Page 57 - Majalah Berita Indonesia Edisi 21
P. 57


                                    BERITAINDONESIA, 21 September 2006 57PROFIL MEDIATVRI MenungguTangan DinginSesepuh pertelevisian Indonesia, TVRI, malah teringgaldari TV-TV lainnya. Masalahanggaran menjadi kendala.Tunggu saja langkahnahkoda baru TVRI. Sepertiapa jadinya?tasiun televisi swasta tumbuhbak jamur di musim hujan berkatkehadiran era reformasi. Semuanya berebut kue iklan dan acarasponsor. Karena itu, mereka harus berpikir dan berjuang keras untuk mengemasprogram yang mendatangkan ratingtinggi. Mampukah TVRI mengejar ketertinggalannya serta mengemas programagar dilirik kembali oleh para pemirsa urban? Pertanyaan inilah yang mesti dijawab oleh para pengelola baru TVRI.Tentu mereka jangan dituntut mengejaruntung, asal pas-pasan saja sudah bagus.Mestinya semakin berusia (44 tahun),TVRI semakin canggih dan berpengalaman. Faktanya, TVRI semakin terpuruk,dan ditinggalkan para pemirsanya. Padahal TVRI memiliki 22 stasiun daerah yangdidukung 395 pemancar, ditonton oleh 82persen penduduk Indonesia. TVRI memang keberatan beban karyawan yangberjumlah 6.823 orang, termasuk 2.000di kantor pusat dan TVRI stasiun pusatJakarta yang menyelenggarakan siaranselama 19 jam dari pukul 05.00 sampai24.45 WIB.Yang ditunggu dari TVRI, kemajuanyang memadai setelah statusnya berubahdari perusahaan jawatan ke persero.Namun sampai pergantian jajaran direksiawal pekan lalu, TVRI tak banyak beranjak, dan hanya dilirik sebelah mataoleh para pemirsa urban. Di era Orde Baru(mulai 1974), TVRI berstatus direktoratdi bawah naungan Direktorat JenderalRadio, TV dan Film, Departemen Penerangan. Masuk era reformasi (mulai1998), tepatnya tahun 2000, status TVRIberubah jadi perusahaan jawatan (miliknegara). April 2001, status TVRI berubahlagi menjadi perseroan terbatas atauBUMN yang bernaung di bawah Departemen Keuangan.TVRI, di era Orba, memang dipakai sebagai corong oleh pemerintah yang berkuasa. Nasibnya tak beda jauh dengan Radio Republik Indonesia (RRI). Namunposisinya sedikit berubah di era reformasi. TVRI sudah boleh menyampaikaninformasi two-way traffic, dari pemerintah kepada rakyat, dan dari rakyatkepada pemerintah. Artinya, TVRI lebihbanyak memfokuskan perhatian untukmenerjemahkan kebijakan dan programpemerintah dengan cepat, tepat dan baik.Karena itu, jangan terlalu berharap TVRImenyajikan program-program kenes,seperti TPI, RCTI, SCTV dan Global TV.Tadinya ada ketentuan bahwa setiap TVswasta menyetor lima persen dari keuntungan bersih iklan ke TVRI. Di dalampelaksanaannya, banyak TV swasta yangmenunggak dan tidak melaksanakan kewajibannya.Dari jajaran direksi baru diharapkanmunculnya inovasi dan pembenahan;manajemen, struktur organisasi, keuangan dan SDM. Nilai jual TVRI tertinggal dari TV-TV swasta, karena etos kerjakebanyakan karyawan yang tidak bergairah. TVRI juga harus memenuhipersyaratan yang ditetapkan oleh Undang-Undang Penyiaran: TV publikdengan sasaran khalayak yang jelas.Setelah proses pendaftaran dan pemilihan tim direksi yang cukup panjang,Kamis (24/8), Mayjen TNI (Purn) I GdeNyoman Arsana, dari Partai Golkar,dilantik sebagai Direktur Utama. Diadilantik bersama Rully CharmeiantoIswachyudi, dari Partai Demokrat, sebagai Direktur Program dan Berita; AntarMT Sianturi, Direktur Keuangan; KemasA Tolib, Direktur Teknik; Farhat Syukrie,Direktur Umum; dan Hempi NartomoPrajudi, Direktur Pengembangan danUsaha.Reaksi pun muncul dari para karyawan setelah mereka dilantik. Soalnya,mereka menginginkan kader pimpinandari dalam. Hanya Farhat yang berasaldari dalam TVRI sendiri. Selebihnyadiambil dari luar; Rully bekas karyawanTV swasta, Antar bekas pejabat BadanPengawas Keuangan dan Pembangunan(BPKP), Kemas aktif di Depkominfo,dan Hempi pernah bekerja di PT CocaCola.Arsana mengaku melamar atas keinginan pribadi. Lelaki yang pernahmenjabat Koordinator Staf Ahli PanglimaTNI, Kepala Litbang Departemen Pertahanan dan Keamanan, Kepala LitbangABRI itu, mengaku ingin terus mengabdikan diri kepada negara dengan menjadiDirektur Utama (Dirut) TVRI (Kompas,25/8). Dia terpilih di antara 270 pelamarlowongan pimpinan TVRI. Seleksi pertama dilakukan oleh LMUI, menyisakan18 nama. Mereka lantas menjalani ujikelayakan dan kepatutan yang diselenggarakan oleh Dewan Pengawas TVRI.Meneg Kominfo, Sofyan A Djalil mengatakan, pihaknya tidak melakukanintervensi atau menitipkan orang kedalam jajaran direksi TVRI. “Tidak adatitipan. Saya sudah 5 tahun pensiun. Jadisaya tidak berasal dari mana-mana,” kataAngsana. „ SB, SHSfoto: berindo wilson
                                
   51   52   53   54   55   56   57   58   59   60   61