Page 51 - Majalah Berita Indonesia Edisi 39
P. 51


                                    BERITAINDONESIA, 07 Juni 2007 51BERITA MEDIAdiperdagangkan di bursa saham Kanada, AS dan Inggris.Melebihi BloombergDengan lahirnya bayi raksasa Thomson-Reuters Plc, perusahaan baru itu diyakinimampu menyaingi bahkanmelampaui Bloomberg yangterakhir masih menjadi penguasa pasar berita perputaran kapital dunia. Selama iniThomson, Reuters, danBloomberg, bersaing kerasdalam penyajian berita dandata finansial pada perdagangan saham, mata uang, danobligasi bagi perbankan, pedagang, serta pialang. Tapi sebelumnya, Reuters juga sempatmenjadi pemimpin pasar selama bertahun-tahun sebelumBloomberg mengambil alihposisinya.Menurut data yang dirilisApril lalu, Bloomberg, perusahaan milik Wali Kota NewYork Michael Bloomberg itudiperkirakan menguasai 33%pangsa pasar. Sedangkan Reuters menguasai 23% danThomson 11% pangsa pasar.Tapi pasca merger, posisi penguasaan pasar pasti membawa perubahan. Seperti dikatakan Justin Urquhart Stewart, Direktur 7 InvestmentManagement, “Bagi Thomson,kesepakatan ini membawamereka pada tingkat yangberbeda.”Bahkan, masih berdasarkandata tersebut, tidak berlebihankalau disebut Thomson-Reuters Plc akan melampauiBloomberg. Keyakinan itu jugadiutarakan pihak Reuters sendiri. “Kami yakin kombinasiini mampu menjadi pemimpinglobal dalam pasar informasibusiness to business,” demikian pernyataan resmi Reuters, seperti dikutip BBCNews.Murdoch Incar DJSiapa yang menguasai informasi, ia akan menguasai dunia. Jargon itu sepertinya sedang menguasai pemikiransebagian raja media. Saat ini,mereka seolah berlomba memperluas sayap bisnisnya. JikaReuters di Inggris, sudah diakuisisi oleh Thomson Corp.Dow Jones di Amerika Serikat(AS) juga sedang diincar olehraja media Rupert Murdoch,pemilik entitas bisnis NewsCorp. Untuk mengakuisisiDow Jones, Rupert Murdochdikabarkan telah menyediakanduit US$ 5 miliar. Tapi, berbeda dengan kasus Reuters, yangakuisisinya berjalan mulus.News Corp mengalami kesulitan mengakuisisi Dow Jones.Sebelumnya, akhir Aprillalu, News Corp resmi melayangkan surat tawaran kepadaDow Jones, korporasi mediayang menjadi induk dari TheWall Street Journal, DowJones wire services, MarketWatch, Factiva, Wall StreetJournal Asia dan Far EasternEconomic Review. Berita akandiakuisisinya Dow Jones dengan harga yang cukup tinggi,senilai US$ 60 per lembarsaham, sempat membuat harga saham Dow Jones, naikhingga 55%.Bila akuisisi berlangsungmulus, rencana Murdochmemperkuat jajaran bisnisberita kabelnya akan tercapai.Langkah itu juga sangat mendukung rencana News Corp,dalam meluncurkan saluranberita bisnis melalui Fox TVpada akhir tahun ini. Akuisisijuga nantinya bisa memperluas jangkauan News Corp diAsia, tempat Dow Jones menerbitkan harian Wall StreetJournal Asia dan majalah FarEastern Economic Review.Selama ini, News Corp memang sudah menjejakkan kakidi Asia lewat jaringan Star TVyang bermarkas di Hongkong.Tapi upaya Star TV menembusChina selaku pasar media dengan pertumbuhan luar biasa,ternyata tak sesuai harapanMurdoch. Satu lagi yang membuat Murdoch begitu berhasrat mengakuisisi Dow Jones,karena kekagumannya terhadap The Wall Street Journal, salah satu aset Dow Jones.Melalui saluran Fox News,Murdoch menyatakan, “Menurut kami, selain merupakanyang terbesar di Amerika,koran itu juga salah satu yangterbesar di dunia.”Keinginan pemilik NewYork Post di AS, The Sun, sertaThe Times di Inggris ini, untukberjualan berita secara onlinememang cukup tinggi. Tahun2005 saja misalnya, untukmembeli MySpace saja Murdoch rela mengeluarkan hingga US$ 580 juta. Maka untukDow Jones pun Murdoch takberbasa-basi. Dia siap mengeluarkan US$ 5 miliar atauRp 45 triliun. Keberaniannyaitu memang cukup beralasan.The Wall Street Journal, salahsatu terbitan Dow Jones telahberhasil memantapkan dirisebagai media yang berkecimpung di bidang pelayananberita secara online, di saatkoran-koran terkemuka dunialainnya masih berupaya beralih ke era digital.Dengan yakin Murdoch mengatakan, bila tawarannya diterima, The Wall Street Journal dan Barron’s yang jugamilik Dow Jones bisa lebihberkembang. Pihak direksitelah meminta direksi untukmenolak tawaran pengusahaasal Australia itu. James H.Ottaway Jr, salah seorangpemegang saham besar DowJones juga tidak setuju denganakuisisi itu. “Penjualan saham(Dow Jones) bisa mengganggukualitas dan integritas beritaseluruh media milik Dow Jones,” kata James. Hal itu menurutnya karena Rupert Murdoch selama ini selalu beratsebelah dalam menyampaikanpendapatnya, baik secara pribadi, politik, maupun bisnis,melalui koran-koran dan saluran-saluran televisinya.“Kita lihat itu setiap hari diNew York Post yang secarareguler memberitakan dukungan terhadap teman-temannya, serta menyerang orang yang tidak disukainya,”ujar James.Walaupun demikian, bukanberarti peluang Murdoch sudah pupus. Menurut sumberdari jajaran direksi Dow Jones,seperti dikutip majalah Trust(14-20/5), walaupun tidaksemua direksi Dow Jones antusias dengan iming-imingyang disodorkan Murdoch,tapi berat juga menolak tawaran yang sungguh menarikitu. Apalagi Chief ExecutiveDow Jones, Rich Zannino,tampaknya sudah kehabisanakal untuk mendongkrak nilaisaham Dow Jones. „ MS, SHDow Jones menyatakan akanmempertimbangkan tawarantersebut, tapi mereka belummemberi jaminan bahwa kesepakatan bakal tercapai. Apalagipeminat Dow Jones, salah satuikon perusahaan media ASberusia 125 tahun itu bukancuma Murdoch saja. GeneralElectric yang memiliki jaringantelevisi CNBC dan harian Washington Post pun juga telahmenyatakan minatnya.Keluarga Bancroft selakupemilik saham terbesar DowJones yang menyandang seperempat dari total sahamDow Jones dengan hak suarasebanyak 62% disebut-sebutfoto: investorsport-tvMurdoch berhasrat mengakuisisi Dow Jones karena kekagumannyaterhadap The Wall Street Journal.
                                
   45   46   47   48   49   50   51   52   53   54   55