Kadang cahaya tidak datang dari arah mata. Ia muncul dari tempat yang tidak bisa dicari.
Percaya tanpa melihat adalah keadaan ketika iman menggantikan penglihatan. Di situ, keheningan menjadi panduan, dan yang tak terlihat menjadi sumber segala arah.
Ada masa ketika segala pengetahuan terasa selesai, namun hidup masih terus bertanya. Yang dicari bukan lagi jawaban, melainkan sesuatu yang bisa dipercaya tanpa alasan.
Percaya tanpa melihat bukan menolak bukti, tetapi menyadari bahwa bukti tidak lagi diperlukan. Ia adalah keadaan batin ketika sesuatu terasa benar, bahkan sebelum kata benar sempat diucapkan.
Dalam diam itu, keheningan menjadi guru. Ia tidak menjelaskan, tidak memberi tanda, tetapi hadir sebagai kepastian yang lembut. Dan dari kepastian itu, langkah kecil terasa cukup.
Tidak semua yang tak terlihat adalah kegelapan. Sebagian justru terlalu terang untuk ditatap. Maka iman bukan mata kedua, melainkan ruang di dalam diri yang sanggup menampung cahaya tanpa bentuk.
Yang percaya tanpa melihat tidak kehilangan arah, karena ia telah berhenti mencari tanda. Yang ia tahu hanyalah: setiap langkah yang diambil dengan tenang, selalu menuju ke rumah yang sama.
Tulisan ini merupakan bagian dari Fraktal Sistem Sunyi: pecahan gagasan yang mengurai pola batin dan praktik kesunyian dalam bentuk pendek dan terfokus. Setiap fraktal memantulkan prinsip inti Sistem Sunyi dalam skala kecil, sebagai cara merawat kesadaran yang bertahap dan terus kembali ke pusat.
Pengutipan sebagian atau keseluruhan isi diperkenankan dengan mencantumkan sumber: RielNiro – TokohIndonesia.com (Sistem Sunyi)
Lorong Kata adalah ruang refleksi di TokohIndonesia.com tempat gagasan dan kesadaran saling menyeberang. Dari isu publik hingga perjalanan batin, dari hiruk opini hingga keheningan Sistem Sunyi — di sini kata mencari keseimbangannya sendiri.
Berpijak pada semangat merdeka roh, merdeka pikir, dan merdeka ilmu, setiap tulisan di Lorong Kata mengajak pembaca menatap lebih dalam, berjalan lebih pelan, dan mendengar yang tak lagi terdengar.
Atur Lorielcide berjalan di antara kata dan keheningan.
Ia menulis untuk menjaga gerak batin tetap terhubung dengan pusatnya.
Melalui Sistem Sunyi, ia mencoba memetakan cara pulang tanpa tergesa.
Lorong Kata adalah tempat ia belajar mendengar yang tak terlihat.



