The Journalistic Biography

✧ Orbit      

BerandaSistem SunyiDari Sesuatu yang Tidak Selesai
inti

Dari Sesuatu yang Tidak Selesai

Yang Tidak Pernah Terjadi, Tapi Mengubah Segalanya

Tulisan ini bagian dari sistem kesadaran reflektif RielNiro 📷Sistem Sunyi

✧ Orbit      

Litani Sunyi
Lama Membaca: 3 menit

Pengantar

Titik masuk dan fondasi kesadaran. Peta ini membantu melihat posisi bacaan tanpa memaksamu menuntaskan semuanya.

Ada hal-hal yang tidak pernah benar-benar terjadi, tapi diam-diam menggeser arah hidup seseorang. Tidak ada awal yang jelas. Tidak ada akhir yang bisa ditandai. Tapi setelah itu, ada sesuatu di dalam diri yang tidak lagi berada di tempat yang sama.

Pusat Makna
Yang tidak pernah menjadi apa-apa, justru bisa mengubah segalanya. Karena dari situlah seseorang belajar tinggal di dalam dirinya sendiri, tanpa harus menyelesaikan semuanya.

Hubungan itu tidak pernah menjadi hubungan. Tidak ada status, tidak ada pengakuan, bahkan mungkin tidak ada rencana. Namun di satu titik, ada koneksi yang terasa lebih jernih dari biasanya. Tidak ramai, tidak dramatis, tapi cukup untuk membuat seseorang berhenti sejenak dan menyadari: ada sesuatu yang berbeda.

Justru karena tidak pernah menjadi apa-apa, ia tidak pernah bisa diselesaikan seperti kehilangan pada umumnya. Tidak ada momen yang bisa ditandai sebagai akhir. Yang ada hanya satu keputusan sepihak yang datang dengan alasan yang terlihat benar. Batas. Moral. Sesuatu yang tidak bisa diperdebatkan, dan karena itu tidak bisa dilawan.

Di titik itu, tidak ada konflik. Tidak ada pertengkaran. Tidak ada kalimat yang benar-benar menjelaskan apa yang terjadi. Semuanya berhenti dengan cara yang rapi di permukaan, tapi menyisakan ruang yang tidak selesai di dalam.

Fase setelah itu adalah fase yang paling jarang dibicarakan. Bukan fase kehilangan yang meledak, tapi fase menahan sesuatu yang tidak bisa dilepaskan begitu saja. Hari-hari dijalani dalam diam yang panjang. Berpindah dari satu rutinitas ke rutinitas lain, termasuk perjalanan-perjalanan pagi yang terasa seperti cara paling jujur untuk menjaga diri tetap utuh. Tidak ada yang berubah dari luar. Tapi di dalam, ada sesuatu yang terus bergerak tanpa arah yang jelas.

Rasa itu tidak selalu hadir sebagai sedih. Ia lebih sering muncul sebagai kelelahan yang sulit dijelaskan. Sebagai dorongan untuk terus bergerak, bukan karena ingin pergi, tapi karena kalau diam terlalu lama, sesuatu di dalam bisa terasa terlalu penuh. Ada hari-hari yang terasa normal, lalu tiba-tiba ada momen kecil yang membuat semuanya terasa kembali.

Di fase itu, tidak banyak yang bisa dilakukan selain bertahan. Bukan bertahan dari seseorang, tapi bertahan di dalam diri sendiri. Tidak ada jalan pintas. Tidak ada cara cepat untuk menyelesaikan sesuatu yang bahkan tidak pernah benar-benar dimulai.

Yang perlahan berubah bukan peristiwanya, tapi cara memandangnya. Dari yang awalnya ingin dipahami, menjadi sesuatu yang cukup dibiarkan. Dari yang ingin diselesaikan, menjadi sesuatu yang cukup dijalani. Tidak semua hal perlu dipaksa menjadi makna agar bisa dilewati.

Di titik itu, rasa, makna, dan iman tidak lagi berjalan lurus. Mereka berputar, saling menunggu, dan kadang tidak bertemu dalam waktu yang sama.

Di titik itulah sesuatu yang tidak disadari mulai terbentuk. Bukan sebagai jawaban. Bukan sebagai teori. Tapi sebagai cara bertahan yang perlahan menjadi cara membaca.

