Yang menahan segalanya bukan kekuatan, melainkan keheningan yang percaya.
Pusat yang tidak bergerak adalah daya iman yang membuat segalanya tetap ada. Ketika manusia berhenti menggerakkan, ia akhirnya mulai ditopang oleh yang tak terlihat.
Ia tidak lagi berusaha mengatur arah hidupnya. Apa pun yang terjadi, tidak ia sebut baik atau buruk. Ia tahu, ada sesuatu yang lebih halus dari rencana. Daya yang tidak terlihat, tapi selalu menuntun.
Di sanalah pusat bekerja. Bukan di luar, bukan di dalam, melainkan di ruang yang tak dapat dijangkau oleh kehendak.
Ketika manusia berhenti memegang kendali, bukan berarti ia kehilangan arah. Justru di sanalah arah mulai menemukan dirinya sendiri.
Segala sesuatu yang bergerak di dunia ini bergerak karena sesuatu yang diam. Dan yang diam itu, bukan diam yang pasif, melainkan diam yang memelihara.
Ia tidak memerintah, tidak menuntut, hanya menjaga agar segalanya tetap berada dalam orbitnya. Dan manusia yang telah menyadarinya, tak lagi terburu-buru untuk menjelaskan apa pun.
Dalam setiap diamnya, ada rasa percaya bahwa pusat itu selalu bekerja, meski ia tak lagi mampu membedakannya dari dirinya sendiri.
Tulisan ini merupakan bagian dari Fraktal Sistem Sunyi: pecahan gagasan yang mengurai pola batin dan praktik kesunyian dalam bentuk pendek dan terfokus. Setiap fraktal memantulkan prinsip inti Sistem Sunyi dalam skala kecil, sebagai cara merawat kesadaran yang bertahap dan terus kembali ke pusat.
Pengutipan sebagian atau keseluruhan isi diperkenankan dengan mencantumkan sumber: RielNiro – TokohIndonesia.com (Sistem Sunyi)
Lorong Kata adalah ruang refleksi di TokohIndonesia.com tempat gagasan dan kesadaran saling menyeberang. Dari isu publik hingga perjalanan batin, dari hiruk opini hingga keheningan Sistem Sunyi — di sini kata mencari keseimbangannya sendiri.
Berpijak pada semangat merdeka roh, merdeka pikir, dan merdeka ilmu, setiap tulisan di Lorong Kata mengajak pembaca menatap lebih dalam, berjalan lebih pelan, dan mendengar yang tak lagi terdengar.
Atur Lorielcide berjalan di antara kata dan keheningan.
Ia menulis untuk menjaga gerak batin tetap terhubung dengan pusatnya.
Melalui Sistem Sunyi, ia mencoba memetakan cara pulang tanpa tergesa.
Lorong Kata adalah tempat ia belajar mendengar yang tak terlihat.



