The Journalistic Biography

✧ Orbit      

BerandaSistem SunyiTidak Pergi ke Mana-Mana
inti

Tidak Pergi ke Mana-Mana

Tentang kesadaran yang tinggal bersama rasa tanpa menyingkirkannya

Tulisan ini bagian dari sistem kesadaran reflektif RielNiro 📷Sistem Sunyi

✧ Orbit      

Litani Sunyi
Lama Membaca: 3 menit

Pengantar

Titik masuk dan fondasi kesadaran. Peta ini membantu melihat posisi bacaan tanpa memaksamu menuntaskan semuanya.

Kesadaran yang utuh tidak lahir dari rasa yang disingkirkan. Dalam Sistem Sunyi, luka dan perih tidak dipercepat menuju selesai, tetapi dihadapi dengan kehadiran yang jujur. Dari keberanian untuk tidak pergi ke mana-mana inilah, stabilitas batin perlahan bertumbuh.

Pusat Makna
Kesadaran tidak menunggu rasa hilang untuk tetap hadir. Dalam Sistem Sunyi, rasa ditinggali agar dapat diolah, bukan disingkirkan, sehingga keutuhan batin bertumbuh tanpa pelarian.

Ada dorongan yang hampir selalu muncul ketika rasa menyakitkan hadir: keinginan untuk pergi. Pergi dari perih, dari ketidaknyamanan, dari beban yang terasa terlalu berat untuk ditahan. Dorongan ini sering tidak disadari sebagai pilihan, melainkan sebagai refleks. Ia tampak wajar, bahkan masuk akal. Namun di titik inilah Sistem Sunyi mengambil sikap yang berbeda: tidak segera pergi.

Rasa tidak datang untuk disingkirkan. Ia hadir sebagai bagian dari pengalaman hidup yang sedang berlangsung. Ketika rasa ditolak terlalu cepat, yang terjadi bukan kebebasan, melainkan pemutusan hubungan dengan diri sendiri. Penolakan ini sering disamarkan sebagai kewarasan, ketegaran, atau kematangan. Padahal yang benar-benar terjadi adalah pengingkaran yang halus: rasa dianggap gangguan, bukan sesuatu yang perlu dihadapi dengan kesadaran utuh.

Sistem Sunyi tidak memuja rasa, dan tidak pula menjadikannya pusat identitas. Ia juga tidak mendorong seseorang untuk tenggelam di dalam perih. Yang ditawarkan adalah posisi yang lebih jujur dan lebih sulit: tinggal. Tinggal berarti membiarkan rasa ada tanpa harus segera diubah, tanpa ditutup dengan makna cepat, tanpa dilompati demi ketenangan instan. Tinggal bukan pasrah, melainkan kehadiran yang sadar.

Ada perbedaan penting antara tinggal dan terseret. Tinggal menjaga jarak yang cukup agar kesadaran tidak larut, sementara terseret membuat rasa menguasai seluruh medan batin. Sistem Sunyi berdiri di ruang tipis di antara keduanya. Di ruang ini, rasa dirasakan sepenuhnya, tetapi kesadaran tetap berdiri. Tidak ada heroisme. Tidak ada klaim kekuatan. Hanya keberanian untuk tidak meninggalkan apa yang sedang terjadi.

Bahaya terbesar bukan pada rasa itu sendiri, melainkan pada dorongan untuk menyelesaikannya terlalu cepat. Ketika perih dipercepat menuju “selesai”, ketenangan yang muncul sering terasa rapi namun rapuh. Ia berdiri di atas penghindaran, bukan pemahaman. Dalam jangka panjang, rasa yang tidak pernah benar-benar dihadapi cenderung kembali dalam bentuk lain: mati rasa, sinisme, atau kemarahan yang tidak diakui sumbernya.

Kesadaran yang utuh tidak lahir dari rasa yang dimatikan. Ia tumbuh ketika rasa dibiarkan ada dan dihadapi tanpa harus dikuasai. Dalam Sistem Sunyi, stabilitas bukan hasil pembiusan emosi, melainkan hasil kejujuran batin. Kejujuran ini tidak menyenangkan, tetapi ia membangun fondasi yang tidak mudah runtuh. Dari sinilah jarak yang sehat terbentuk, bukan sebagai pelarian, melainkan sebagai ruang bernapas bagi kesadaran.

