Search

The Journalistic Biography

✧ Orbit      

BerandaSistem SunyiRasa yang Pulang ke Cahaya
resonansi

Rasa yang Pulang ke Cahaya

Tentang rasa yang berhenti mencari arah, dan mulai menjadi terang dari dalam.

Tulisan ini bagian dari sistem kesadaran reflektif RielNiro 📷Sistem Sunyi

✧ Orbit      

Lama Membaca: < 1 menit

Orbit PsikospiritualMetafisik-Naratif

Ada saat ketika rasa tak lagi ingin menjelaskan dirinya. Ia tidak ingin dimengerti, tidak ingin diikuti. Ia hanya ingin diam, lalu pulang ke tempat di mana semua terang bermula.

Nada Dalam
Rasa yang pulang ke cahaya adalah tahap kedewasaan batin ketika perasaan berhenti menuntut validasi dan mulai menyadari asalnya. Ia tidak lagi ingin memiliki makna, karena ia telah menjadi makna itu sendiri. Jernih, tenang, dan menyala dari dalam.

Setiap rasa pada awalnya bergerak seperti arus. Ia mencari bentuk, menabrak dinding, mengalir ke lembah pengalaman, dan berulang kali jatuh ke sungai kenangan. Tapi pada akhirnya, semua arus menuju satu samudra: cahaya.

Ketika rasa masih menjadi cermin bagi diri, ia penuh bias — mencari pembenaran, menuntut balasan, dan ingin dikenal. Namun ketika rasa mulai mengenali asalnya, ia berhenti memantulkan dunia luar dan mulai memantulkan langit di dalam. Di sana, tak ada lagi “aku yang merasa” dan “hal yang dirasakan.” Hanya ada getar lembut yang menyala pelan di antara napas dan kesadaran.

Rasa yang pulang ke cahaya tidak lagi bereaksi. Ia menerima tanpa kehilangan kejernihan. Ia tahu bahwa setiap perih hanyalah pantulan cahaya yang belum mengenali arah jatuhnya. Ia tidak menolak bayangan, karena dari sana terang belajar menegaskan dirinya.

Dan dalam diam, kita pun perlahan belajar: bahwa rasa bukan beban untuk ditanggung, melainkan jembatan untuk pulang; bahwa memahami bukan soal menelusuri alasan, tetapi mengizinkan cahaya bekerja tanpa kata; bahwa di ujung perjalanan, yang tersisa bukan pemahaman tentang rasa, melainkan rasa yang menjadi pemahaman itu sendiri.

Ketika rasa telah sampai di cahaya, ia tak lagi ingin menamai terang itu. Ia hanya bergetar lembut, menjadi bagian dari terang yang sama.

Peta Sunyi Terkait
Memuat tulisan…
geser →
Memuat istilah…

Tulisan ini merupakan Esai Resonansi Sistem Sunyi: bagian dari zona reflektif yang beresonansi dengan inti Sistem Sunyi, sebuah sistem kesadaran reflektif yang dikembangkan secara mandiri oleh melalui persona batinnya, .

Pengutipan sebagian atau keseluruhan isi diperkenankan dengan mencantumkan sumber: RielNiro – TokohIndonesia.com (Sistem Sunyi)

Lorong Kata adalah ruang refleksi di TokohIndonesia.com tempat gagasan dan kesadaran saling menyeberang. Dari isu publik hingga perjalanan batin, dari hiruk opini hingga keheningan Sistem Sunyi — di sini kata mencari keseimbangannya sendiri.

Berpijak pada semangat merdeka roh, merdeka pikir, dan merdeka ilmu, setiap tulisan di Lorong Kata mengajak pembaca menatap lebih dalam, berjalan lebih pelan, dan mendengar yang tak lagi terdengar.

Atur Lorielcide berjalan di antara kata dan keheningan.

Ia menulis untuk menjaga gerak batin tetap terhubung dengan pusatnya.

Melalui Sistem Sunyi, ia mencoba memetakan cara pulang tanpa tergesa.

Lorong Kata adalah tempat ia belajar mendengar yang tak terlihat.

 

Kuis Kepribadian Presiden RI
🔥 Teratas: Habibie (25.5%), Gusdur (17%), Jokowi (16%), Megawati (11.8%), Soeharto (10.4%)

Sering Dibaca

Ekologi Sunyi

Yang Tidak Dinilai

Teori Gema Batin

Arsitektur Jiwa

Terbaru