The Journalistic Biography

✧ Orbit      

BerandaSistem SunyiTukang Roti yang Memulai Hari Sebelum Fajar
jejak-luar

Tukang Roti yang Memulai Hari Sebelum Fajar

Tentang tangan yang bekerja ketika sebagian dunia masih terpejam

Tulisan ini bagian dari sistem kesadaran reflektif RielNiro 📷Sistem Sunyi

✧ Orbit      

Litani Sunyi
Lama Membaca: 2 menit

Masih gelap ketika suara roda kecil terdengar di jalan. Lampu sepeda atau motor itu terlihat duluan sebelum wajahnya. Banyak rumah masih mematikan lampu. Tapi seseorang sudah bekerja dari jauh sebelum kita membuka mata, memastikan ada roti hangat untuk sarapan orang lain. Ia datang bukan untuk ditonton. Ia hanya lewat, lalu hilang lagi.

Di pagi yang belum penuh, ketika kabut tipis masih tinggal di udara, ada tukang roti yang memulai hari lebih awal daripada banyak dari kita. Mungkin ia bangun sebelum subuh. Mempersiapkan roti dari tangan sendiri atau mengambil dari dapur kecil yang juga bekerja diam-diam. Lalu berangkat sebelum jalan ramai.

Tidak ada papan nama besar, tidak ada loket atau pelayan. Hanya satu sepeda atau motor dengan keranjang roti, melintasi gang satu per satu. Tidak ada mikrofon yang mengumumkan kehadirannya. Hanya ritme roda dan aroma roti yang sesekali lewat di depan pagar rumah.

Dalam Sistem Sunyi, konsistensi sering lebih berarti daripada kecepatan. Orang yang membuat dan mengantar roti ini bergerak dengan nada seperti itu. Tidak bertanya siapa yang memperhatikan. Tidak menunggu sorak atau pujian. Ia berjalan karena ada pekerjaan yang harus dilakukan dan ada orang yang perlu diberi makan sederhana untuk memulai hari.

Beberapa hal terlihat selaras dengan sikap batin dalam Sistem Sunyi: kedalaman lebih penting daripada sorak, proses lebih jujur daripada deklarasi.

  • bangun lebih awal tanpa diberitakan
  • bekerja dengan ritme yang tidak menuntut perhatian
  • memberi manfaat kepada banyak orang tanpa menyebutkan nama
  • menjalani proses yang sama setiap hari tanpa keluhan publik
  • percaya bahwa rezeki datang lewat ketekunan, bukan penampilan

Sesekali terdengar bunyi klakson kecil atau panggilan pelan. Kadang tidak ada siapa pun yang keluar. Ia tetap melanjutkan langkah. Tidak ada kesan terburu-buru. Tidak ada drama. Hanya kejelasan bahwa ini adalah pekerjaannya dan pagi adalah waktunya.

Di dunia yang semakin penuh suara dan tawaran sensasi, ada kehadiran seperti ini yang mengingatkan: tidak semua keberhasilan berbentuk teriakan, tidak semua kerja perlu panggung, dan tidak semua perjalanan harus ramai.

Ada ketenangan dalam memberi makan manusia lain tanpa kebutuhan untuk mengabarkan apa pun.

Kutipan
Tidak semua yang memberi harus terlihat memberi.

Tulisan ini termasuk dalam Jejak Sunyi di Luar: ruang observasi ringan untuk mencatat karya atau fenomena yang berada di luar struktur Sistem Sunyi, namun bergerak dalam nada yang sejalan dengan disiplin diam, proses, dan ketenangan batin.

Jejak ini tidak termasuk inti sistem. Ia hanya penanda kecil bahwa kesunyian kadang muncul tanpa nama dan tanpa rencana di tempat lain.

Pengutipan sebagian atau keseluruhan isi diperkenankan dengan mencantumkan sumber: RielNiro – TokohIndonesia.com

Lorong Kata adalah ruang refleksi di TokohIndonesia.com tempat gagasan dan kesadaran saling menyeberang. Dari isu publik hingga perjalanan batin, dari hiruk opini hingga keheningan Sistem Sunyi — di sini kata mencari keseimbangannya sendiri.

Berpijak pada semangat merdeka roh, merdeka pikir, dan merdeka ilmu, setiap tulisan di Lorong Kata mengajak pembaca menatap lebih dalam, berjalan lebih pelan, dan mendengar yang tak lagi terdengar.

Atur Lorielcide berjalan di antara kata dan keheningan.

Ia menulis untuk menjaga gerak batin tetap terhubung dengan pusatnya.

Melalui Sistem Sunyi, ia mencoba memetakan cara pulang tanpa tergesa.

Lorong Kata adalah tempat ia belajar mendengar yang tak terlihat.

 

 

Kuis Kepribadian Presiden RI
🔥 Teratas: Habibie (24.1%), Gusdur (17.1%), Jokowi (17.1%), Megawati (11.4%), Soeharto (10.1%)

Ramai Dibaca

Terbaru