Namun kehadiran yang jujur ini bukan tujuan akhir. Ia adalah kondisi awal agar rasa tidak berhenti sebagai beban, melainkan dapat bergerak tanpa menghancurkan kesadaran. Dalam Sistem Sunyi, rasa ditinggali agar dapat diolah, bukan disingkirkan. Luka tidak dihapus, perih tidak dipaksa reda, ingatan tidak ditutup agar cepat rapi. Yang berubah bukan rasa itu sendiri, melainkan relasi kesadaran terhadap energi rasa tersebut.

Pengolahan ini tidak terjadi lewat pemahaman cepat atau keputusan mental. Ia berlangsung melalui lintasan hidup yang nyata: cara batin membaca dirinya, cara seseorang hadir dalam relasi, cara energi rasa disalurkan ke kerja, disiplin, dan bentuk-bentuk karya, hingga akhirnya menemukan makna yang cukup kuat untuk menopang hidup.

Karena itu, tinggal bersama rasa bukan akhir dari proses, melainkan titik awal agar rasa tidak membusuk di dalam, tidak meluap tanpa arah, dan tidak menggerogoti kesadaran secara diam-diam. Dari kehadiran inilah lintasan pengolahan bisa dijaga.

Ketika rasa tidak lagi dihindari dan tidak pula dibiarkan menguasai, sebuah jalan bisa terbuka. Jalan bukan sebagai rute keluar dari rasa, melainkan lintasan yang dibangun di atas pengakuan bahwa rasa memang bagian dari hidup. Tanpa pengakuan ini, setiap jalan akan terasa seperti upaya menjauh. Dengan pengakuan ini, langkah apa pun memiliki pijakan yang jujur.

Tulisan ini tidak menawarkan cara. Ia tidak meminta pembaca melakukan apa pun. Ia hanya menegaskan satu sikap dasar: tidak semua rasa perlu ditinggalkan, dan tidak semua perih harus segera disingkirkan. Dalam banyak keadaan, kesadaran yang memilih untuk tidak pergi ke mana-mana sudah cukup untuk menjaga keutuhan diri. Selebihnya, biarlah waktu dan kehadiran yang bekerja.

Tulisan ini merupakan bagian dari Sistem Sunyi, sebuah sistem kesadaran reflektif yang dikembangkan secara mandiri oleh melalui persona batinnya, .

Setiap bagian dalam seri ini saling terhubung, membentuk jembatan antara rasa, iman, dan kesadaran yang terus berputar menuju pusat.

Pengutipan sebagian atau keseluruhan isi diperkenankan dengan mencantumkan sumber: RielNiro – TokohIndonesia.com (Sistem Sunyi)

Lorong Kata adalah ruang refleksi di TokohIndonesia.com tempat gagasan dan kesadaran saling menyeberang. Dari isu publik hingga perjalanan batin, dari hiruk opini hingga keheningan Sistem Sunyi — di sini kata mencari keseimbangannya sendiri.

Berpijak pada semangat merdeka roh, merdeka pikir, dan merdeka ilmu, setiap tulisan di Lorong Kata mengajak pembaca menatap lebih dalam, berjalan lebih pelan, dan mendengar yang tak lagi terdengar.

Atur Lorielcide berjalan di antara kata dan keheningan.

Ia menulis untuk menjaga gerak batin tetap terhubung dengan pusatnya.

Melalui Sistem Sunyi, ia mencoba memetakan cara pulang tanpa tergesa.

Lorong Kata adalah tempat ia belajar mendengar yang tak terlihat.

 

Kuis Kepribadian Presiden RI
🔥 Teratas: Habibie (24%), Gusdur (16.9%), Jokowi (16.9%), Megawati (11.6%), Soeharto (10.2%)
Artikulli paraprak
Artikulli tjetër

Ramai Dibaca

Terbaru