The Journalistic Biography

✧ Orbit      

BerandaSistem SunyiTerima Kasih Sudah Pergi
jejak-musik

Terima Kasih Sudah Pergi

Jejak Sunyi dalam Musik. Fragmen Sistem Sunyi #16

Tulisan ini bagian dari sistem kesadaran reflektif RielNiro 📷Sistem Sunyi

✧ Orbit      

Litani Sunyi
Lama Membaca: 2 menit

Tidak semua perpisahan meninggalkan amarah. Sebagian hanya meninggalkan sunyi yang panjang.

Ada orang yang pergi tanpa gaduh, tanpa penjelasan, tanpa pintu yang benar-benar ditutup dengan kata-kata. Tapi dampaknya tinggal lama di dalam kepala.

Lagu ini lahir dari ruang itu. Bukan ruang dendam. Bukan ruang menyalahkan.

Hanya ruang di mana seseorang akhirnya sadar: yang paling melelahkan bukan kehilangan, melainkan menahan sesuatu yang sebenarnya sudah selesai.

Dan pada satu titik, hidup memaksa kita untuk berhenti berharap. Bukan karena kita kuat, tetapi karena kita akhirnya pulang.

Terima Kasih Sudah Pergi

@rielniro

Verse 1

Aku sempat menahanmu di kepala
lebih lama dari yang seharusnya
bukan karena aku tidak tahu batas
tapi karena rasa tidak selalu bisa diajak patuh

Aku mencoba mengerti semuanya
mencari alasan yang paling rapi
padahal hidup tidak pernah menjelaskan
ia hanya memindahkan kita pelan-pelan

Chorus

Terima kasih sudah pergi
meski caramu membuatku diam lama
aku tidak membencimu
aku hanya akhirnya berhenti berharap

Terima kasih sudah pergi
karena kalau kamu tetap tinggal
mungkin aku akan terus menahan
hal yang seharusnya dilepas sejak awal

Verse 2

Kadang namamu masih datang sebentar
saat aku sedang tidak memikirkan apa-apa
seperti ada sesuatu yang tertinggal
tapi tidak pernah kembali utuh

Dan aku tidak lagi mengejar apa pun
tidak lagi menunggu penjelasan
aku mulai mengenali diriku lagi
yang dulu hilang karena terlalu menahan

Chorus 2

Terima kasih sudah pergi
bukan karena aku kuat
tapi karena aku akhirnya sadar
aku tidak boleh runtuh demi siapa pun

Terima kasih sudah pergi
sebab dari jarak itu
aku belajar melepaskan
tanpa harus merusak diri

Bridge

Ada perpisahan yang tidak perlu dibenci
karena ia datang sebagai pelajaran
dan kamu…
mungkin bukan rumah yang gagal
kamu hanya jalan yang harus kulewati

Outro 1

Jika suatu hari kamu datang lagi
sebagai ingatan yang muncul sebentar
aku tidak akan melawannya
aku biarkan ia selesai sendiri

Terima kasih sudah pergi
karena sejak itu
aku belajar pulang
tanpa mencari siapa-siapa

Outro 2

Terima kasih sudah pergi…
Terima kasih sudah pergi…

Aku sempat menahanmu…
bukan karena kamu segalanya,
tapi karena aku belum selesai.

Terima kasih sudah pergi…
Terima kasih sudah pergi…

Karena kalau kamu tetap tinggal,
mungkin aku tak pernah pulang.

Terima kasih sudah pergi…

 


 

Ada perpisahan yang tidak meninggalkan luka yang berteriak. Ia hanya meninggalkan ruang kosong yang lama-lama mengajarkan sesuatu.

Bahwa tidak semua yang kita pertahankan adalah rumah. Dan tidak semua yang pergi adalah kehilangan.

Kadang, yang pergi justru menjadi batas yang menyelamatkan. Bukan karena ia benar, tetapi karena hidup akhirnya memaksa kita kembali pada diri sendiri.

Lagu ini adalah pengingat kecil: bahwa pulang tidak selalu terjadi karena seseorang datang, tetapi karena kita berhenti menahan.

Part of Sistem Sunyi.

Tulisan ini termasuk dalam Jejak Sunyi dalam Musik: ruang di mana karya musik diperlakukan sebagai fragmen kesadaran dalam ekosistem Sistem Sunyi.

Lagu dalam seri ini tidak berfungsi sebagai ilustrasi konsep atau media ekspresi emosional, melainkan sebagai artefak yang menyimpan jejak pengalaman batin yang telah ditata dan disadari.

Fragmen ini merupakan bagian dari arsip Sistem Sunyi dan ditempatkan sebagai penanda perjalanan kesadaran lintas medium.

Pengutipan sebagian atau keseluruhan isi diperkenankan dengan mencantumkan sumber: RielNiro – TokohIndonesia.com

Lorong Kata adalah ruang refleksi di TokohIndonesia.com tempat gagasan dan kesadaran saling menyeberang. Dari isu publik hingga perjalanan batin, dari hiruk opini hingga keheningan Sistem Sunyi — di sini kata mencari keseimbangannya sendiri.

Berpijak pada semangat merdeka roh, merdeka pikir, dan merdeka ilmu, setiap tulisan di Lorong Kata mengajak pembaca menatap lebih dalam, berjalan lebih pelan, dan mendengar yang tak lagi terdengar.

Atur Lorielcide berjalan di antara kata dan keheningan.

Ia menulis untuk menjaga gerak batin tetap terhubung dengan pusatnya.

Melalui Sistem Sunyi, ia mencoba memetakan cara pulang tanpa tergesa.

Lorong Kata adalah tempat ia belajar mendengar yang tak terlihat.

 

Kuis Kepribadian Presiden RI
🔥 Teratas: Habibie (24.4%), Gusdur (17.1%), Jokowi (17.1%), Megawati (11.5%), Soeharto (9.8%)

Ramai Dibaca

Terbaru