Page 64 - Majalah Berita Indonesia Edisi 27
P. 64
64 BERITAINDONESIA, 21 Desember 2006BERITA KESEHATANBilaJargonTak LagiAmpuhPengidap HIV/AIDSterus bertambah.Populasi berisikotinggi ada padapengguna napzasuntik dankelompokberperilaku seksbebas.eringatan Hari AIDSSedunia 1 Desemberdi Indonesia diwarnai keprihatinan karena pengidap HIV/AIDS semakin bertambah di kalanganpengguna napza (narkotika,psikotropika dan zat adiktiflainnya) dengan usia yangsemakin muda. Beberapa media mengulas masalah ini dalam berbagai versinya.Ulasan berbagai media tersebut pada intinya sama, bahwa salah satu cara untuk menanggulanginya adalah dengan pendekatan pengurangan dampak buruk penggunaan napza suntik (harmreduction).Harm reduction sendiri bukannya tidak menimbulkankontroversi. Karena dalam halpenggunaan napza suntik,akan dibagikan jarum-jarumsuntik steril kepada penggunanapza suntik. Hal itu bisadianggap melegalkan penyalahgunaan narkotika.Kompas, 22 November2006, menekankan posisi pemerintah yang dilematis dengan rencana program layanan jarum suntik yang akanditerapkan di puskesmas, rumah sakit dan lembaga pemasyarakatan. Mengutip pernyataan Menko Kesra Abu RizalBakrie, ada kekhawatiran legalisasi peredaran narkoba. Karena itu, perlu dicari solusibagaimana layanan jarum suntik itu diberikan.Meski demikian, denganprogram layanan tersebut, diharapkan 80 persen populasipaling berisiko bisa terjangkau.Sementara itu, Menteri Hukum dan HAM Hamid Awaluddin mengusulkan agar parapenghuni lembaga pemasyarakatan (lapas) dan rumah tahanan dapat dengan mudahmengakses layanan kesehatandan pengurangan dampak buruk napza suntik. Caranyadengan mendirikan rumahsakit di dalam 13 lapas narkotika. Saat ini ada sejumlahlapas yang belum memilikidokter.Sementara itu, Suara Pembaruan seolah-olah menyetujui program layanan jarumsuntik ini. Pada edisi 23 November 2006, harian ini memuat berita kecil berjudul“Harm Reduction” KurangiPenyebaran HIV/AIDS.Mengutip pernyataan SekarWulansari, Direktur ProgramYayasan Stigma, harm reduction merupakan pendekatanyang sangat diperlukan bagipengguna napza suntik denganmembagikan jarum dan alatsuntik steril.Dengan pendekatan tersebut, penanganan HIV/AIDSbisa menjangkau banyak kalangan pengguna napza. Apalagikampanye pemerintah tentangbahaya narkoba terkesan sebatas jargon. Seperti yangsering terpampang di berbagaispanduk atau billboard, yaitu“Say No to Drug”.Perlu kampanye efektifMasalah kampanye juga dibahas Kompas, 24 November2006. Menurut berita harianini, kampanye yang selama inidilakukan baru sebatas penyampaian informasi dan belum menjangkau masyarakatberisiko tinggi terinfeksi HIV/AIDS untuk mengubah perilaku mereka.Hal itu diakui Komisi Penanggulangan AIDS (KPA)Nasional. Epidemi AIDS terutama terjadi di kalanganpengguna napza yang menggunakan jarum suntik. Penderita HIV/AIDS di kalangankelompok berperilaku seksbebas juga bertambah, meskipun penggunaan kondom meningkat.Karena itu perlu dipikirkan,kampanye yang membangkitkan inspirasi dan bisamengajak seluruh pihak terkait untuk peduli dan mendukung pengendalian HIV/AIDS di Indonesia.Masalah diskriminasi terhadap penderita HIV/AIDSmenjadi sorotan harian SinarHarapan, 27 November 2006,yang memuat berita JanganJauhi Penderita AIDS.Mengutip pernyataan WakilPresiden Jusuf Kalla, agarmasyarakat tidak menjauhipenderita HIV/AIDS. Menurutnya, sesuai tema peringatanhari AIDS di Indonesia, yakniTegakkan Janji, semua orangharus berjanji untuk menghindarkan diri dari perbuatanperbuatan buruk yang menjadifaktor penyebaran AIDS.Di Indonesia, epidemi HIV/AIDS menyebar sangat cepat.Menurut data yang diperolehKompas dari Departemen Kesehatan, jumlah penggunanapza suntik di Indonesia padatahun 2006 diperkirakan sebanyak 190.000-247.000 orang. Secara nasional, 53 persen kasus AIDS diantaranyadari kalangan pengguna napzasuntik. Sedangkan di DKI Jakarta, 72 persen adalah pengguna napza muda. RHPSecara nasional, 53 persen kasus AIDS dari kalangan pengguna napzasuntik.

