangan akan tetap mendukungAhok-Heru. Kendati Ahok merasa sangat dekatdengan Ketua Umum PDI-P Megawati Soekarnoputri. Akan berbeda kemungkinannya, seandainyaAhok lebih bijak menempuh risiko tetap menggandeng Djarot Saiful Hidayat kendati belum (tidak)mendapat restu dari PDI Perjuangan dan janganmemaksa Djarot keluar dari PDI Perjuangan.Kondisi ini, tidak hanya mempersulit kemenangan Ahok-Heru dalam Pilgub Februari 2017, tetapijuga mempersulit PDI Perjuangan untuk tetapmendukung Ahok-Heru (Ibarat burung dalamgenggaman, sengaja dilepas); Atau justru memaksaPDI-P untuk mengusung calonnya sendiri denganatau tanpa berkoalisi dengan partai lain yang akanmenjadi pesaing Ahok-Heru. Atau, bahkan kemungkinan terburuk, dukungan KTP yang dikumpulkanTeman Ahok gagal memenuhi syarat dalam verifikasi KPU. Perihal kemungkinan terburuk ini, Ahokkelihatannya pasrah (kehilangan spirit petarung).Kondisi ini amat menguntungkan para pesaingAhok. Apalagi jika muncul pasangan calon yangpunya potensi dan kemampuan seni politik mumpuni untuk meraih kemenangan atas dukungankoalisi partai-partai politik, termasuk PDI Perjuangan.Namun, kemungkinan PDI Perjuangan akan tetapmendukung Ahok-Djarot dalam konteks berpolitiksebagai the art of possibilities, masih celah terbukakendati amat sempit. „Ahok dan Seni PolitikPolitik adalah seni kemungkinan (the art of possibilities). Dalamberpolitik (seni kemungkinan) itu ada visi dan misi yangdiperjuangkan melalui seni diplomasi, negosiasi, koalisi dankampanye yakni seni untuk meyakinkan, memengaruhi,mengubah pilihan dan dukungan.Oleh Ch. Robin SimanullangD

