BerandaLorong KataSistem SunyiApa yang Terjadi Saat Rasa, Makna, dan Iman Tidak Selaras
infografik

Apa yang Terjadi Saat Rasa, Makna, dan Iman Tidak Selaras

Hidup Terasa Berat, Arah Menjadi Kabur, dan Jiwa Kehilangan Pusat

Tulisan ini bagian dari sistem kesadaran reflektif RielNiro 📷Sistem Sunyi

✧ Orbit      

Litani Sunyi
Lama Membaca: < 1 menit

Ada masa ketika hidup tidak sedang runtuh, tetapi tetap terasa berat dijalani. Dari luar, semuanya mungkin masih berjalan seperti biasa. Aktivitas tetap berlangsung, pekerjaan tetap dikerjakan, dan hari-hari bergerak sebagaimana mestinya.

Namun di dalam, ada sesuatu yang tidak lagi searah. Pikiran terus bekerja, tetapi tidak membawa kejernihan. Perasaan bergerak ke mana-mana, tetapi tidak sungguh menemukan tempatnya. Iman pun tetap ada, tetapi belum sepenuhnya menyentuh cara seseorang merasa dan memaknai hidupnya.

Keadaan seperti ini sering sulit dikenali karena tidak selalu hadir sebagai krisis besar. Seseorang bisa tetap tampak berfungsi, tetapi diam-diam lebih mudah lelah, lebih cepat kosong, dan lebih sulit mantap dalam melangkah. Yang berat bukan semata-mata karena masalah di luar, melainkan karena di dalam diri ada tarikan yang bergerak ke arah berbeda. Rasa menginginkan sesuatu, makna membacanya secara lain, sementara iman belum sungguh menjadi pusat yang menyatukan keduanya. Akibatnya, hidup tidak selalu tampak kacau, tetapi perlahan kehilangan arah, kekuatan, dan kehangatan batin.

Infografik ini mengajak pembaca melihat keadaan itu dengan lebih jernih. Bukan untuk memberi jawaban instan, dan bukan pula untuk merapikan persoalan batin secara tergesa-gesa, melainkan untuk memahami bahwa banyak kelelahan yang terasa samar bisa berakar pada ketidakselarasan rasa, makna, dan iman. Dalam kerangka Sistem Sunyi, selaras bukan berarti hidup menjadi tanpa luka, tetapi ketika yang di dalam tidak lagi saling menarik ke arah yang berbeda. Dari situlah jalan pulang biasanya mulai terbaca.

 

Kuis Kepribadian Presiden RI
🔥 Teratas: Habibie (24.3%), Jokowi (17.8%), Gusdur (16.6%), Megawati (11.7%), Soeharto (9.7%)

Ramai Dibaca

Terbaru