BerandaSistem SunyiMasih Sedalam Itu
jejak-musik

Masih Sedalam Itu

Jejak Sunyi dalam Musik. Catatan Sunyi

Tulisan ini bagian dari sistem kesadaran reflektif RielNiro 📷Sistem Sunyi

✧ Orbit      

Litani Sunyi
Lama Membaca: 2 menit

Peta Besar Fragmen

Dari Sesuatu yang Tidak Selesai. Fragmen ini bukan berdiri sendiri. Ia bagian dari satu perjalanan yang tidak pernah benar-benar selesai. Berikut keterangan simbol alfabet: A-, B-, C-, dan D- di setiap judul.
A = Jalur Utama (relasi yang tidak jadi, tapi mengubah arah batin)
B = Fase Diam (yang tidak terlihat, tapi justru membentuk struktur batin)
C = Prequel (sebelum semuanya bisa dijelaskan)
D = Bonus/Hidden Fragmen (gema kecil sesudah cerita; bukan kelanjutan)
Baca "Peta Besar Fragmen: Dari Sesuatu yang Tidak Selesai", untuk pemahaman yang utuh.

(Lapisan ketika kedalaman tidak hilang, hanya tidak lagi dipaksakan)

Ada kecenderungan setelah sebuah pengalaman yang tidak selesai: seseorang menjadi lebih hati-hati. Ia tidak lagi mudah masuk terlalu dalam.

Ia tidak lagi cepat percaya bahwa sesuatu akan berjalan sejauh yang pernah ia rasakan sebelumnya. Dari luar, perubahan itu sering terlihat seperti penarikan diri. Namun tidak selalu demikian.

Ada yang justru tidak berubah pada bagian yang paling dalam. Cara melihatnya tetap sama. Cara merasakannya juga tidak menjadi lebih dangkal. Yang berubah bukan kedalamannya, melainkan cara ia membiarkan sesuatu berjalan.

Fragmen ini tidak berbicara tentang seseorang yang menjadi tertutup atau menjaga jarak. Ia juga bukan tentang menghindari pengalaman serupa. Yang terjadi lebih sederhana: ada kesadaran bahwa tidak semua orang berjalan dengan kedalaman yang sama, dan itu tidak perlu dipaksakan.

Kedalaman itu tidak berkurang. Ia tidak hilang hanya karena pernah berada di sesuatu yang tidak selesai. Ia tetap ada sebagai cara seseorang memahami hidup. Hanya saja, ia tidak lagi dijadikan ukuran untuk menentukan apakah sesuatu harus diteruskan atau tidak.

Di titik ini, tidak ada dorongan untuk memastikan apakah sesuatu akan sampai ke bagian yang paling dalam. Yang datang tidak perlu diuji. Yang pergi tidak perlu ditahan. Bukan karena tidak peduli, tetapi karena tidak semua yang datang memang dimaksudkan untuk sampai sejauh itu.

Perubahan yang terjadi bukan pada rasa, melainkan pada cara memberi ruang. Sesuatu dibiarkan berjalan sesuai kemampuannya sendiri. Jika ia hanya sampai di permukaan, ia berhenti di sana. Jika ia bisa masuk lebih dalam, ia akan menemukan jalannya tanpa perlu dipaksa.

Kedalaman itu tetap ada. Tidak berkurang, tidak ditutup, dan tidak berubah arah. Ia hanya tidak lagi dipaksakan untuk dimasuki siapa pun.

Masih Sedalam Itu

@rielniro

Verse 1
pernah tinggal
di sesuatu yang tidak selesai

lama di situ
seolah harus mengerti

padahal tidak

Pre-Chorus
yang itu masih ada
tapi tidak lagi menahan

Chorus
tidak lagi mencari
seperti dulu

tidak semua rasa
harus jadi arah

yang datang
tidak dipercepat

yang pergi
tidak dihalangi

Verse 2
mulai terlihat
tidak semua akan tinggal

ada yang hanya lewat
dan itu cukup

tapi yang benar-benar sampai
tetap sedalam itu

tidak semua bisa masuk
ke tempat yang sama

dan ruang itu
masih ada

tidak ikut tertutup

Pre-Chorus 2
tetap terbuka
tapi tidak tergesa

Chorus
tidak lagi mencari
seperti dulu

tidak semua rasa
harus jadi arah

yang datang
tidak dipercepat

yang pergi
tidak dihalangi

Bridge
semakin jarang
yang benar-benar terasa

tapi kalau sampai
tidak pernah setengah

tidak banyak kata
tidak perlu pasti

tetap ada
tetap terbuka
tanpa harus dicari

Final Chorus

tidak lagi mencari
seperti dulu

yang datang
tidak mengubah arah

yang pergi
tidak membawa pergi

dan tetap berjalan

Outro
bukan karena sendiri

tapi karena
yang benar-benar tinggal

tidak pernah perlu
dicari

tidak pernah perlu
dicari…

 


 

Tidak semua kedalaman harus ditempuh bersama. Ada yang hanya sampai di permukaan, ada yang berjalan lebih jauh, dan keduanya tidak perlu dipertentangkan.

Yang berubah bukan kedalaman itu sendiri, melainkan cara seseorang memahaminya. Ia tidak lagi menjadikan kedalaman sebagai tujuan yang harus dicapai bersama, tetapi sebagai ruang yang tetap ada, dengan atau tanpa kehadiran siapa pun di dalamnya.

Dari situ, sesuatu menjadi lebih tenang. Bukan karena semuanya menjadi ringan, tetapi karena tidak lagi ada kebutuhan untuk memastikan siapa yang bisa sampai dan siapa yang tidak.

Part of Sistem Sunyi

Tulisan ini termasuk dalam Jejak Sunyi dalam Musik: ruang di mana karya musik diperlakukan sebagai fragmen kesadaran dalam ekosistem Sistem Sunyi.

Lagu dalam seri ini tidak berfungsi sebagai ilustrasi konsep atau media ekspresi emosional, melainkan sebagai artefak yang menyimpan jejak pengalaman batin yang telah ditata dan disadari.

Fragmen ini merupakan bagian dari arsip Sistem Sunyi dan ditempatkan sebagai penanda perjalanan kesadaran lintas medium.

Pengutipan sebagian atau keseluruhan isi diperkenankan dengan mencantumkan sumber: RielNiro – TokohIndonesia.com

Baca juga "Peta Besar Fragmen: Dari Sesuatu yang Tidak Selesai"

Lorong Kata adalah ruang refleksi di TokohIndonesia.com tempat gagasan dan kesadaran saling menyeberang. Dari isu publik hingga perjalanan batin, dari hiruk opini hingga keheningan Sistem Sunyi — di sini kata mencari keseimbangannya sendiri.

Berpijak pada semangat merdeka roh, merdeka pikir, dan merdeka ilmu, setiap tulisan di Lorong Kata mengajak pembaca menatap lebih dalam, berjalan lebih pelan, dan mendengar yang tak lagi terdengar.

Atur Lorielcide berjalan di antara kata dan keheningan.

Ia menulis untuk menjaga gerak batin tetap terhubung dengan pusatnya.

Melalui Sistem Sunyi, ia mencoba memetakan cara pulang tanpa tergesa.

Lorong Kata adalah tempat ia belajar mendengar yang tak terlihat.

Baca juga: Dua Ruang, Satu Sunyi: Jejak Atur Lorielcide alias Rielniro

 

Kuis Kepribadian Presiden RI
🔥 Teratas: Habibie (23.9%), Jokowi (18.7%), Gusdur (16.7%), Megawati (11.6%), Soeharto (9.6%)

Ramai Dibaca

Terbaru