Ada hubungan yang tidak kembali lewat percakapan panjang, tidak pula melalui pengakuan atau penjelasan.
Ia kembali lewat hal-hal kecil. Duduk berhadapan. Menunggu makanan datang. Membicarakan perjalanan singkat dan cuaca sore.
Di meja itu, tidak ada masa lalu yang diminta hadir. Bukan karena disangkal, melainkan karena tidak lagi dibutuhkan di ruang yang sama.
Fragmen ini tidak berbicara tentang rekonsiliasi. Ia hanya mencatat satu momen sederhana ketika dua orang dapat berbagi waktu tanpa membawa cerita lama ke dalam percakapan.
Duduk Seperti Biasa
Verse
Kita duduk di meja yang sama
Menunggu pesanan datang
Aku bertanya soal makanan
Kau jelaskan dengan tenang
Langit mulai berubah warna
Angin sore lewat sebentar
Tak ada hal penting dibicarakan
Tapi rasanya cukup benar
Chorus
Kita duduk seperti biasa
Tanpa beban, tanpa rencana
Tak membahas apa yang pernah ada
Tak juga menghindarinya
Kita duduk seperti biasa
Waktu berjalan apa adanya
Ada tenang di antara kata
Dan itu sudah cukup rasanya
Bridge
Sesekali kita diam sebentar
Menatap senja yang hampir pergi
Tak ada yang perlu dibuktikan
Tak ada yang harus dibereskan lagi
Outro
Jika meja ini terulang nanti
Aku akan tetap di sini
Duduk seperti biasa
Dan membiarkan waktu berjalan sendiri
Di sini, kehadiran tidak dibuktikan lewat kata-kata. Ia muncul dalam jeda yang nyaman,
dalam tawa kecil yang tidak ditahan, dan dalam diam yang tidak canggung.
Lagu ini memilih tinggal di suasana itu. Bukan untuk menutup apa pun, melainkan untuk menandai bahwa kedekatan kadang kembali dengan cara yang paling biasa.
Part of Sistem Sunyi.
Tulisan ini termasuk dalam Jejak Sunyi dalam Musik: ruang di mana karya musik diperlakukan sebagai fragmen kesadaran dalam ekosistem Sistem Sunyi.
Lagu dalam seri ini tidak berfungsi sebagai ilustrasi konsep atau media ekspresi emosional, melainkan sebagai artefak yang menyimpan jejak pengalaman batin yang telah ditata dan disadari.
Fragmen ini merupakan bagian dari arsip Sistem Sunyi dan ditempatkan sebagai penanda perjalanan kesadaran lintas medium.
Pengutipan sebagian atau keseluruhan isi diperkenankan dengan mencantumkan sumber: RielNiro – TokohIndonesia.com
Lorong Kata adalah ruang refleksi di TokohIndonesia.com tempat gagasan dan kesadaran saling menyeberang. Dari isu publik hingga perjalanan batin, dari hiruk opini hingga keheningan Sistem Sunyi — di sini kata mencari keseimbangannya sendiri.
Berpijak pada semangat merdeka roh, merdeka pikir, dan merdeka ilmu, setiap tulisan di Lorong Kata mengajak pembaca menatap lebih dalam, berjalan lebih pelan, dan mendengar yang tak lagi terdengar.
Atur Lorielcide berjalan di antara kata dan keheningan.
Ia menulis untuk menjaga gerak batin tetap terhubung dengan pusatnya.
Melalui Sistem Sunyi, ia mencoba memetakan cara pulang tanpa tergesa.
Lorong Kata adalah tempat ia belajar mendengar yang tak terlihat.


