Search

The Journalistic Biography

✧ Orbit      

BerandaSistem SunyiPengunjung Musala yang Melipat Sajadah Kembali Seperti Semula
jejak-luar

Pengunjung Musala yang Melipat Sajadah Kembali Seperti Semula

Tentang menghormati tempat ibadah dengan rapi, tanpa perlu menjadi teladan.

Tulisan ini bagian dari sistem kesadaran reflektif RielNiro 📷Sistem Sunyi

✧ Orbit      

Lama Membaca: < 1 menit

Di musala kecil pusat perbelanjaan, lalu-lalang orang terlihat keluar masuk. Ada yang terburu-buru, ada yang singkat, ada yang mencari jeda. Setelah salat, seorang pengunjung berdiri pelan, melipat sajadah yang ia gunakan, meratakannya kembali, lalu menyimpannya di tempat yang sama sebelum pergi. Tidak ada yang memperhatikan. Tidak perlu.

Musala umum sering dipakai banyak orang dalam ritme cepat. Sajadah kadang tertinggal terbuka, tergeser, atau terlipat setengah. Tidak ada kesalahan di sana. Orang berpindah, hari terus bergerak.

Namun, di tengah itu ada satu gerakan kecil: seseorang memilih merapikan apa yang ia pakai.

Tidak ada imam yang mengingatkan. Tidak ada tulisan besar “harus dilipat”. Tidak ada niat untuk memberi contoh. Ia tidak menoleh memastikan ada yang melihat. Ia hanya merasa bahwa selesai bukan sekadar selesai ibadah, tapi juga mengembalikan ruang agar tetap terhormat.

Dalam Sistem Sunyi, ini mendekati inti ketenangan batin: meninggalkan tempat lebih baik, meski hanya sedikit, meski tidak ada yang tahu.

Beberapa sikap terasa dekat dengan dasar Sistem Sunyi: kedalaman lebih penting daripada sorak, proses lebih jujur daripada deklarasi.

  • melipat kembali sajadah tanpa menjadikannya bagian dari kesalehan yang dipamerkan
  • menganggap kerapihan sebagai bagian dari ibadah, bukan tambahan
  • merawat ruang bersama tanpa menunggu petugas
  • menghargai orang berikutnya yang akan datang setelahnya
  • memilih hormat tanpa simbol, hanya lewat gerakan kecil

Sajadah itu terlipat rapi. Ruang tetap tenang. Tidak ada yang menyapa. Tidak ada “barusan itu kebaikan”. Dan orang itu melangkah pergi tanpa sisa niat lain selain melanjutkan hari.

Peta Sunyi Terkait
Memuat tulisan…
geser →
Memuat istilah…

Kadang, ibadah tidak berhenti ketika salam terakhir selesai. Ia terus hidup dalam cara kita merapikan apa yang kita sentuh.

Kutipan
Ada ibadah yang tidak berbentuk doa; kadang hanya lipatan yang rapi dan langkah yang pelan.

Tulisan ini termasuk dalam Jejak Sunyi di Luar: ruang observasi ringan untuk mencatat karya atau fenomena yang berada di luar struktur Sistem Sunyi, namun bergerak dalam nada yang sejalan dengan disiplin diam, proses, dan ketenangan batin.

Jejak ini tidak termasuk inti sistem. Ia hanya penanda kecil bahwa kesunyian kadang muncul tanpa nama dan tanpa rencana di tempat lain.

Pengutipan sebagian atau keseluruhan isi diperkenankan dengan mencantumkan sumber: RielNiro – TokohIndonesia.com

Lorong Kata adalah ruang refleksi di TokohIndonesia.com tempat gagasan dan kesadaran saling menyeberang. Dari isu publik hingga perjalanan batin, dari hiruk opini hingga keheningan Sistem Sunyi — di sini kata mencari keseimbangannya sendiri.

Berpijak pada semangat merdeka roh, merdeka pikir, dan merdeka ilmu, setiap tulisan di Lorong Kata mengajak pembaca menatap lebih dalam, berjalan lebih pelan, dan mendengar yang tak lagi terdengar.

Atur Lorielcide berjalan di antara kata dan keheningan.

Ia menulis untuk menjaga gerak batin tetap terhubung dengan pusatnya.

Melalui Sistem Sunyi, ia mencoba memetakan cara pulang tanpa tergesa.

Lorong Kata adalah tempat ia belajar mendengar yang tak terlihat.

 

 

Kuis Kepribadian Presiden RI
🔥 Teratas: Habibie (25.5%), Gusdur (17%), Jokowi (16%), Megawati (11.8%), Soeharto (10.4%)

Sering Dibaca

Terbaru