Page 49 - Majalah Berita Indonesia Edisi 21
P. 49
BERITAINDONESIA, 21 September 2006 49BERITA EKONOMIEmirsyah SattarRiwayat Bos“Seulawah Tua”seperti Fokker 27, Twin Otter, dan Cassa 212.“Selain itu akan dioperasikan untuk melayani penerbangan di rute-rute perintis danrute-rute pengumpan,” ujarnya. HTKetika ditarik dari posisi Wapresdir PTBank Danamon, lalu “dikerek” sebagaiDirektur Utama PT (Persero) GarudaIndonesia, setumpuk harapan langsungmembelenggu pria kelahiran 28 Juni 1959 ini.Pengangkatan Emir sebagai orang nomorsatu di Garuda, demikian pula dengan DirutPTJamsostek, menurut anggota DPR DidiekJ. Rachbini, Dradjad H. Wibowo, dan anggotaDPD Marwan Batubara, diduga dilakukanMenneg BUMN Sugiharto saat PresidenSusilo Bambang Yudhoyono sedangberkunjung ke luar negeri.Dalam pernyataan perdananya kepadapers sebagai Dirut, Emir berjanji akanmenyehatkan keuangan Garuda Indonesia.Eh, siapa nyana kalau penyehatan yangdimaksudkannya adalah menjual GarudaIndonesia kepada investor. Padahal siapapuntahu Garuda Indonesia adalah simbolmaskapai penerbangan kebanggaannasional. Garuda adalah satu-satunya flagcarrier Merah Putih di dunia internasional.Naik pesawat Garuda di era tiket murahmemberikan rasa yang berbeda. Terasakansekali kenikmatan dan kenyamanan naikpesawat terbang. Tidak seperti naik pesawatlain, yang hanya mengejar target tiba ditempat tujuan, sehingga dalam penerbanganjarak jauh Medan-Jakarta hanya disuguhisatu gelas air minum plastik. Syukur-syukurbila disertakan sepotong roti biasa. PosisiGaruda haruslah diperbandingkan denganmaskapai besar flag carrier negara-negaralain, sebab harga tiketnya pun tetapdipertahankan tinggi.Emir yang selalu menampakkan senyumramah, beraut wajah layaknya sosok seorangprofesional kharismatik yang penuhintegritas, pernah menjadi Direktur KeuanganGaruda era kepemimpinan Abdulgani,sebelum digeser sebagai Wapresdir BankDanamon sejak 16 Juli 2003.Pada 7 Januari 2006 untuk pertamakaliterbetiklah kabar kalau Garuda Indonesiamembutuhkan suntikan dana 105 juta dollarAS, atau sekitar Rp 1 triliun agar tetap dapatmenjalankan bisnisnya. Dana itudimaksudkan untuk modal kerja, sertamenutupi utang obligasi senilai 56 juta dollarAS yang pada Desember 2005 dinyatakanjatuh tempo dan belum dapat dibayarkan.Permintaan penyertaan modal pemerintah(PMP) sesungguhnya bukan kali ini sajaterjadi pada Garuda. Pada era PresidenHabibie, misalnya, Pemerintah pernahmengambil-alih pelunasan utang penyewaanpesawat Boeing 737 Garuda senilai 1,8 miliardollar AS, kepada Bank Exim AmerikaSerikat. Pemerintah menyicilnya selamadelapan tahun dan dianggap sebagai PMP.Dengan PMP itu, ketika pucuk pimpinanGaruda di tangan Robby Djohan digemborgemborkanlah Garuda telah direstrukturisasisecara mendasar. Kantor pusat dipindahkanke Cengkareng demi berhemat danmemudahkan pengawasan operasional.Robby Djohan memimpin delapan bulansaja. Abdul Gani lalu tampil menggantikan,dan pada November 1998 ia mengumumkanpada semester pertama 1999 Garuda sudahmembukukan laba kotor Rp 507 miliar.Setahun penuh 1999 Garuda memetikkeuntungan Rp 497 miliar. Keuntungan inimeningkat menjadi Rp 631 miliar pada 2000,dan Rp 262 miliar pada tahun 2001. Tahuntahun berikutnya masih diumumkan kinerjaGaruda makin membaik.Kisah sukses era Robby-Gani sepertinyahanya dongeng saja. Sebab di eraselanjutnya Garuda terbenam lagi ke lumpurutang yang lebih dalam sampai-sampai takmemiliki cukup uang untuk melunasi utangobligasi. Padahal Emirsyah Sattar, yangsekarang memimpin Garuda, dikenal sebagaibankir kawakan dan sebelumnya pernahmerasakan nikmatnya sebagai DirekturKeuangan Garuda. Tentu Emir sangat tahududuk persoalan yang sesungguhnya tentangseluruh hasil restrukturisasi yang pernahdibangga-banggakan Garuda pada eraRobby-Gani.Garuda Indonesia saat ini sepertinyamenjadi tak berbeda jauh dengan kisah awalpendiriannya pada dekade 1940-an, saatIndonesia masih berperang melawanBelanda. Tanggal 29 Januari 1949 dianggapsebagai hari jadi maskapai ini, yang awalnyadiberi nama Indonesian Airways.Pesawat pertama yang diterbangkan jenisDC-3 bernama Seulawah atau Gunung Emas,dengan dana pembelian pesawat hasilurunan sumbangan masyarakat Aceh.Seulawah dibeli seharga 120.000 dolarmalaya atau setara 20 kg emas. Maskapai initetap mendukung Indonesia sampai revolusiterhadap Belanda berakhir. Garuda Indonesiasaat ini seperti “Seulawah Tua” saja yangselalu kesulitan melakukan perubahan yanglebih baik. HTfoto: berindo wilson

