Page 57 - Majalah Berita Indonesia Edisi 76
P. 57


                                    BERITAINDONESIA, Mei 2010 57Ketika Kakak Adik Alami KonflikBanyak anak, banyak rejeki. Mitos lama ini menurutkebanyakan orang kini tidak berlaku lagi. Sebaliknya,banyak anak membuat masalah dalam keluarga semakinkompleks. Tak hanya masalah makanan, pakaian, danpendidikan, kebutuhan akan perhatian dan kasih sayangjuga penting bagi si anak.ebutuhan akan perhatian orangtua sering memicu konflik antarsaudara kandung terutama ditahun-tahun pertama kehidupan.Berndt (1997) dan Vandel dan Bailey(Shantz dan Hartup, 1995) mencatatadanya pola-pola normatif konflik antarsaudara kandung menurut tahapan perkembangan. Konflik ini berbeda-bedasebab, bentuk, dan frekuensinya untuksetiap tahapan perkembangan.Adanya konflik ini sering memicumeningkatnya masalah perilaku yangberkaitan dengan tidur, makan, dan temper tantrum. Lihat saja bagaimana si kecilsatu tahun yang mulai mampu melakukanmanipulasi barang-barang dan bergerakmengelilingi rumah. Balita muda inisering dipersepsi kakaknya melakukanpenentangan secara langsung.Pada rentang usia satu sampai duatahun, konflik antar saudara kandungmenunjukkan peningkatan karena anakyang lebih muda lebih asertif terhadapsaudara kandungnya yang lebih tua danmulai menunjukkan penolakan terhadapusaha saudara tuanya untuk mengendalikan sumber daya yang ada.Saat anak-anak berumur dua sampaitiga tahun, konflik muncul karenaperebutan kontrol atas sumber daya yangada di rumah. Konflik antar saudarakandung pada tahapan ini terfokus padaisu keadilan dan ekualitas distribusibarang-barang yang ada. Rebutan mainandan barang menjadi sering terjadi. Polakonflik yang khas terjadi adalah sangkakak merasa lebih berkuasa dan berhakuntuk mengambil mainan dari si adik, dansi adik akhirnya menyerah pada tuntutansang kakak.Frekuensi konflik akan menurun padamasa sekolah dan semakin jarang padatahap remaja akhir. Cara penyelesaiankonflik sering memakai cara menarik diriatau mengabaikan satu sama lain. Disinilah awal perubahan sikap anak yangmenjadi pendiam atau acuh tak acuh.Mengutip buku The Golden Rules toRaise Your Children karangan Dr. AliciaChristine, semakin sedikit perbedaan usiaantara seorang anak, semakin ketat pulapersaingan yang ada. Persaingan itutimbul akibat dari dua anak atau lebihmemiliki kebutuhan yang sama, sehinggamereka memperebutkan perhatian yangsama dari orangtuanya.Konflik antara anak akibat persainganadalah hal yang wajar terjadi. Dalam ilmupsikologi lebih populer disebut sibling rivalry (rivalitas saudara kandung)yang berarti persaingan antarsaudara laki-laki atau perempuan dalam merebutkan cinta dan perhatian orangtua.Rivalitas didasari pada perasaan cemburu yang merupakan perasaan terancamkarena takut kehilangan perhatian dan kasih sayang.Masalah timbul bila konflik diwarnai aksi cemburu, marah, hingga berkelahi. Sikap yang sering muncul di antaranya, egois, suka berkelahi, ketakutanneurotic, mengalami gangguantidur, kebiasaanmenggigitkuku, hiperaktif,suka merusak, dan menuntut perhatian.Namun bisa pula sebaliknya menjadipenurut dan patuh, selalu mencari pertolongan tetapi dengan diam-diam berusaha untuk menang.Salah satu penyebab sibling rivalryadalah sikap orang tua yang lebih dekatdengan salah satu anak. Sebuah penelitianyang melibatkan anak usia lima sampaienam tahun, menyimpulkan bahwa lebihdari dua pertiga anak merasa ibu merekapilih kasih. Tanpa disadari beberapaorangtua lebih mengasihi anak yangberbakat, penurut, dan memiliki sesuatuyang dapat dibanggakan.Orang tua yang bijaksana dapat memberi perhatian secara seimbang kepadasemua anak. Dan bila perselisihan terjadi,orangtua dapat memisahkan keduanyadengan baik. Tidak dengan cara menyalahkan salah satu atau memarahi dengansuara keras.“Ketika suasana sudah kembali tenang,orangtua bisa menanyakan penyebabpertengkaran pada keduanya dengantidak menghakimi salah satunya. Mencoba menyelesaikan masalah dengan caramembantah atau menyuruh keduanyapergi tidak akan berhasil, tapi justru bisamemperparah situasi yang ada,” jelasSuzie Hayman, penulis buku ParentingYour Teenager.Penerapan pola asuh yang proaktifterbukti dapat membantu anak-anakbelajar keterampilan sosial dan melatihmereka bagaimana mengatasi diri sendirisaat dihadapkan dengan konflik. Mulailahberikan perhatian dan kasih sayangdengan kualitas sama kepada masing-masinganak. Kenallahkarakter masing-masing anak Anda danajar selalu mereka untuk saling mengasihi.Libatkan juga anak-anak dalam kegiatanbersama dengan peran yang berbeda. Misalnya saat menyiapkan makan bersama.Anda dapat meminta sang kakak untukmenyiapkan piring dan si adik menyiapkansendok garpu. Kegiatan bersama mendorongmereka bekerja sama dan bukan bersaing.Terapkan aturan yang sama, baik ayahmaupun ibu. Konsekuensi akibat ketidakpatuhan kepada ibu, juga berlaku samasaat melakukannya terhadap ayah. Sikapkonsisten dalam menerapkan peraturanjuga penting untuk mengajarkan kedisplinan pada anak.Setiap anak unik, jadi hargailah perbedaan. Tuhan memberikan talenta yangberbeda bagi masing-masing anak. Ajaklah mereka menghargai perbedaan itu dantidak membanding-bandingkan kemampuannya dengan saudara kandungnya.Akhirnya, Anda sebagai orang tuaadalah contoh bagi anak-anak Anda. Apayang Anda ajarkan haruslah lebih duluAnda lakukan. „ DGRKBERITA HUMANIORAfoto: dok.berindo
                                
   51   52   53   54   55   56   57   58   59   60   61