Page 56 - Majalah Berita Indonesia Edisi 76
P. 56
56 BERITAINDONESIA, Mei 2010Hardiknas KehilanganSemangatTahun ini jumlah sekolah yang muridnya 100% tidak lulusujian nasional (UN) bertambah banyak.i latarbelakangi tanggal danbulan kelahiran tokoh pendidikan nasional, pendiri Taman Siswa, Ki Hadjar Dewantara yang bernama asli Raden Mas Soewardi pada tanggal 2 Mei 1889, Indonesia menetapkan tanggal 2 Mei setiaptahunnya sebagai Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas).Hardiknas pun kemudian selalu diperingati dengan hikmat dan bersemangatoleh seluruh sekolah di Tanah Air. Namuntahun ini, banyak sekolah yang merayakannya dengan dingin-dingin saja tanpasemangat. Situasi tersebut tidak terlepasdari duka yang baru saja dialami sekolahtersebut, dimana sebagian besar - bahkanada yang seratus persen - muridnya tidaklulus ujian nasional 2010. Karena itu,makna peringatan Hardiknas pun menguap cuma seremonial belaka.Tahun ini jumlah sekolah yang muridnya 100% tidak lulus ujian nasional (UN)bertambah banyak. Seperti disampaikanMenteri Pendidikan Nasional MohammadNuh 27 April 2010, di tingkat SLTA saja,267 SMA/MA/SMK yang terdiri atas 51sekolah negeri dan 216 sekolah swasta,100 persen siswanya tidak lulus UN.Jumlah siswa yang tidak lulus dan harusmengikuti UN ulang itu mencapai 7.648orang. Sebaliknya, hanya 5.795 sekolah(35,17 persen) yang 100% siswanya(418.855) lulus. UN 2010 sendiri diikuti16.467 SMA/MA/SMK di seluruh Indonesia. Di tingkat SMP, tahun ini tercatat 561SMP dan sederajat yang 100% tidak lulus.Pemerintah memang berjanji tidakakan memberi sanksi kepada sekolahsekolah yang prestasi kelulusan UN-nyajeblok tersebut. Sebaliknya, mereka akandibantu untuk diperkuat karena kemampuannya yang terbatas. Para pelajar yangtidak lulus itu pun masih diberi kesempatan untuk ujian ulang pada pertengahan Mei 2010. Sedangkan mengenailulusannya, Wakil Mendiknas Fasli Djalalmenjamin tidak akan ada pembedaanantara lulusan UN dengan lulusan UNulang. “Bobot keduanya sama besar,”ujarnya. Namun, terlepas dari itu, dapatdimaklumi jika seluruh civitas akademikdi sekolah-sekolah itu mengalami penurunan semangat, bahkan mungkin maluakibat kegagalan UN tersebut. Yangkemudian membuat semangat merayakanHardiknas juga menurun.Melihat kondisi sekarang ini, mungkinwajar jika dunia pendidikan kita sejakbeberapa tahun terakhir ini disebut cukupmemprihatinkan. Bukan karena hanyamasalah ujian nasional, tapi juga masalahlainnya, seperti biaya pendidikan, pemerataan kualitas dan kuantitas antar daerahdi seluruh Indonesia, termasuk seleksimasuk perguruan tinggi negeri.Soal ujian nasional, misalnya, daritahun ke tahun selalu menjadi perdebatanpro dan kontra. Untuk tahun 2010 ini,standar kelulusan dinaikkan menjadi 5yang dimaksudkan sebagai salah satuusaha peningkatan mutu pendidikan diIndonesia. Namun di sisi lain, upayamenyamaratakan mutu sekolah di seluruhnegeri, baik antarPulau Jawa dan luarPulau Jawa, maupun antardesa dan kota,belum maksimal dilakukan oleh pemerintah. Untuk itu, agar waktu bangsa ini tidakhabis hanya untuk mengurusi UN, hendaknya evaluasi menyeluruh perlu dilakukan, termasuk evaluasi mengenai soalujiannya dan penyelengaraannya.Seleksi penerimaan mahasiswa di perguruan tinggi juga kiranya perlu mendapat evaluasi. Sebab, seperti terhadappelajar SLTA yang tidak lulus ujian nasional tadi, beberapa perguruan tinggimembuat sikap yang berbeda. Sejumlahperguruan tinggi di DI Yogyakarta misalnya, masih memberikan kesempatankepada pelajar yang sebelumnya telahlolos seleksi masuk, tetapi gagal ujiannasional. Para pelajar itu diberikantenggang waktu melengkapi ijazah hinggatahun berikutnya. Akan tetapi, merekabelum dapat mengikuti kuliah sebelummelengkapi ijazah kelulusannya.Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta misalnya, memberikan kesempatan hingga satu tahun terhitung sejakpelajar lolos seleksi masuk UGM. “Namun, selama belum melengkapi ijazah,mereka tetap berstatus calon mahasiswadan belum bisa ikut kegiatan perkuliahan.Setelah syarat lengkap, baru bisa ikutkuliah,” papar Direktur Akademik danAdministrasi UGM Yogyakarta BudiPrasetyo Widyobroto (28/4).Berbeda dengan UGM, Rektor Universitas Negeri Yogyakarta Rochmat Wahabmengatakan, calon mahasiswa yang gagalUN utama dan ulangan akan langsungdinyatakan gugur. Hal itu disebutkannyauntuk menjaga integritas institusi danmenegakkan peraturan pemerintah. “Jatahkursi mereka akan kami berikan kepadapeserta seleksi di bawahnya,” tuturnya.Masih banyak persoalan pendidikanlainnya di negeri ini. Maka dari itu, padakesempatan peringatan Hari PendidikanNasional ini, para pihak yang berkompeten hendaknya kembali duduk satumeja untuk menyatukan visi dan misitentang pendidikan nasional ke depan.Dengan demikian, kegagalan yang pernahdialami selama ini tidak terulang lagi.Hardiknas tahun depan pun akan dirayakan dengan penuh semangat. SITDBERITA HUMANIORAilustrasi: sonny p

