Tidak semua doa diucapkan. Sebagian hanya dijalani dengan diam yang penuh percaya.
Doa sejati tidak perlu nama atau bentuk. Ia adalah hidup yang dijalani dengan kesadaran bahwa setiap gerak berasal dari pusat yang sama.
Pagi datang seperti biasa. Udara belum banyak suara. Seseorang menata meja, menyapu lantai, memanaskan air. Tidak ada yang istimewa, tapi ada sesuatu yang tenang di antara geraknya.
Di sana, doa tidak lagi perlu kata. Ia bernafas di sela pekerjaan, menyusup di setiap kesungguhan yang dilakukan tanpa pamrih. Tangan yang mengangkat, mata yang memperhatikan, langkah yang tidak terburu. Semuanya telah menjadi bentuk keheningan yang menyala lembut.
Manusia sering mengira doa adalah permohonan. Padahal doa adalah keadaan: kehadiran penuh, tanpa ingin apa-apa selain menjadi bagian dari daya yang bekerja. Doa tidak selalu naik ke langit; sering kali, ia turun bersama kesadaran yang diam di bumi.
Dan setiap kali ia menata sesuatu dengan hati tenang, semesta pun menata kembali dirinya. Tidak karena ia meminta, tetapi karena ia telah menjadi saluran dari pusat yang bekerja tanpa suara.
Yang bekerja, yang diam, dan yang disadari, tidak lagi terpisah. Yang tersisa hanya arus lembut yang menjaga kehidupan tetap berputar dengan tenang.
Tulisan ini merupakan bagian dari Fraktal Sistem Sunyi: pecahan gagasan yang mengurai pola batin dan praktik kesunyian dalam bentuk pendek dan terfokus. Setiap fraktal memantulkan prinsip inti Sistem Sunyi dalam skala kecil, sebagai cara merawat kesadaran yang bertahap dan terus kembali ke pusat.
Pengutipan sebagian atau keseluruhan isi diperkenankan dengan mencantumkan sumber: RielNiro – TokohIndonesia.com (Sistem Sunyi)
Lorong Kata adalah ruang refleksi di TokohIndonesia.com tempat gagasan dan kesadaran saling menyeberang. Dari isu publik hingga perjalanan batin, dari hiruk opini hingga keheningan Sistem Sunyi — di sini kata mencari keseimbangannya sendiri.
Berpijak pada semangat merdeka roh, merdeka pikir, dan merdeka ilmu, setiap tulisan di Lorong Kata mengajak pembaca menatap lebih dalam, berjalan lebih pelan, dan mendengar yang tak lagi terdengar.
Atur Lorielcide berjalan di antara kata dan keheningan.
Ia menulis untuk menjaga gerak batin tetap terhubung dengan pusatnya.
Melalui Sistem Sunyi, ia mencoba memetakan cara pulang tanpa tergesa.
Lorong Kata adalah tempat ia belajar mendengar yang tak terlihat.



