Page 62 - Majalah Berita Indonesia Edisi 27
P. 62
62 BERITAINDONESIA, 21 Desember 2006BERITA PEREMPUANNawal El SaadawiPerempuanBukan WargaKelas DuaTulisan-tulisannya memberisemangat pembebasan.Pemikirannya yang kritisbanyak memberi inspirasibagi kaum hawa.ambutnya telah memutih semua. Namun matanya masihbersinar tajam dan cerdas.Bicaranya berapi-api. Semangatnya tak luntur, padahal usianya sudahtiga per empat abad. Dia adalah Nawal ElSaadawi, penulis feminis asal Mesir yangkarya-karyanya sudah diterjemahkandalam 12 bahasa dunia. Seorang penulisyang pemikiran-pemikirannya menjadiinspirasi bagi banyak perempuan.Harian Indo Pos, 23 November 2006,memberitakan kedatangannya ke Indonesia sebagai pembicara kunci dalam Konferensi International ke-7 Perempuan Penulis Drama. Kehadirannya menarikperhatian, karena usianya yang sepuhtidak menggerogoti berbagai pemikirankritisnya. Ia masih penuh semangat dalamhal membebaskan kaum perempuan darisegala bentuk penindasan.Beberapa bukunya dikenal luas di dunia,termasuk di Indonesia. Beberapa bahkandipentaskan di panggung teater. Bukubukunya dalam versi Indonesia antara lain,Wajah Rahasia Kaum Hawa, Perempuandi Titik Nol, Memoar Seorang DokterPerempuan, Catatan dari Penjara Perempuan, Matinya Seorang MantanMenteri, Jatuhnya Sang Imam dan Mencari, Tak Berdosanya Sang Setan.Bukunya yang baru diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia, berjudul Perjalananku Mengelilingi Dunia (My Travels Around the World), berisi catatancatatan perjalanannya ke negeri-negeriTimur pada 1960-an sampai 1970-an.Negeri-negeri yang dikunjunginya ituberisi penduduk yang religius namun jugapatriarkal, dimana posisi perempuanmenjadi yang tertindas.Dalam bukunya itu, menurut ulasanMajalah Tempo, Nawal tampak terpesonadengan berbagai hal baru yang dijumpainya. Namun demikian semua itu berujungpada satu kesimpulan bahwa di negerinegeri itu, perempuan selalu menjadiwarga kelas dua yang tak berdaya.Bahkan, di India yang dulu didominasisistem matriarkal, kini ia menjumpai paraperempuannya membanting tulang menghidupi keluarga dan menyenangkansuaminya. Baginya, hal itu suatu kemunduran.Lebih cinta menulisSemua yang ditulis Nawal adalah berdasarkan kisah nyata yang dijumpai dandialaminya sendiri. Profesinya selainsebagai penulis adalah dokter psikiatri,dan pengalamannya itu dituangkan dalambukunya Memoar Seorang Dokter Perempuan.Karir kepenulisannya bukannya tidakmendapat hambatan sama sekali. Sebagaiseorang feminis sosialis, Nawal masukdaftar hitam dan menderita di bawahrezim Anwar Sadat. Sensor ketat diberlakukan terhadap buku-bukunya. Dania mendapat tekanan dari kelompokkelompok religius ekstrim.Ketika pemerintahan Mesir beralih keHusni Mubarak, Nawal diperbolehkanmenerbitkan bukunya di Mesir. Namunkemudian rezim tidak senang dengan apayang ditulisnya. Biarpun demikian, Nawaltetap gigih dan berani mengeluarkanpendapatnya.Kecintaannya kepada dunia kepenulisannya juga menghadapkannya kepada pilihan yang disodorkan suaminya.Kala itu, suaminya menyuruhnya memilihtetap menjadi isterinya atau tetap menulis. Nawal memilih yang terakhir.Hingga kini, ia merasa prihatin terhadap kaum perempuan yang terbelenggudan karyanya terhambat. Karena itulah,ia membagi semangatnya melalui kemitraan dengan kaum perempuan di seluruh dunia. Menurut pandangannya,feminisme bukan persoalan perempuanmelawan laki-laki.Feminisme adalah persoalan menciptakan keadilan, pembebasan, kemerdekaandan persoalan pos-kolonialisme yangdialami banyak perempuan di Asia.Salah satu persoalan perempuan yangdianggapnya paling memprihatinkanadalah tradisi sunat terhadap bayi perempuan. Sebagai dokter, ia sangat tahutujuan dan akibat sunat itu bagi perempuan setelah ia dewasa. “Itu bukan budayaIslam,” ujarnya keras. “Itu budaya Arab.”Ia berkata, perempuan harus selalubertanya, berpikir dan memberontakuntuk suatu perubahan dari sistem yangmembelenggu kaumnya. RHRNAWAL EL SAADAWI: Perempuan harus selalu bertanya dan berpikir kritis.

