Page 36 - Majalah Berita Indonesia Edisi 27
P. 36
36 BERITAINDONESIA, 21 Desember 2006LENTERA36Stadium General Universitas Al-Zaytun IndonesiaAksa Mahmudberharap bangsaini harusmenciptakanbanyakpengusaha.Mahasiswa UAZIndonesia pundiharapkannya,kalau sudah tamatharus menjadipengusaha untukmenggantikanpengusaha daripondok pesantrenyang sempatmenghilang.puluhan tahun malang melintangsebagai Entrepreneur sukses, sangatmengerti betul bahwa Al-Zaytun adalahsebuah pusat pendidikan danpengembangan budaya toleransi danpusat pengembangan budaya perdamaian yang pengelolaannya murni sepertilayaknya sebuah institusi wirausaha.Semua biaya pengelolaan pendidikandihitung rinci untuk tak menyisakansedikitpun material terbuang percuma.Sementara dari sisi keseimbangan laintak ada sejengkal tanah pun yangdibiarkan percuma tak berproduksi. DiAl-Zaytun setiap mahasiswa bukandididik menjadi guru sandaran, melainkan, bersama santri, ustad, serta seluruheksponen bahu-membahu membangunkewirausahaan khas ala lembagapendidikan terpadu.Di Al-Zaytun inilah Aksa Mahmudmenyaksikan sendiri bagaimana ilmu danpenerapan aplikatifnya berjalan seiringsejalan. Karena sasaran yang hendakdicapai di tahun 2020, yakni menciptakanIndonesia yang kuat harus sudah merupakan sebuah cita-cita yang wujudnya seolahsudah berada di hadapan mata. AksaMahmud mengagumi betul bagaimanapola pendidikan terpadu dengan sistemsatu pipa, itu sangat mendukung realisasicita-cita menciptakan Indonesia yang kuattersebut.Karena itulah jurus-jurus bagaimanamenjadi Entrepreneur yang sejati, yangditebarkan oleh HM Aksa Mahmudseorang “Saudagar Bugis Yang Cerdas”,seolah menjadi enerji baru yangmenghinggapi seluruh civitas akademika Universitas Al-Zaytun (UAZ)Indonesia. Maklum, penyajinya sudahterbukti jitu menyiasati peta perjalananpasang-surut sebuah dunia usaha.Enerji itu kini mulai membuat seluruhcivitas akademika UAZ Indoneisaisemakin melek akan semangat membangun kewirausahaan secara mandiri,untuk mengembalikan kejayaan jiwaEntrepreneur di lingkungan pondokpesantren.“Saya melihat, saya keliling, dan sayamendengar dari Syaykh tadi, guruenterprenur itu ada di sini yaitu Syaykh.Saya membayangkan lahan yang ada disini tanah yang kering, dari tidak ada airmenjadi ada air, dari yang tidak bisahujan bisa dibikin menjadi hijau, dansemuanya menjadi bisa berproduksi,”kata Aksa.Aksa menyebutkan problem semuapondok pesantren di seluruh Indonesiasama saja. Yakni, kendati memiliki asetyang besar tetapi manajemennya tidakdikelola secara profesional. Banyaksekali pondok pesantren di Indonesiatidak dikelola oleh Entrepreneur, tetapidikelola secara lillahi taala (semuaterserah Tuhan).Aksa Mahmud berharap bangsa iniharus menciptakan banyak pengusaha.Mahasiswa UAZ Indonesia pun diharapkannya, kalau sudah tamat harusmenjadi pengusaha untuk menggantikan pengusaha dari pondok pesantrenyang sempat menghilang.Aksa berkisah dahulu sewaktu eraawal kemerdekaan di Indonesia banyaktersebar Entrepreneur. Mereka ada disetiap desa dan di setiap pelosok. Tetapimereka semua mati karena di erapemerintahan lalu, yang bertahanhingga 32 tahun terjadi kerusakanEntrepreneur. Para Entrepreneur hilangdari permukaan dan tidak berkembang.Semua pengusaha yang lahir saat ituadalah produk penguasa.Aksa memastikan era pemerintahansaat ini sudah berbeda. Pemerintahmembuka kesempatan lebar kepadasiapa saja yang mau maju dan berkembang untuk menjadi pengusaha.“Inilah harapan kita, mudah-mudahan menjadi konsistensi pemerintah,bahwa para alumni yang masih mahasiswa sekarang ini, setiap tahunnya agardiberi kesempatan untuk berusaha.Untuk diberi berusaha ini harus adapersiapan. Tidak ada negara yang majutanpa keberpihakan kepada perusahaandan pengusaha pribuminya. Harusdiantar keberpihakan dulu, setelah siapbersaing baru dilepas,” kata AksaMahmud. HT/AM/MSMahasiswa UAZ Indonesia menyambut H.M Aksa Mahmud dengan menyanyikan laguIndonesia Raya dan Mars Universitas Al-Zaytun Indonesia.foto: berindo amron

