Kadang kita terlihat baik di luar. Tahu cara bicara, tahu cara tertawa, tahu cara menahan emosi.
Tapi rumah sering mendapat versi yang paling lelah dari diri kita.
Di situlah ironi kecil itu hidup. Bukan karena kita tidak mencintai. Tapi karena kita sering menghabiskan perhatian di tempat yang salah.
Fragmen ini lahir dari momen sederhana: seorang anak pulang setelah beberapa hari pergi, lalu datang menghampiri tanpa menuntut apa-apa. Dan seorang ayah tiba-tiba sadar, bahwa cinta yang paling utuh sering hadir tanpa suara.
Yang Tersenyum ke Arahku
Verse 1
Aku sering rapi di depan orang
tahu cara bicara yang tepat
tahu kapan harus tertawa
tahu kapan harus terlihat kuat
Tapi di rumah aku sering pulang
dengan suara yang tinggal sisa
yang paling dekat cuma kebagian
aku yang lelah dan terburu-buru
Chorus
Lalu kau datang menghampiriku
dengan langkah kecil yang ringan
dan kau tersenyum ke arahku
seolah aku tak pernah mengecewakan
kau tidak tanya ke mana aku pergi
kau tidak hitung berapa lama
kau hanya datang dan memeluk
seperti dunia tak pernah meluka
Verse 2
Tas kecilmu masih di bahu
wajahmu hangat, matamu terang
setelah berhari-hari kau pergi
kau pulang tanpa membawa perang
Dan aku berdiri menahan dada
seperti ada yang jatuh perlahan
karena aku tahu, selama ini
aku sering salah menyapa rumah
Chorus 2
Dan kau tersenyum ke arahku
lebih dulu daripada aku bicara
aku tiba-tiba merasa kecil
di hadapan kasih yang sederhana
kau tidak minta aku sempurna
tidak juga ingin aku hebat
kau hanya ingin aku ada
dan itu yang sering tak sempat
Bridge
Dunia tak benar-benar peduli
apakah aku pulang atau tidak
tapi kau selalu menyisakan ruang
untuk aku kembali utuh
dan aku malu pada caraku sendiri
yang pandai untuk orang luar
ramahku habis di jalan
sementara rumah dapat sisanya
Outro
Hari ini aku belajar diam
menaruh dunia di luar pagar
karena yang paling berharga
adalah yang tersenyum ke arahku
tanpa syarat
Ada cinta yang tidak menuntut pembuktian. Tidak menagih kata-kata. Tidak meminta kita menjadi orang hebat.
Ia hanya ingin kita hadir.
Dan mungkin itu pelajaran paling sunyi: bahwa yang paling tulus sering datang tanpa marah, tanpa kecewa, tanpa tuntutan. Hanya tersenyum, lalu memeluk.
Part of Sistem Sunyi.
Tulisan ini termasuk dalam Jejak Sunyi dalam Musik: ruang di mana karya musik diperlakukan sebagai fragmen kesadaran dalam ekosistem Sistem Sunyi.
Lagu dalam seri ini tidak berfungsi sebagai ilustrasi konsep atau media ekspresi emosional, melainkan sebagai artefak yang menyimpan jejak pengalaman batin yang telah ditata dan disadari.
Fragmen ini merupakan bagian dari arsip Sistem Sunyi dan ditempatkan sebagai penanda perjalanan kesadaran lintas medium.
Pengutipan sebagian atau keseluruhan isi diperkenankan dengan mencantumkan sumber: RielNiro – TokohIndonesia.com
Lorong Kata adalah ruang refleksi di TokohIndonesia.com tempat gagasan dan kesadaran saling menyeberang. Dari isu publik hingga perjalanan batin, dari hiruk opini hingga keheningan Sistem Sunyi — di sini kata mencari keseimbangannya sendiri.
Berpijak pada semangat merdeka roh, merdeka pikir, dan merdeka ilmu, setiap tulisan di Lorong Kata mengajak pembaca menatap lebih dalam, berjalan lebih pelan, dan mendengar yang tak lagi terdengar.
Atur Lorielcide berjalan di antara kata dan keheningan.
Ia menulis untuk menjaga gerak batin tetap terhubung dengan pusatnya.
Melalui Sistem Sunyi, ia mencoba memetakan cara pulang tanpa tergesa.
Lorong Kata adalah tempat ia belajar mendengar yang tak terlihat.


