Page 35 - Majalah Berita Indonesia Edisi 27
P. 35


                                    BERITAINDONESIA, 21 Desember 2006 35LENTERAeneurshipendan interdependen.Pemilik jiwa Entrepreneurship adalahmanusia yang memiliki pemikiran jauhke depan. Ia akan selalu hidup berdampingan secara interdependen dengansesamanya. Jiwa interdependen akanmembawa kejayaan kepada orang perorang sesuai fitrah, harkat dan martabatmanusia yang diciptakan untuk salingmemiliki saling ketergantungan, danmampu memanfaatkan setiap apapunyang ada di dunia.Pernyataan Syaykh demikian itudisampaikan sebagai pengantarmenjelang kuliah umum atau stadiumgeneral, yang disampaikan oleh WakilKetua MPR RI HM Aksa Mahmud dihadapan civitas akademika UniversitasAl-Zaytun (UAZ) Indonesia, Sabtu 25November 2006.Kuliah umum bertempat di Auditorium Mini Zeteso Al-Zaytun, itusekaligus pula sebagai Silaturahim IdulFitri 1427 H, antara Keluarga BesarUniversitas Al-Zaytun dengan AksaMahmud, yang juga pengusaha terkemuka pendiri dan pemilik Grup Bosowa.Aksa Mahmud yang juga Wali AmanahUniversitas Gajahmada (UGM) Yogyakarta, ini adalah salah seorang figurturut berperan di belakang layar hinggaterbentuknya Universitas Al-ZaytunIndonesia.Kehadiran Aksa Mahmud ke SandremKecamatan Gantar, Indramayu, JawaBarat kali ini adalah yang kedua setelahkunjungan pertama persis saat peresmian pendirian UAZ Indonesia Agustus2005, bersama rombongan MenteriPendidikan Nasional Bambang Sudibyo.Kini, Aksa hadir di tengah-tengahratusan mahasiswa angkatan pertamadan kedua UAZ Indonesia, untukmenularkan jurus-jurus menjadipengusaha yang sukses. Kiatnyaternyata sangat jitu.Kehilangan Modal EntrepreneurshipDalam sambutan pengantarnyaRektor Universitas Al-Zaytun IndonesiaSyaykh AS Panji Gumilang mengatakan,hidup di dunia adalah hidup interdependen sebagai satu kultur. Modal kulturtidak bisa berdiri sendiri ia perlu modalkedua yaitu modal sosial. Modal sosialadalah keterkaitan antara satu denganyang lainnya. Modal ketiga adalahkepribadian.Ketiga modal tersebut sangat dibutuhkan untuk hidup di dunia. Ketiganyaharus saling mengikat. Setiap Entrepreneur harus mampu menerjemahkanantara kultur, sosial, dan kepribadian.Manusia selama hidup di dunia dibatasioleh ketiga modal itu, membuatnya takbisa dibandingkan dengan hidup diakhirat yang tidak memiliki batasanbatasan.Menurut Syaykh, bangsa Indonesiasudah memiliki berbagai kapital untukmaju. Paling tidak kapital pertamaberupa kultur, kedua sosial, dan yangketiga modal ekonomi. Modal keempatyang juga sudah dimiliki adalah kapitalsimbolik.Keempat modal itu diyakini Syaykhakan mampu mengantarkan Indonesiamenjadi negara yang maju dan kuat.Namun rupanya masih ada sesuatu yanghilang dari antaranya. Yaitu modalEntrepreneursip bangsa yang belumdipersiapkan secara matang.Sesungguhnya, kata Syaykh, di awalkemerdekaan bangsa Indonesia sudahmemiliki Entrepreneursip yang tinggi.Dan pelopor modal ini justru disponsorioleh orang-orang yang hidup di lingkungan pesantren.Pada tahun 1945 hingga 1960-an paraentreprener dari lingkungan pondokpesantren sangat menguasai betul usahaperbatikan, hingga melahirkan apa yangdisebut GKBI (Gabungan Koperasi BatikIndonesia). Demikian pula penguasaanatas perusahaan rokok, perkapalan,armada darat, armada laut, hinggapercetakan. Semuanya disponsori olehkalangan pondok pesantren.Akan tetapi mereka mulai hilang dariperedaran karena jiwa Entrepreneurship mereka yang tinggi tidak didukungoleh profesionalitas.Kendati berhasil mencapai kemajuanyang begitu tinggi para enterperenurtidak memiliki dasar yang kokoh,sehingga selepas tahun 1965-anhilanglah pengaruhnya. Sebagai misal,GKBI hilang lantas digantikan olehBatik Keris. Rokok Cap Jangkar hilangdigantikan oleh Gudang Garam dariKediri. Demikian pula Sarung Pelikatkeluaran santri tulen, atau sarung CapPadi dari Garut, semua hilang digantikan oleh bermacam-macam cap saat ini.Pengusahanya bukan lagi berasal darilingkungan pondok pesantren, sebabmereka itu tidak memiliki profesionalitas sehingga rontok semua habis dariperedaran.Kini, Bangunkan KembaliKesadaran untuk mengembalikankejayaan para Entrepreneur lama daripondok pesantren untungnya sudahmuncul kembali, belum begitu terlambat memang. Syaykh mengatakanbarulah sejak tahun 1999 Al-Zaytuntampil memelopori kebangkitan kembaliEntrepreneur dari kalangan pondokpesantren ini.Akan tetapi, rupanya membangunkejayaan baru tidak boleh berdiri di ataskejayaan lama. Sebab tidak bakalbangkit-bangkit nantinya. Manajemenlah yang harus mengubah untuk tak lagikembali ke kejayaan lama.Semua lingkungan sudah berubah,mengembalikan kejayaan lama haruslahdengan membangun di atas dasarprofesionalitas yang kuat.Manajem Al-ZaytunSementara itu, HM Aksa Mahmud,Wakil Ketua MPR RI yang sudahd (kanan). foto: berindo amron
                                
   29   30   31   32   33   34   35   36   37   38   39