Ada pola yang mulai terlihat. Bahwa rasa tidak selalu perlu diselesaikan. Bahwa makna tidak selalu datang di awal. Dan bahwa ada jarak tertentu yang justru menjaga seseorang tetap utuh.

Dari situ, tanpa disadari, lahir satu kerangka batin yang tidak dirancang dari awal, tapi terbentuk dari pengalaman yang tidak selesai. Cara melihat yang tidak memaksa kesimpulan, tapi juga tidak membiarkan diri tenggelam tanpa arah.

Yang kemudian, belakangan, diberi nama: Sistem Sunyi.

Ia bukan lahir dari keinginan membuat sistem. Ia lahir dari kebutuhan untuk tidak hancur.

Ia bukan kumpulan konsep. Ia adalah jejak dari bagaimana seseorang bertahan, menata ulang, lalu perlahan memahami apa yang sebenarnya terjadi di dalam dirinya.

Dari situlah muncul satu sikap yang sederhana tapi menentukan: tidak pergi ke mana-mana. Tidak menghindar dari rasa, tapi juga tidak tenggelam di dalamnya. Hanya tinggal, cukup lama, sampai sesuatu di dalam mulai menemukan bentuknya sendiri.

Ketika rasa tidak lagi didorong atau ditahan, ia mulai bergerak dengan ritmenya sendiri. Tidak lagi seintens di awal, tapi juga tidak sepenuhnya hilang. Ia berubah menjadi sesuatu yang lebih tenang, meski tidak selalu nyaman.

Dan di situ, tanpa banyak kata, ada satu hal yang pelan-pelan terasa: bahwa tidak semua yang menahan kita adalah luka. Kadang ada sesuatu yang menjaga, meski tidak pernah memperkenalkan diri.

Di titik ini, yang terjadi bukan penyembuhan dalam arti dramatis, tapi penataan ulang yang pelan dan nyaris tidak terlihat.

Luka itu tidak hilang. Tapi ia tidak lagi menentukan arah.

Dan dari situ, pengalaman yang awalnya terasa personal mulai bisa dibaca lebih luas. Tidak lagi hanya tentang satu relasi, tapi tentang bagaimana manusia berhadapan dengan rasa yang tidak selesai, makna yang belum datang, dan batas yang tidak bisa dilampaui.

Di situlah pengalaman ini berhenti menjadi cerita pribadi, dan mulai menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar: sebuah cara memahami diri dan hidup yang tidak selalu rapi, tapi tetap bisa dijalani tanpa harus hancur.

Mungkin di situlah akhirnya semua benar-benar selesai. Bukan karena dilupakan, tapi karena sudah tidak lagi perlu ditahan.

Dan dari yang tidak pernah benar-benar terjadi itu, justru lahir sesuatu yang terus bekerja sampai sekarang.

Tulisan ini merupakan bagian dari Sistem Sunyi, sebuah sistem kesadaran reflektif yang dikembangkan secara mandiri oleh melalui persona batinnya, .

Setiap bagian dalam seri ini saling terhubung, membentuk jembatan antara rasa, iman, dan kesadaran yang terus berputar menuju pusat.

Pengutipan sebagian atau keseluruhan isi diperkenankan dengan mencantumkan sumber: RielNiro – TokohIndonesia.com (Sistem Sunyi)

Lorong Kata adalah ruang refleksi di TokohIndonesia.com tempat gagasan dan kesadaran saling menyeberang. Dari isu publik hingga perjalanan batin, dari hiruk opini hingga keheningan Sistem Sunyi — di sini kata mencari keseimbangannya sendiri.

Berpijak pada semangat merdeka roh, merdeka pikir, dan merdeka ilmu, setiap tulisan di Lorong Kata mengajak pembaca menatap lebih dalam, berjalan lebih pelan, dan mendengar yang tak lagi terdengar.

Atur Lorielcide berjalan di antara kata dan keheningan.

Ia menulis untuk menjaga gerak batin tetap terhubung dengan pusatnya.

Melalui Sistem Sunyi, ia mencoba memetakan cara pulang tanpa tergesa.

Lorong Kata adalah tempat ia belajar mendengar yang tak terlihat.

 

Kuis Kepribadian Presiden RI
🔥 Teratas: Habibie (24.4%), Gusdur (17.1%), Jokowi (17.1%), Megawati (11.5%), Soeharto (9.8%)

Ramai Dibaca

Terbaru