Page 54 - Majalah Berita Indonesia Edisi 21
P. 54
54 BERITAINDONESIA, 21 September 2006BERITA HANKAMKalau Gaji PolisiMelambungGaji polisi pangkat terendah diusulkan Rp 8,3 juta. Kapolrimenemukan terapi ini untuk memperbaiki kinerjakorpsnya. Tetapi angka sebesar ini dianggap kurang patut.ak petir menyambar di siangbolong. Angan Kapolri Jenderalmenukik ke batas langit ketikamengusulkan kenaikan gajipolisi pangkat terendah tak kurang daridelapan kali lipat. Kalau gaji pangkatterendah Rp 8,3 juta, berapa gaji yangpantas untuk bintara, perwira rendah,menengah dan tinggi? Celakanya, bisa jadikepolisian diserbu para pemuda jika gajitamtama saja setinggi itu. Dan bursarekrutmen calon polisi akan jadi ajangpercaloan.Jenderal Sutanto hanya berangkat darisatu sisi pandang—melulu di dalam tubuhPolri. Dia mengedepankan contoh, gajiseorang tamtama, Rp 1.232.100 sebulan,habis untuk kebutuhan rumah tanggadalam sepuluh hari. Karena itu, diamengusulkan kenaikan 800 persen, agarpolisi bisa konsentrasi pada tugas, tidakperlu mencari sana-sini untuk menutupkebutuhan sebulan. Usulan itu memangideal, tetapi mampukah negara memanggulnya?Sutanto tak ingin menutupi kenyataanbahwa gaji seorang tamtama terlalurendah. Tak bisa disisihkan untuk biayasekolah, kesehatan dan kebutuhan lain.Seorang tamtama tak bisa menyekolahkananak mereka dan mencukupi kebutuhanlainnya. “Sangat tragis, gaji anggota Polrihanya cukup untuk makan sepuluh hari,”kata Sutanto kepada wartawan usaimenghadiri pidato kenegaraan PresidenSusilo Bambang Yudhoyono di DPR (16/8).Dari mana Jenderal Sutanto menemukan skema gaji tersebut? Agaknya, usulankenaikan tersebut berdasarkan kajianDeputi Polri Bidang Perencanaan danPengembangan. Jadi Jenderal Sutantotidak sekadar berkelakar. Dia sudahmengajukan usulan tersebut secara rincikepada Menteri Keuangan Sri Mulyani.Menkeu memang belum memberi jawaban, dipertimbangkan ataukah ditolak.Namun usulan Sutanto mendapat reaksiberagam dari publik. Di saat anggarannegara masih terbatas, Sutanto janganterlalu berharap usulannya bisa dikabulkan. Kalau pun anggaran negara cukup,kenaikan hingga 800 persen, dinilaibelum pantas. Bandingkan dengan gajiseorang hakim yunior. Tahun lalu, pemerintah menaikkan gaji hakim yunioryang menyandang gelar sarjana hukum,Rp 4,6 juta sebulan. Memang lumayan,tetapi masih jauh di bawah usulan Sutantountuk gaji seorang tamtama tamatanSLTP.Kata seorang anggota Komisi Kepolisian, gaji polisi berpangkat tamtamamemang masih rendah, tetapi tidaksepatutnya melebihi gaji seorang hakim.Menurut Erwin Indardi, kenaikan 800persen terlalu besar. Memang tidak bisadinafikan, kinerja polisi mendapat sorotannegatif dari publik. Dia membenarkanbahwa kinerja negatif sebagian disebabkan oleh rendahnya penghasilan resmi.Tetapi dia menunjuk pada fakta bahwaperwira tinggi yang menerima suap ketikamemeriksa tersangka pembobol BankBNI, punya penghasilan yang cukup.“Karena itu jika gaji mereka dinaikkan,mereka harus mampu membuktikanpantas menerima kenaikan tersebut,” kataErwin.Karena itu, bila gaji polisi bisa dinaikkan, jajaran kepolisian harus mampumembuktikan bahwa mereka pantasmendapatkan kenaikan tersebut. MemangJenderal Sutanto sudah melakukan pembersihan di dalam tubuh Polri. Tetapi itubelum cukup, publik menuntut yang lebih.Kata Erwin, masyarakat masih menungguapakah langkah-langkah Sutanto hanyagebrakan sesaat, lantas menguap begitusaja. “Kalau polisi mampu membuktikandirinya lebih profesional, masyarakat relamembayar gaji mereka lebih tinggi,” kataErwin seperti dikutip detik.com (23/8).Erwin tidak melihat budaya “86” (katasandi untuk sogokan) di kalangan polisisudah lenyap. Budaya tersebut hanya bisaterkikis dengan pengawasan dari aparatkepolisian sendiri dan pemerintah. Mereka yang terbukti masih melakukanpraktik tersebut mestinya dikenakansanksi. Pengamat kepolisian AdrianusMeliala, kriminalog UI, juga tidak yakinkenaikan gaji secara otomatis melenyapkan budaya “86” di tubuh kepolisian. “Bisaya, bisa tidak. Tapi rasanya tidak bisamemberikan jaminan,” kata Adrianus.Mereka juga sependapat gaji polisi bolehnaik, tetapi mesti diiringi perbaikankinerja.Mantan Kepala Badan Narkotika Nasional, Komjen (Purn) Togar Sianiparmengakui pekerjaan kepolisian rentanbergelimang noda, karena itu personilnyaperlu diawasi secara ketat. Wewenangpolisi begitu luas, tetapi fasilitas dangajinya minim. Oleh karena itu, Polri perlumelakukan reformasi dalam tiga tatanan—struktural, instrumental dankultural. SB, SHSutanto: Gaji polisi hanya cukup untuk biaya hidup sepuluh hari.Bfoto: berindo wilson

