Page 31 - Majalah Berita Indonesia Edisi 27
P. 31
BERITAINDONESIA, 21 Desember 2006 31BERITA UTAMADR Arief Rachman, Dosen UNJPentingnya Pendidikan DamaiBiaya untuk peperangan sebaiknya dialihkan untukpembangunan pendidikan, kebudayaan dan ilmupengetahuan.ang masih diingat Arief Rachman adalah raut terkejut Mister Bush, saat presiden negaraadidaya itu mendengar pemaparan sang pendidik tentang beban pendidikan di Indonesia yang cukup berat.Saat berdialog dengan George W. Bushpada 20 November lalu, ia memberikangambaran bahwa Indonesia mempunyailebih dari 41 juta siswa yang harus kitadidik dari TK sampai SMA, 2,1 juta guruyang harus terus mengikuti perkembangan keilmuan dan harus terus diperbaiki, dan 300.000 lembaga pendidikanyang harus terus ditingkatkan kemampuannya.Seperti sejumlah tokoh lainnya yangdiundang berdialog dengan Bush, Ariefhanya diberi waktu tiga menit untukmemaparkan pemikirannya. Ia lantasmengusulkan kepada sang presiden agarbiaya untuk peperangan di dunia inisebaiknya dialihkan untuk pembangunanpendidikan, kebudayaan dan ilmu pengetahuan.Arief juga mengusulkan agar semua kegiatan pendidikan dunia ini arahnyauntuk perdamaian, demokratisasi, danmenjunjung tinggi hak asasi manusia.Dialog antara Timur dan Barat perludikembangkan, demikian pula halnya dialog antara Islam dan non-Islam, demimenghilangkan kecurigaan dan kesalahpahaman. Ia juga menyarankan programpembinaan guru, pertukaran pelajar danpengembangan penelitian.“Saya menekankan bahwa kita tidakcukup cuma terdidik saja, melainkan jugaharus berbudaya. Kita juga tidak cukupberbudaya saja, melainkan juga harusberadab,” ujarnya kepada Sanita Retmidan Amron Ritonga dari Berita Indonesia (30/11).Menurutnya, tujuan pendidikan di Indonesia adalah seperti yang tercantumdalam pasal 20 Undang-undang Dasar1945, diantaranya membentuk manusiaIndonesia yang berakhlak mulia, berkepribadian, berbudi pekerti, cerdas, demokratis dan bertanggung jawab. Itu semua berdasarkan falsafah Pancasila,Ketuhanan yang Maha Esa, berperikemanusiaan, mempunyai rasa nasionalisme, demokratis dan juga kesejahteraan sosial yang berkeadilan. Hal itu pundisampaikannya kepada George W. Bush.Presiden Bush, menurut dosen Universitas Negeri Jakarta (UNJ) ini, menanggapi pemaparannya secara positif. Meskitak ada komitmen apapun dalam dialogtersebut, namun presiden AS tersebutmengatakan hal tersebut dapat ditindaklanjuti dan diserahkan pada tim teknismasing-masing dari pemerintah AS maupun Indonesia.Pertemuan KemitraanSetelah kedatangan Bush ke Indonesia,berbagai media memberitakan komitmendari pihak AS untuk membantu pendidikan Indonesia sebesar 157 juta dolar ASuntuk 1.000 sekolah. Namun Arief mengatakan dalam dialog bersama delapantokoh lainnya, hal itu sama sekali tidakdibicarakan.“Kami tidak membicarakan soal sumbangan, dan tidak bicara soal bantuan,”ujarnya. Pertemuan tersebut, menurutnya, lebih kepada pertemuan kemitraanuntuk meningkatkan kualitas hidupmanusia (Partnership Meeting to Improve Quality of Life).Pertemuan itu memang waktunya sangat terbatas. Sembilan tokoh yang hadirhanya diberi waktu masing-masing tigamenit untuk memberikan pemaparantentang bidangnya. Lalu Bush sendirimemberikan tanggapannya selama 30menit.Menyikapi pro kontra manfaat kunjungan enam jam sang presiden dari NegaraPaman Sam itu, Arief merasa lebih bijakuntuk tidak terseret wacana politik yangberkembang.Menurutnya, kunjungan dari negaramanapun dan dari kepala negara manapun menunjukkan adanya hubungan bilateral yang baik antar Indonesia dengannegara lain. Tergantung bagaimana menindaklanjuti apa yang sudah dibicarakandalam pertemuan tersebut dan langkahapa yang harus diambil.Arief berharap, apa yang disampaikan olehsembilan tokoh, termasuk dirinya, dapat direalisasi. Meski bukan berarti kita mesti tergantung pada pemerintah AS. SR, RON, RHYfoto: berindo amronARIEF RACHMAN: Pertemuan kemitraan untuk meningkatkan kualitas hidup manusia.

