Ada hari yang tidak datang membawa ajakan. Tidak meminta ditanggapi, tidak menuntut dimaknai.
Langkah bergerak di tengah kota yang hidup, suara saling bersilang, wajah-wajah lewat tanpa saling mengenal. Di situ, seseorang bisa berjalan sendiri tanpa merasa terpisah dari apa pun.
Fragmen ini lahir dari momen seperti itu. Berjalan di jalan yang ramai, tanpa keinginan untuk mencari arah lain atau menaruh makna lebih dari yang perlu.
Di sini, sunyi tidak berarti menjauh. Ia hadir justru di tengah gerak, saat hari dibiarkan berjalan tanpa harus diikuti dengan pertanyaan.
Hari Tidak Memanggil Apa-Apa
@rielniro
Braga, Bandung, 27.01.2026
Verse 1
Aku berjalan di jalan lama
Trotoar basah sisa sore
Bangunan diam melihat hari
Orang datang dan pergi
Langkahku pelan, tidak bertanya
Suara motor, tawa singgah
Di etalase dan lampu toko
Waktu lewat tanpa isyarat
Chorus
Hari tidak memanggil apa-apa
Aku tidak perlu menjawabnya
Di antara langkah dan keramaian
Aku berjalan, dan itu cukup
Verse 2
Kafe-kafe menyalakan cahaya
Cerita orang lain lewat saja
Aku ikut ritme yang ada
Tanpa ingin ke mana-mana
Jalan ini tahu caranya diam
Meski penuh suara dan warna
Aku tidak sedang mencari pulang
Langkah ini sudah berada
Chorus
Hari tidak memanggil apa-apa
Aku tidak perlu menjawabnya
Keramaian lewat begitu saja
Dan aku tetap di langkah yang sama
Outro
Di jalan yang terus berjalan
Aku ikut, tanpa perlu nama
Lagu ini tidak mencoba menghentikan waktu atau memberi arti pada langkah yang lewat.
Ia hanya menemani hari yang tidak memanggil apa-apa, dan membiarkannya berlalu
seperti seharusnya.
Part of Sistem Sunyi.
Tulisan ini termasuk dalam Jejak Sunyi dalam Musik: ruang di mana karya musik diperlakukan sebagai fragmen kesadaran dalam ekosistem Sistem Sunyi.
Lagu dalam seri ini tidak berfungsi sebagai ilustrasi konsep atau media ekspresi emosional, melainkan sebagai artefak yang menyimpan jejak pengalaman batin yang telah ditata dan disadari.
Fragmen ini merupakan bagian dari arsip Sistem Sunyi dan ditempatkan sebagai penanda perjalanan kesadaran lintas medium.
Pengutipan sebagian atau keseluruhan isi diperkenankan dengan mencantumkan sumber: RielNiro – TokohIndonesia.com
Lorong Kata adalah ruang refleksi di TokohIndonesia.com tempat gagasan dan kesadaran saling menyeberang. Dari isu publik hingga perjalanan batin, dari hiruk opini hingga keheningan Sistem Sunyi — di sini kata mencari keseimbangannya sendiri.
Berpijak pada semangat merdeka roh, merdeka pikir, dan merdeka ilmu, setiap tulisan di Lorong Kata mengajak pembaca menatap lebih dalam, berjalan lebih pelan, dan mendengar yang tak lagi terdengar.
Atur Lorielcide berjalan di antara kata dan keheningan.
Ia menulis untuk menjaga gerak batin tetap terhubung dengan pusatnya.
Melalui Sistem Sunyi, ia mencoba memetakan cara pulang tanpa tergesa.
Lorong Kata adalah tempat ia belajar mendengar yang tak terlihat.


